Teknologi Baru BRIN Tingkatkan Kualitas Minyak Atsiri

TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat perannya dalam mendorong hilirisasi komoditas unggulan nasional. Salah satu terobosan penting yang kini dikembangkan adalah teknologi pemurnian minyak atsiri, yang berpotensi meningkatkan nilai tambah industri kosmetik dan farmasi di Indonesia.

Inovasi ini menjadi langkah strategis mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen sekaligus eksportir minyak atsiri terbesar di dunia. Lebih dari 40 jenis minyak atsiri asal Indonesia telah menembus pasar global. Namun sayangnya, sebagian besar masih diekspor dalam bentuk mentah (crude), sehingga nilai ekonominya belum optimal.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Egi Agustian mengungkapkan bahwa keterbatasan teknologi pengolahan dalam negeri menjadi salah satu penyebab utama rendahnya nilai tambah minyak atsiri.

Akibatnya, Indonesia justru mengimpor kembali produk turunan minyak atsiri dalam bentuk bahan baku kosmetik dan farmasi dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam rantai nilai industri nasional.

“Nilai minyak atsiri bisa meningkat hingga sepuluh kali lipat jika diolah dari bentuk crude menjadi bahan baku kosmetik dengan kemurnian tinggi,” ucap Egi pada Kamis (9/4/2026).

Ia mencontohkan minyak nilam asal Sumatera yang berpotensi memiliki nilai jual lebih tinggi apabila kadar patchouli alcohol ditingkatkan dan kandungan logam diminimalkan.

Potensi serupa juga terdapat pada minyak serai wangi dari Jawa serta minyak pala dari Ambon yang dapat diolah menjadi senyawa turunan bernilai tinggi.

Pemurnian Minyak Atsiri

Menjawab tantangan tersebut, BRIN mengembangkan berbagai teknologi mutakhir dalam proses pemurnian minyak atsiri yang memanfaatkan sejumlah teknologi mutakhir, seperti distilasi fraksinasi vakum, ekstraksi CO₂ superkritik, distilasi molekuler, hingga teknologi berbasis ultrasonik.

Pendekatan ini memungkinkan pemisahan senyawa aktif secara lebih spesifik sehingga menghasilkan produk dengan kemurnian tinggi, stabil, dan sesuai kebutuhan industri.

Salah satu hasil riset yang telah dicapai adalah pemurnian minyak serai wangi menjadi senyawa sitronelal dengan tingkat kemurnian di atas 90 persen.

Senyawa tersebut kemudian dapat diolah lebih lanjut menjadi isopulegol yang memiliki nilai tambah lebih tinggi serta karakter aroma yang lebih halus.

Selain menghasilkan senyawa murni, tim riset BRIN juga mengembangkan berbagai produk formulasi berbasis turunan minyak atsiri, seperti parfum padat (solid perfume), masker, losion, hingga cairan pembersih tangan (hand sanitizer).

Egi berharap inovasi teknologi pemurnian ini dapat segera diadopsi dalam skala industri. “Penerapan teknologi tersebut tidak hanya meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia,” sebutnya.

Dalam proses riset dan pengembangan, BRIN menjalin kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi di dalam negeri, antara lain Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Universitas Brawijaya.

Kerja sama internasional juga dilakukan dengan mitra di Kamerun, serta kolaborasi dengan sektor industri seperti PT Nano Herbaltama Internasional dan PT Aromatik Teknologi Indonesia.

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author