BRIN Olah Jeruk Gamindo B Jadi Fruit Leather Kaya Vitamin C

TechnologyIndonesia.id – Upaya pengembangan pangan berbasis komoditas lokal terus digencarkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Salah satu inovasi terbarunya adalah pengolahan jeruk Gamindo B menjadi lembaran buah (fruit leather), sebuah produk pangan fungsional tinggi vitamin C yang praktis dan bernutrisi tinggi.

Inovasi ini dikembangkan oleh Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN di Yogyakarta sebagai solusi untuk meningkatkan nilai tambah hortikultura sekaligus mengatasi keterbatasan umur simpan buah segar.

Jeruk Gamindo B merupakan varietas unggul nasional dari jenis jeruk Nagami (kumquat) yang telah dilepas oleh Kementerian Pertanian RI. Buah ini memiliki karakteristik unik: ukuran kecil, kulit yang bisa dimakan, serta rasa asam-manis yang khas.

Tak hanya itu, jeruk ini juga kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, pektin, minyak atsiri, serta vitamin C. Kandungan tersebut menjadikannya sangat potensial sebagai bahan baku pangan fungsional yang menyehatkan.

Namun, pemanfaatan jeruk Gamindo B selama ini masih terbatas pada konsumsi segar dan olahan sederhana dengan nilai tambah rendah. Selain itu, kandungan air yang tinggi menyebabkan umur simpan buah relatif pendek, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian pascapanen.
 
Menjawab tantangan tersebut, PRTPP BRIN menghadirkan inovasi lembaran jeruk Gamindo B yang diolah dari seluruh bagian buah (kecuali biji). Produk ini tidak hanya memperpanjang masa simpan, tetapi juga menghasilkan tekstur elastis, homogen, serta rasa yang lebih disukai konsumen.
 
“Invensi ini dirancang untuk mengoptimalkan pemanfaatan jeruk Gamindo B secara utuh sekaligus menghasilkan produk pangan ringan yang praktis, bergizi, dan bernilai ekonomi lebih tinggi,” ujar peneliti PRTPP BRIN, Imro’ah Ikarini melalui siaran pers pada Senin (13/4/2026).
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaran jeruk Gamindo B mengandung vitamin C sebesar 83,16 mg per 100 gram, mendekati kandungan vitamin C buah segarnya.

Selain itu, produk ini memiliki aktivitas antioksidan sebesar 51,72% dan kandungan serat pangan kasar sebesar 1,77%. Kandungan tersebut menjadikan produk ini sebagai pangan fungsional yang berpotensi membantu menjaga kesehatan dan menangkal radikal bebas.
 
Proses produksi dilakukan melalui tahapan sortasi, pencucian, perendaman untuk menjaga warna, penghancuran menjadi puree, pencampuran dengan gula dan karagenan, serta proses pemanasan dan pengeringan menggunakan dehydrator. Formulasi yang dikembangkan mampu menghasilkan produk dengan kadar air rendah sehingga daya simpan lebih panjang.

Keunggulan lainnya adalah penggunaan bahan baku lokal serta teknologi yang relatif sederhana, sehingga berpotensi diadopsi oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
 
Inovasi ini membuka peluang hilirisasi riset BRIN menjadi produk komersial yang dapat meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat.

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author