TechnologyIndonesia.id – Kecelakaan di perlintasan kereta api kerap dipicu oleh matinya kendaraan yang melintas di atas rel. Kendaraan yang tiba-tiba berhenti di jalur kereta sering kali berujung fatal karena tertabrak kereta yang melaju.
Contohnya, kecelakaan yang melibatkan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur pada April 2026. Insiden ini disebut sebagai efek domino dari kecelakaan sebelumnya, yakni tabrakan antara KRL dengan taksi listrik yang mogok di perlintasan sebidang tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur.
Dalam berbagai perbincangan publik, muncul dugaan bahwa kendaraan mogok di rel disebabkan oleh paparan radiasi atau gelombang elektromagnetik dari kereta api. Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Eka Rakhman Priandana menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak didukung oleh bukti ilmiah.
Berdasarkan hasil penelitian, medan magnet di sekitar rel saat kereta melintas berada pada kisaran rata-rata 47,73 mikrotesla (µT), dengan nilai terendah 22,6 µT dan tertinggi 82,06 µT. Angka ini masih tergolong sangat rendah dan sebanding dengan medan magnet bumi yang setiap hari dihadapi manusia.
“Selama sistem kendaraan lolos uji imunitas radiasi medan listrik ISO 11451 dan uji imunitas emisi medan magnet ISO 11452, kendaraan tidak akan mati dengan emisi medan sebesar itu,” jelas Eka dalam Media Lounge Discussion (MELODI) di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Ia menjelaskan, gangguan pada sistem Electronic Control Unit (ECU) kendaraan baru berpotensi terjadi apabila medan magnet mencapai lebih dari 2.000 µT, jauh di atas kondisi normal di sekitar rel kereta api. Dengan demikian, kecil kemungkinan radiasi elektromagnetik menjadi penyebab kendaraan tiba-tiba mati di rel.
Menurut Eka, ada tiga penyebab mengapa kendaraan bisa mati mendadak saat melewati rel kereta api. Pertama, faktor psikologis dari pengemudi saat melintasi rel kereta atau panic stall. Kondisi ini terjadi saat pengemudi salah menginjak gas karena panik dan melihat dari kejauhan ada kereta yang akan melintas.
Penyebab kedua adalah kondisi rel yang tidak rata menyebabkan guncangan bisa menganggu sistem perkabelan sehingga terjadi kegagalan fungsi. Penyebab terakhir, bisa jadi karena mobil tersebut mengalami anomali alias ‘kurang beruntung’, meskipun sudah melewati quality control (QC).
Sistem Kelistrikan Jadi Pilar Utama Keselamatan
Menurut Eka faktor yang lebih krusial dalam keselamatan perkeretaapian justru terletak pada sistem kelistrikan. Sistem persinyalan kereta sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil. Untuk itu, penggunaan Uninterruptible Power Supply (UPS) menjadi sangat penting agar sistem palang pintu dan sirine tetap tetap berfungsi optimal saat terjadi gangguan listrik.
Pada sistem Kereta Rel Listrik (KRL), pemeriksaan terhadap ketinggian dan ketegangan kabel listrik aliran atas (Overhead Electrification) menjadi faktor penting untuk menjamin keselamatan operasional. Di sisi lain, resistansi grounding rel juga harus dijaga di bawah 1 Ohm agar emisi medan magnet dan medan listrik masih dalam batas aman.
Untuk memperkuat keselamatan perlintasan, Eka mendorong penguatan sistem persinyalan kereta berbasis kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Selanjunya, penambahan sensor seperti axle counter atau LIDAR untuk memperkuat sistem pengaman di perlintasan sebidang. Selain itu penutupan akses perlintasan tanpa pengamanan, serta penyediaan jalur alternatif yang lebih aman.
Modernisasi atau otomatisasi penuh sistem pengaman perlintasan sebidang adalah suatu keharusan untuk mengurangi insiden. “Ke depan, inovasi teknologi kelistrikan yang paling dibutuhkan adalah sistem persinyalan dan pengamanan perlintasan berbasis AI yang mampu bekerja otomatis,” tegasnya.
Benarkah Kendaraan Mogok di Rel Kereta Dipicu Medan Magnet? Ini Penjelasan Ilmiah dari BRIN
