Indonesia dan OceanX Eksplorasi Kekayaan Sumber Daya Alam dalam Misi Indonesia 2024

TechnologyIndonesia.id – Indonesia berkolaborasi dengan organisasi nirlaba eksplorasi laut global OceanX melaksanakan program Misi Indonesia 2024. Program ini bertujuan mengeksplorasi kekayaan sumber daya alam di Indonesia.

Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nugroho Dwi Hananto menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan jumpa pers di Kapal OceanX, yang sedang bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Selasa (9/7/2024).

Ia menyebutkan, dalam pelaksanaan riset Misi Indonesia 2024 ini juga melibatkan 39 peneliti nasional dalam menggunakan semua fasilitas riset yang ada di kapal OceanX.

Misi ini merupakan kolaborasi lintas instansi yang melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal). Kemudian ada Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta peneliti dari universitas dan organisasi seperti Konservasi Indonesia,” sebutnya.

Rangkaian kegiatan Misi Indonesia 2024 itu berlangsung pada 8 Mei hingga 25 Agustus 2024 menggunakan Kapal OceanXplorer. Sebuah kapal penelitian dengan media peralatan riset dan media yang sangat canggih. Misinya kali ini memasuki tahap ketiga dari 5 tahapan yang akan ditempuh.

Ia mengatakan, tujuan dari kolaborasi untuk tercapainya penelitian dalam kategori geosains kelautan, oseanografi, dan sains atmosfer.

“Pertama adalah geosains kelautan terkait dengan proses-proses geologi dan geodiversitas di laut. Contohnya seperti gunung api bawah laut yang akan menciptakan ekosistem ekstrim di dasar laut, geodiversitas mulai dari yang mikro, makro, hingga molekuler,” ungkapnya.

Kategori selanjutnya, disebutkannya oseanografi dan sains atmosfer, untuk melihat sifat kolom bawah air di perairan kita dan pengaruhnya terhadap sumber daya alam.

“Kita tahu baru sebagian kecil, kurang dari 18% dari lautan kita yang telah dilakukan pemetaan dengan teliti!” ungkapnya.

Menurut penjelasannya, pemetaan sangat penting untuk mengetahui sumber bencana dari patahan-patahan bawah laut yang dapat memicu tsunami di Aceh, atau longsor bawah laut yang mengakibatkan gempa megathrust seperti di Mentawai.

Nugroho membeberkan, pada saat misi riset ke lautan di Aceh pada Mei 2024, telah ditemukan sumber longsor bawah laut, gunung api bawah laut.

“Selain itu, berbagai macam hewan bawah laut yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya. Baru kali ini kami dapat mengeskploras hingga kedalaman 4000 sampai 5000 meter dengan bantuan Remotely Operated Vehicle (ROV) milik OceanX ini,” jelasnya.

Terkait hasil riset yang telah dilakukan BRIN bersama OceanX, ia menuturkan akan mempublikasikannya pada workshop yang akan diselenggarakan pada 10 – 11 Juli 2204

“Tidak ada data yang kita kirimkan keluar, semua hasil data yang kita temukan kita simpan dalam Repositori Ilmiah Nasional (RIN) BRIN. Semua data tersebut kita simpan di Indonesia, juga diolah di Indonesia untuk menghasilkan hasil riset yang bermanfaat buat kita semua,” bebernya.

Mengenai armada kapal riset, dijabarkannya saat ini BRIN memiliki 5 buah kapal riset, namun sudah berusia sekitar 30 hingga 40 tahun.

“Untuk mengisi ruang kosong hingga tersedianya armada kapal riset baru yang direncanakan akan beroperasi pada 2027. Kita melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak, salah satunya dengan OceanX ini,” jabarnya.

Dalam kesempatan tersebut Co-CEO and Chief Science Officer OceanX, Vincent Pieribone mengatakan semua kegiatan di kapal OceanX ini dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalui para peneliti Indonesia, untuk kebaikan lautan Indonesia.

“Hal-hal yang dilakukan adalah mencarisesuatu yang belum pernah ditemukan, terkait perikanan maupun kebencanaan. Kami memiliki teknologi yang dapat memperkirakan seberapa banyak ikan yang ada di laut Indonesia. Sehingga para pembuat kebijakan dapat menentukan seberapa banyak ikan yang dapat diambil dari lautan pada periode tertentu,” katanya.

Plt. Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim, Kemenko Marves, Aniza Suspita menjelaskan, selain kegiatan riset, kolaborasi ini juga bertujuan untuk edukasi publik dalam memahami pentingnya laut.

“Mungkin kita tidak pernah berpikir apa yang kita punya di dalam laut. Seperti contoh, adanya potensi tsunami yang kita pelajari, tidak hanya misi ekonomi tetapi juga misi kemanusiaan,” jelasnya. (Sumber brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author