Tingkatkan Keselamatan, BRIN Kembangkan Panel Perlintasan Kereta Api Berbasis Karet Alam

TechnologyIndonesia.id – Keselamatan di perlintasan sebidang kereta api masih menjadi tantangan besar dalam sistem transportasi nasional. Tidak sedikit kecelakaan terjadi akibat kendaraan roda dua maupun roda empat yang tergelincir, slip, atau bahkan mogok saat melintasi rel. Kondisi ini mendorong perlunya inovasi teknologi yang tidak hanya meningkatkan keselamatan, tetapi juga mampu memanfaatkan sumber daya lokal Indonesia.

Menjawab kebutuhan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Komposit dan Biomaterial, Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material, mengembangkan panel perlintasan berbasis karet alam. Teknologi ini dirancang khusus untuk memberikan daya cengkeram lebih baik pada permukaan perlintasan, sehingga risiko kendaraan terpeleset dapat diminimalkan.

Perekayasa Ahli Madya BRIN sekaligus Ketua Kelompok Riset Karet Teknologi Tinggi, Ade Soleh Hidayat menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Berdasarkan berbagai data riset transportasi, perlintasan sebidang menjadi salah satu titik rawan kecelakaan, terutama saat kondisi jalan licin atau kendaraan kehilangan traksi saat melewati rel.

“Berdasarkan data riset transportasi, faktor perlintasan sebidang menjadi salah satu sumber kecelakaan karena pengendara sering terpeleset. Sebagai solusi, BRIN mengembangkan produk dari karet alam untuk meminimalkan kejadian tersebut,” kata Ade dikutip dari laman brin.go.id

Secara teknis, teknologi ini telah matang dan terlindungi secara hukum. Ia mengatakan bahwa BRIN telah mengantongi status granted dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) untuk desain industri. Namun, transisi dari skala laboratorium menuju produksi massal membutuhkan kesiapan serius sektor industri manufaktur nasional.

Menurut Ade, keterlibatan industri menjadi faktor penting agar teknologi tersebut dapat diterapkan secara lebih luas. Ia menekankan pentingnya peran industri dalam negeri untuk mampu memproduksi panel sesuai dengan standar dimensi rel yang beragam di berbagai wilayah Indonesia.

“Secara teknologi kita sudah menguasai. Namun, diperlukan dukungan industri karet nasional, khususnya dalam proses manufaktur produk tersebut,” ujarnya. 

Hilirisasi teknologi ini memerlukan payung regulasi yang kuat dari pemerintah, terutama dari kementerian terkait. Ade mengatakan, mengingat wewenang pengelolaan rel dan jalan raya berada di bawah otoritas negara, dukungan kebijakan menjadi kunci utama implementasi di lapangan.

“Setelah kesiapan industri terpenuhi, penerapan teknologi ini juga memerlukan dukungan kebijakan dari pemerintah. Hal tersebut berkaitan dengan kewenangan pengelolaan infrastruktur jalan raya dan jalur perkeretaapian yang berada pada kementerian dan lembaga terkait,” ia menegaskan.

Dukungan kebijakan ini tidak hanya akan meningkatkan standar keselamatan transportasi nasional, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi petani karet lokal. Dengan menyerap produksi karet alam domestik untuk kebutuhan infrastruktur strategis, Indonesia dapat memperkuat kedaulatan industri sekaligus mengurangi ketergantungan pada material sintetis impor. (Sumber: brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author