TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menghadirkan terobosan penting melalui pengembangan Xanthan Gum berbasis bakteri asli Indonesia. Inovasi ini digadang-gadang mampu menjadi solusi strategis untuk berbagai sektor industri, mulai dari migas, pangan, farmasi, kosmetik, hingga pertanian dan manufaktur.
Produk ini tidak hanya menawarkan kualitas tinggi, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Proses BRIN, Arie Rahmadi menjelaskan bahwa industri pengeboran dunia memerlukan cairan khusus untuk menjaga stabilitas tekanan dan efisiensi pengeboran. Xanthan Gum menjadi bahan penting dalam cairan tersebut.
“Pada proses pengeboran, Xanthan Gum dicampurkan ke dalam lumpur pengeboran untuk membantu menjaga stabilitas batuan dari dalam sumur ke permukaan, sekaligus menjaga kestabilan tekanan,” ujar Arie dalam acara BRIN Goes to Industry seri ke-3 di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Dengan meningkatnya aktivitas industri migas, kebutuhan Xanthan Gum di dalam negeri pun terus meningkat. Hal ini membuka peluang besar bagi produksi lokal untuk mengambil peran strategis di pasar nasional.
Bakteri Asli Indonesia
Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Anis H. Mahsunah menjelaskan bahwa Xanthan Gum berfungsi sebagai pengental, pengemulsi, dan penstabil dengan sifat pseudoplastis. Keunggulan Xanthan Gum diantaranya sangat toleran terhadap berbagai pH, dari asam hingga basa, tahan pada suhu tinggi, dan juga biodegradable karena diproduksi oleh fermentasi alami.
Xanthan Gum dikembangkan BRIN menggunakan bakteri Xanthomonas asli Indonesia. Produk yang dihasilkan memiliki stabilitas dan produktivitas tinggi.
“Kami sudah menyimpannya di BRIN dan membuat cadangan penyimpanan di suhu minus 80 derajat Celsius agar tahan lama dan bisa dipakai untuk produksi ke depan,” tegasnya.
Menariknya, bakteri ini telah melalui proses penelitian panjang sejak 2017, termasuk optimasi produksi dan peningkatan produktivitas, hingga akhirnya mencapai hasil optimal.
“Pada 2019 hasilnya mulai bagus. Kemudian di 2020 sempat tersendat karena COVID-19, tapi kami tetap bekerja. Hasilnya akhirnya meningkat pesat,” ungkapnya.
Produk Xanthan Gum telah memiliki kekayaan intelektual berupa paten dan desain industri. Kapasitas produksi saat ini mencapai 5 ton per hari atau sekitar 150 ton per bulan, dengan sistem terintegrasi yang memungkinkan produksi konsisten, efisien, dan siap diimplementasikan pada skala industri.
Untuk mendukung produksi, operasional skala uji dilakukan menggunakan pabrik di Serpong dan bekerja sama dengan PT ACI di Lampung.
Kolaborasi Kunci Kemandirian Industri
Direktur Utama PT ACI Jack Lontoh, menegaskan komitmen perusahaannya dalam mendorong kemandirian industri nasional melalui kolaborasi riset dengan BRIN. Kerjasam riset antara PT ACI dengan BRIN telah dimulai sejak 2019. Kerjasama berlanjut menjadi kemitraan bersama, perjanjian riset bersama, hingga akhirnya mendapatkan paten dan lisensi komersial untuk menjual Xanthan Gum.
Ia menjelaskan pentingnya produk lokal untuk memitigasi risiko impor seperti keterlambatan barang dan fluktuasi harga. Perang Ukraina pada 2022 menyebabkan harga Xanthan Gum sempat melonjak dari 80–90 dolar menjadi 140–150 dolar.”
“Dengan produk lokal, harapannya kita bisa stabil untuk kebutuhan Indonesia dulu. Memang dari segi barang mungkin sedikit lebih mahal, tapi harapannya kita bisa mengurangi risiko-risiko tersebut,” ujarnya
Ke depannya, PT ACI bersama BRIN akan mengembangkan industri biokimia lokal untuk mengurangi ketergantungan impor.
BRIN Kenalkan Xanthan Gum untuk Industri Migas hingga Farmasi
