TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengembangan teknologi material maju untuk mendukung ketahanan energi nasional. Salah satunya melalui pengembangan CubiTan, teknologi penyimpanan gas berbasis material maju yang digadang-gadang mampu menjadi alternatif pengganti LPG bersubsidi.
CubiTan merupakan sistem penyimpanan gas metana berbasis Metal-Organic Frameworks (MOF). Teknologi ini menawarkan sistem penyimpanan gas yang lebih efisien, aman, dan berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.
Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN Canggih Setya Budi menjelaskan, CubiTan merupakan hasil kolaborasi internasional dengan Yachiyo Engineering dan Atomis dari Jepang.
Sistem ini memanfaatkan material MOF sebagai media penyimpanan gas, memiliki permukaan sangat tinggi dan kemampuan adsorpsi yang unggul. Sistem ini dilengkapi dengan berbagai fitur yang dirancang untuk meningkatkan keamanan dan keandalan dalam operasional.
Canggih menjelaskan bahwa CubiTan merupakan sistem gas yang terbuat dari High-Pressure Gas Cylinder Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP), di dalamnya terdapat gas adsorben MOF.
“CubiTan dilengkapi sistem komunikasi ACNWI, sensor temperatur, sensor tekanan (pressure shock), serta wireless,” ujarnya pada Workshop on 2D Functional Materials for Energy, Environment, and Health Applications yang berlangsung di ICE BSD, Tangerang Selatan, Rabu (15/04/2026).
Salah satu keunggulan utamanya adalah bobot yang jauh lebih ringan. Jika tabung LPG biasa memiliki berat sekitar 30,5 kg, maka CubiTan hanya sekitar 11,7 kg. Hal ini tentu memberikan kemudahan dalam distribusi maupun penggunaan di rumah tangga.
Meskipun lebih ringan, kemampuan penyimpanan gasnya tetap kompetitif. Selain itu, sistem ini juga dapat dioperasikan pada tekanan yang lebih rendah, sehingga meningkatkan faktor keselamatan.
Menariknya, performa CubiTan telah diuji langsung, termasuk oleh ilmuwan internasional penerima nobel Kimia 2025, Prof. Susumu Kitagawa. Hasilnya menunjukkan bahwa performa tidak kalah dengan tabung LPG yang selama ini digunakan masyarakat.
Canggih mengungkapkan, saat ini sistem penyimpanan CubiTan masih beroperasi pada tekanan tinggi, yakni sekitar 200 bar. Untuk mengatasi hal tersebut, ia bersama timnya tengah berupaya menurunkan tekanan operasional secara bertahap.
Pihaknya sudah mencoba menurunkannya ke 80 hingga 60 bar. Targetnya mencapai tekanan sekitar 15 bar yang setara dengan kondisi penggunaan saat ini di masyarakat.
Saat ini, infrastruktur pengisian (mother station) masih menggunakan tekanan tinggi hingga 200 bar. Hal ini menuntut penggunaan material tabung dengan kekuatan mekanik tinggi, seperti CFRP yang mampu menahan tekanan hingga 700 bar, namun memerlukan biaya mahal.
“Karena masih menggunakan tekanan tinggi, sistem pengisian membutuhkan material dengan kekuatan mekanik tinggi seperti CFRP. Secara teknis material ini sangat kuat, tetapi dari sisi biaya masih cukup mahal,” ujarnya.
Ke depan, tantangan utama dalam pengembangan CubiTan adalah menghadirkan material MOF yang mampu bekerja optimal pada tekanan rendah. Dengan demikian, sistem ini diharapkan dapat menggunakan tabung yang sudah ada di masyarakat, seperti tabung melon LPG konvensional.
Penggunaan MOF dalam sistem CubiTan berpotensi meningkatkan performa penyimpanan gas 1,5 hingga 2 kali dibandingkan tabung konvensional saat ini.
Sebagai bagian dari roadmap pengembangan, BRIN menargetkan dalam tiga tahun ke depan teknologi CubiTan dapat mencapai tahap purwarupa prakomersial untuk penggunaan rumah tangga dan distribusi gas di sektor perumahan.
Pengembangan teknologi ini juga diharapkan memberikan dampak luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dari sisi global, BRIN telah memperkuat kolaborasi dengan Kyoto University melalui skema Sister Lab, termasuk keterlibatan Prof. Susumu Kitagawa. (Sumber: brin.go.id)
Lebih Ringan dan Aman, CubiTan Bisa Jadi Alternatif Pengganti Tabung LPG Konvensional
