TechnologyIndonesia.id – Integritas dan etika riset menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan publik terhadap dunia penelitian. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menegaskan bahwa setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) dan periset harus menjunjung tinggi standar etika dalam menjalankan tugas akademik maupun penelitian.
Menurut Arif, integritas merupakan fondasi yang menentukan reputasi, kredibilitas, dan kepercayaan terhadap individu maupun institusi. Karena itu, seluruh karya ilmiah dan capaian riset harus dihasilkan berdasarkan kaidah ilmiah yang benar serta bebas dari praktik manipulatif yang dapat merusak kepercayaan masyarakat.
“Integritas menjadi modal terbesar yang menentukan kepercayaan, reputasi, dan kredibilitas individu maupun institusi,” kata Arif, saat memberikan sambutan dalam Pengambilan Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pelantikan Jabatan Fungsional, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Ia menambahkan bahwa kepercayaan merupakan aset paling berharga yang dimiliki setiap individu maupun organisasi. Kepercayaan tersebut hanya dapat dibangun melalui karakter yang kuat dan integritas yang konsisten dalam setiap tindakan.
“Modal terbesar dalam hidup kita adalah trust, dan trust dibangun karena integritas. Integritas dibangun karena karakter,” tegasnya.
Selain integritas, Arif mengingatkan pentingnya kompetensi dan semangat belajar sebagai bekal ASN menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung cepat.
Ia mendorong seluruh pegawai BRIN untuk terus menjadi pembelajar yang adaptif terhadap perubahan sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan kerja dan masyarakat.
Arif menegaskan pengambilan sumpah dan pelantikan bukan sekadar formalitas administratif, melainkan peneguhan komitmen moral, profesional, dan intelektual dalam menghadirkan riset dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta kemajuan bangsa.
Menurut Arif, Indonesia membutuhkan talenta riset yang tidak hanya unggul dalam publikasi ilmiah, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi berdampak yang menjawab kebutuhan masyarakat, memperkuat daya saing bangsa, dan mendukung kemandirian nasional di berbagai sektor strategis.
“Indonesia membutuhkan talenta riset yang tidak hanya unggul dalam publikasi, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang berdampak, menjawab kebutuhan masyarakat, serta memperkuat daya saing bangsa,” pungkasnya.
Dalam kesempatan tersebut, sebanyak 119 pegawai mengikuti pengambilan sumpah/janji sebagai PNS, sementara 124 pegawai lainnya dilantik dan diangkat ke dalam berbagai jabatan fungsional, baik secara luring maupun daring.
Jabatan fungsional yang dilantik meliputi peneliti, analis data ilmiah, perekayasa, analis kebijakan, analis pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta teknisi penelitian dan perekayasaan.
Pelantikan ini menjadi bagian dari upaya BRIN dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia riset nasional sekaligus memastikan tersedianya talenta-talenta profesional yang mampu mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi di Indonesia.
Kepala BRIN Arif Satria: Integritas dan Etika Riset Jadi Fondasi Kepercayaan Publik
