TechnologyIndonesia.id – Potensi sumber daya alam Indonesia kembali menunjukkan peran strategisnya dalam mendukung industri masa depan. Kali ini, perhatian tertuju pada cadangan silika di Belitung Timur yang dinilai mampu menjadi tulang punggung pengembangan industri berbasis teknologi tinggi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa silika di wilayah ini memiliki potensi besar untuk mendukung program hilirisasi mineral nasional. Bahkan, material ini kini tak lagi dipandang sekadar bahan bangunan, melainkan komponen penting dalam berbagai industri modern.
Perekayasa Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Armin Tampubolon menjelaskan bahwa silika memainkan peran vital dalam transisi energi global.
“Silika tidak lagi sekadar bahan bangunan, tetapi telah menjadi material kunci dalam industri teknologi tinggi seperti kaca, semikonduktor, dan panel surya,” ujarnya dalam webinar DIGDAYA#21, Selasa (21/4/2026).
Sejak 2023, pemerintah telah menetapkan silika sebagai mineral kritis. Dengan potensi mencapai lebih dari dua miliar ton, silika membuka peluang besar untuk pengembangan industri berbasis teknologi di dalam negeri.
Secara geologi, wilayah Bangka Belitung, termasuk Belitung Timur, merupakan bagian dari Southeast Asian Tin Belt, yang dikenal sebagai salah satu provinsi geologi penting untuk mineral strategis.
Armin mengungkapkan pembentukan timah di wilayah ini berkaitan erat dengan mineral induk yang juga mengandung silika.
“Silika umumnya terdapat pada batuan granit tipe S dan metasedimen. Di Belitung Timur, geologi lokal tersusun dari Granit Tanjung Pandan, Metasedimen Kelapa Kampit, serta zona mineralisasi timah,” jelasnya.
Menariknya, hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik silika di wilayah tersebut menunjukkan kandungan tinggi, bahkan mencapai lebih dari 98 persen pada beberapa lokasi. Namun, masih terdapat pengotor (impuritas) seperti ilmenit, zirkon, dan mineral lainnya yang perlu dipisahkan melalui proses pengolahan lanjutan.
Secara tekstur, butiran silika umumnya berbentuk subangular hingga subround dengan ukuran berkisar 50–150 mikron. Karakteristik ini menunjukkan tingkat transportasi material yang tidak terlalu jauh dari batuan induknya. Hal ini berpengaruh terhadap kualitas dan metode pengolahan yang digunakan.
Dalam proses pengolahan, BRIN bersama mitra industri terus mengembangkan metode peningkatan kadar silika melalui kombinasi separasi fisik dan proses kimia (leaching). Metode ini menggunakan beberapa jenis larutan asam seperti HCl, H₂SO₄, dan asam oksalat, baik secara simultan maupun sekuensial, untuk mengurangi kandungan pengotor.
“Hasil pengolahan saat ini mampu meningkatkan kadar silika dari sekitar 90 persen menjadi lebih dari 96 persen. Ke depan, kami menargetkan dapat mencapai tingkat kemurnian di atas 99 persen sebagai high purity silica,” ungkap Armin.
Menurutnya, faktor geologi sangat memengaruhi kualitas endapan silika. Endapan di wilayah utara cenderung memiliki impuritas lebih tinggi, sementara wilayah selatan yang berada di lingkungan pesisir mengalami proses peningkatan kualitas alami (natural upgrading).
Armin optimistis pengembangan silika sebagai bahan baku strategis dapat memperkuat industri hilir nasional, sekaligus mendorong kemandirian teknologi dan energi di Indonesia. (Sumber: brin.go.id)
BRIN Ungkap Potensi Silika di Belitung Timur, Material Kunci Industri Modern
