TechnologyIndonesia.id – Tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan truk masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Berdasarkan data Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri periode 2017–2021, truk tercatat sebagai penyumbang kecelakaan lalu lintas terbesar kedua setelah sepeda motor.
Kondisi ini mendorong periset Kelompok Riset Keselamatan Transportasi, Pusat Riset Teknologi Transportasi (PRTT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan laboratorium Safety and Truck Driving Simulator untuk mendukung riset keselamatan transportasi.
Pengembangan laboratorium tersebut mendapat respons positif dari Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI), organisasi profesi yang menghimpun akademisi, peneliti, dan praktisi ergonomi. Perwakilan PEI mengunjungi Kawasan Sains dan Teknologi BJ Habibie pada Senin (13/5/2026) untuk menjajaki peluang kolaborasi riset sekaligus meninjau langsung fasilitas simulator milik BRIN.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Ludfi Pratiwi Bowo, menjelaskan bahwa simulator yang saat ini dimiliki BRIN masih berada pada kategori low fidelity. Artinya, simulator tersebut belum sepenuhnya mereplikasi pengalaman berkendara nyata secara penuh.
“Simulator yang ada di BRIN saat ini masih berbentuk statis dan belum dilengkapi sistem hidrolik untuk menghasilkan bumping motion,” papar Ludfi.
Meski demikian, simulator tersebut telah mengintegrasikan komponen asli truk sebagai antarmuka kontrol guna menjaga validitas ergonomi dan menghasilkan tactile feedback yang presisi. Sistem visualisasi juga dirancang menyerupai kondisi jalan di Indonesia menggunakan konfigurasi triple projector multiplanar sehingga menghadirkan pengalaman berkendara yang lebih imersif.
Gunakan Euro Truck Simulator 2 dengan Jalur Indonesia
Menariknya, simulator truk ini memanfaatkan aplikasi Euro Truck Simulator 2 (ETS2) yang dimodifikasi dengan fokus trayek Indonesia. Jalur yang dapat disimulasikan membentang dari Bengkulu hingga Blora, termasuk koridor Trans Jawa yang menjadi tulang punggung logistik nasional.
“Rute seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Tegal hingga Wonosobo dapat disimulasikan sehingga eksperimen performa pengemudi lebih mendekati kondisi nyata di Indonesia,” jelasnya.
Simulator ini juga memungkinkan pengaturan berbagai skenario jalan, mulai dari kondisi lalu lintas lancar hingga macet total. Waktu berkendara dapat diatur dalam format 24 jam, sehingga pengujian bisa dilakukan pada pagi, siang, sore, atau malam hari. Bahkan, efek cuaca seperti hujan juga dapat ditampilkan secara real-time.
Ludfi mengungkapkan simulator high fidelity saat ini masih terbatas dimiliki perguruan tinggi luar negeri, salah satunya Tongji University di China. Namun simulator tersebut baru digunakan untuk kendaraan penumpang sehingga pihak kampus tertarik bekerja sama dengan BRIN dalam pengembangan simulator kendaraan truk.
Saat ini BRIN bekerja sama dengan BINUS University dan Tongji University untuk melakukan riset pengukuran kelelahan pengemudi truk. Penelitian dilakukan menggunakan simulator BRIN dengan melibatkan 30–40 pengemudi truk berpengalaman di jalur logistik Pulau Jawa.
Kepala PRTT BRIN, Aam Muharam, berharap kolaborasi yang telah terjalin dapat terus diperluas, khususnya dalam pengembangan riset keselamatan transportasi dan ergonomi.
Fokus Riset pada Kelelahan Pengemudi Truk
Dosen BINUS University sekaligus anggota Technical Committee Transport Ergonomics PEI, Rida Zuraida, mengatakan penelitian tersebut didanai hibah penelitian internasional BINUS dan telah memasuki tahap persiapan sejak Februari 2026.
Simulasi direncanakan mulai berlangsung pada Juni 2026 dengan proses pengambilan data selama satu hingga dua bulan. “Biasanya partisipan penelitian di kampus adalah mahasiswa, tetapi kali ini kami ingin menggunakan pengemudi truk sungguhan dengan kondisi yang benar-benar menyerupai situasi di jalan,” ujarnya.
Rida menjelaskan penelitian yang dilakukan berfokus pada penentuan curve model kelelahan pengemudi untuk mengetahui titik awal munculnya kelelahan saat berkendara. Penelitian memanfaatkan pengukuran heart rate, EEG emotif, serta sejumlah kuesioner guna memvalidasi durasi ideal istirahat bagi pengemudi truk.
Penelitian tersebut juga mengkaji relevansi penerapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang mewajibkan pengemudi beristirahat setelah mengemudi selama empat jam berturut-turut.
“Targetnya, ketika kelelahan ringan mulai terdeteksi, tindakan pencegahan bisa dilakukan lebih cepat sebelum muncul tanda-tanda fisik yang membahayakan pengemudi,” jelas Rida. (brin.go.id)
Tekan Angka Kecelakaan, BRIN Kembangkan Simulator Truk dengan Rute Jalan Indonesia
