Panen Ikan Lele Bioflok di Bandung Barat Hadirkan Peluang Usaha Baru

TechnologyIndonesia.id – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat sektor perikanan air tawar melalui pengembangan budidaya ikan tematik berbasis sistem bioflok. Program ini dinilai menjadi solusi budidaya yang produktif, efisien, sekaligus ramah lingkungan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Keberhasilan program tersebut terlihat dari panen ikan lele bioflok di Desa Mekarsari, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Panen ini menjadi bukti nyata bahwa budidaya bioflok tidak hanya menghadirkan peluang usaha baru, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi lokal berbasis perikanan budi daya.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb Haeru Rahayu, menjelaskan bahwa sistem bioflok bukan sekadar teknologi budidaya modern, melainkan inovasi yang mampu menjawab tantangan efisiensi usaha perikanan saat ini.

“Air hanya dimasukkan di awal hingga masa panen, penambahan dilakukan kalau memang diperlukan saja. Selain hemat pakan, sistem ini juga tidak butuh lahan luas dan efisien dalam penggunaan air,” ujar Dirjen Tb Haeru Rahayu di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Menurutnya, program budidaya bioflok menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Sepanjang tahun lalu, KKP telah mengembangkan budidaya bioflok di 100 titik yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Selain itu, penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) menjadi kunci dalam menghasilkan produk perikanan yang berkualitas, sehat, aman dikonsumsi, serta memiliki daya saing di pasar.

“Program ini kami titipkan sebagai modal kerja awal masyarakat. Harapannya bisa terus berkembang dan bergulir secara mandiri untuk mendukung peningkatan ekonomi masyarakat serta mendukung program Makan Bergizi Gratis,” tambah Dirjen Tb Haeru Rahayu. 

Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv mengapresiasi perkembangan budidaya bioflok yang dinilai mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat desa. Ia mendorong masyarakat agar hasil panen dimanfaatkan kembali untuk pengembangan usaha agar semakin mandiri secara ekonomi.

“Mudah-mudahan hasilnya bisa berkah dan dipakai kembali untuk pengembangan usaha. Kalau bisa ke depan masyarakat punya bioflok mandiri dan usahanya terus berkembang,” ujar Rajiv. 

Sementara itu, Ketua Unit Perikanan, Peternakan, dan Pangan KDMP Mekarsari, Elpan, mengaku budidaya bioflok memberikan harapan baru bagi masyarakat sekitar Waduk Saguling yang sebelumnya banyak bergantung pada Keramba Jaring Apung (KJA).

“Dengan hadirnya bioflok ini menjadi solusi untuk masyarakat. Risiko kematian ikan lebih rendah dan pengelolaannya lebih bisa dikontrol,” jelasnya. Ke depan, pihaknya akan mengembangkan produk olahan seperti abon, filet, dan kerupuk agar pemberdayaan masyarakat semakin berkembang.

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author