TechnologyIndonesia.id – Di tengah meningkatnya ancaman kebocoran data dan penyalahgunaan informasi digital, kebutuhan akan teknologi keamanan siber yang lebih canggih menjadi semakin mendesak. Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi digital watermarking yang mampu melindungi keaslian, kepemilikan, dan integritas data digital tanpa mengubah tampilan aslinya.
Inovasi ini menjadi salah satu fokus riset keamanan data yang dikembangkan oleh para peneliti BRIN untuk menghadapi berbagai risiko di era transformasi digital. Teknologi watermarking dinilai mampu memberikan lapisan perlindungan tambahan terhadap data yang semakin mudah disalin, dimodifikasi, dan disebarluaskan tanpa izin.
Peneliti Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber BRIN, Didi Rosiyadi, menjelaskan bahwa digital watermarking merupakan salah satu solusi yang dapat membantu menjaga keamanan informasi di berbagai sektor.
“Teknologi watermarking menjadi salah satu solusi menjaga integritas dan keamanan informasi,” kata Didi, dalam kegiatan kunjungan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika, di BRIN Bandung, Kamis (4/6/2026).
Apa Itu Digital Watermarking?
Digital watermarking merupakan teknik penyisipan informasi tersembunyi ke dalam data digital tanpa mengubah tampilan aslinya secara kasat mata. Teknologi ini memungkinkan sebuah data, baik berupa teks, gambar, maupun media digital lainnya, memiliki identitas khusus yang dapat digunakan untuk membuktikan keaslian serta kepemilikan.
Salah satu metode yang digunakan dalam riset ini adalah zero-width unicode watermarking, yaitu teknik penyisipan karakter tak terlihat yang tidak memengaruhi struktur maupun tampilan teks.
Menurut Didi, digital watermarking memungkinkan untuk menyisipkan identitas pada data tanpa merusak struktur aslinya. Sehingga, keaslian dan kepemilikan tetap dapat dibuktikan.
“Teknologi ini menjadi sangat relevan ketika data digital semakin mudah disalin dan disebarluaskan tanpa kontrol yang memadai,” tuturnya.
Tidak hanya diterapkan pada data teks, teknologi watermarking juga dikembangkan untuk citra digital menggunakan metode discrete cosine transform (DCT). Metode ini memungkinkan penyisipan watermark ke dalam gambar tanpa mengurangi kualitas visual secara signifikan.
Dengan pendekatan ini, watermark tetap tersembunyi namun dapat dideteksi ketika diperlukan. Misalnya, dalam proses verifikasi keaslian data atau penelusuran sumber kebocoran. Teknologi ini membuka peluang integrasi dengan sistem keamanan lain seperti enkripsi dan blockchain.
“Kombinasi berbagai teknologi tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem perlindungan data yang lebih komprehensif, mulai dari proses penyimpanan, distribusi, hingga verifikasi informasi digital,” ujarnya.
Pentingnya Keamanan Data
Riset ini menjadi bagian dari upaya BRIN meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan data di kalangan akademisi maupun masyarakat umum. Dengan semakin berkembangnya ekosistem digital, kebutuhan terhadap teknologi yang mampu melindungi data menjadi semakin krusial dan tidak dapat diabaikan.
Didi berharap hasil riset digital watermarking dapat dimanfaatkan di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, industri kreatif, hingga layanan publik digital.
“Teknologi ini diharapkan menjadi solusi keamanan siber yang tidak hanya dikembangkan di tingkat penelitian, tetapi diterapkan secara nyata untuk melindungi data dan karya digital dari berbagai ancaman,” tutupnya. (Sumber: brin.go.id, ilustrasi: ChatGPT)
BRIN Kembangkan Digital Watermarking untuk Cegah Kebocoran dan Manipulasi Data Digital
