PeLUIt-40, Teknologi Reaktor Nuklir Cerdas dengan Sistem Kendali Digital Karya Peneliti Indonesia

TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong pengembangan energi bersih melalui inovasi teknologi nuklir generasi keempat. Salah satu terobosan terbaru adalah pengembangan reaktor suhu tinggi PeLUIt-40, reaktor nuklir cerdas yang dirancang untuk mendukung target net zero emission (NZE) Indonesia pada 2060.

PeLUIt-40 merupakan singkatan dari Pembangkit Listrik dan Uap Panas untuk Industri dengan kapasitas 40 MW thermal. Reaktor ini dikembangkan khusus untuk memenuhi kebutuhan energi kawasan industri padat energi yang ingin beralih menuju teknologi rendah emisi karbon.

Profesor Riset BRIN, Syaiful Bakhri menjelaskan bahwa PeLUIt-40 dirancang secara spesifik oleh para peneliti Indonesia sebagai solusi energi masa depan yang aman dan ramah lingkungan.

PeLUIt-40 menggunakan konsep High Temperature Gas Cooled Reactor (HTGR), yakni reaktor suhu tinggi generasi keempat yang dikenal memiliki tingkat keselamatan pasif dan efisiensi panas tinggi.

Teknologi HTGR dinilai unggul karena mampu menghasilkan suhu hingga 950 derajat Celsius, jauh lebih tinggi dibandingkan reaktor konvensional yang rata-rata hanya mencapai sekitar 300 derajat Celsius.

“Panas ini sangat berharga untuk industri petrokimia, pengolahan gas alam, hingga desalinasi air laut. Ini menjadi kunci dekarbonisasi sektor industri,” ujar Syaiful dalam orasi ilmiah pengukuhan profesor riset di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Secara teknis, reaktor PeLUIt-40 beroperasi pada tekanan 30 bar dengan suhu uap mencapai 520 derajat Celsius. Hasil analisis keselamatan menunjukkan suhu maksimum bahan bakar dalam kondisi normal berada di angka 1.031 derajat Celsius, masih jauh di bawah ambang batas kerusakan bahan bakar TRISO sebesar 1.600 derajat Celsius.

Dengan margin keselamatan sekitar 500 derajat Celsius, PeLUIt-40 disebut memiliki sistem keamanan yang sangat kuat untuk mendukung operasional industri jangka panjang.

Selain menghasilkan listrik dan panas industri, satu unit PeLUIt-40 diklaim mampu menekan emisi karbon dioksida (CO2) hingga sekitar 95 ribu ton per tahun.

Sistem Proteksi Reaktor Berbasia FPGA

Tak hanya mengembangkan reaktor suhu tinggi, BRIN juga melakukan modernisasi sistem proteksi reaktor melalui integrasi teknologi digital berbasis Field Programmable Gate Array (FPGA).

Teknologi FPGA diusulkan sebagai “otak” sistem proteksi reaktor untuk meningkatkan kecepatan respons dan keandalan sistem keselamatan pada reaktor generasi keempat.

“Kita beralih dari teknologi analog ke sistem digital untuk memastikan akurasi data dan kecepatan respons proteksi yang lebih baik,” katanya.

Berbeda dengan mikroprosesor berbasis perangkat lunak, FPGA bekerja pada tingkat perangkat keras sehingga mampu memproses data dalam hitungan nanodetik. Teknologi ini juga lebih tahan terhadap gangguan perangkat lunak maupun ancaman serangan siber konvensional.

Pihaknya juga melakukan simulasi kecelakaan terburuk berupa kehilangan sistem pendingin paksa atau depressurized loss of forced cooling accident. “Hasilnya menunjukkan suhu bejana tekan reaktor tetap terjaga di bawah batas integritas materialnya,” jelasnya.

Selain itu, BRIN juga mengeksplorasi integrasi PeLUIt-40 dengan teknologi Solid Oxide Electrolysis Cells (SOEC) untuk produksi hidrogen hijau. Dengan memanfaatkan panas reaktor pada tekanan 3,5 bar, sistem tersebut disebut mampu memproduksi sekitar 204 kilogram hidrogen per jam.

Tantangan dan Masa Depan Teknologi Nuklir Indonesia

Meski menjanjikan, pengembangan teknologi nuklir generasi keempat masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari regulasi, kebutuhan investasi awal yang besar, pengelolaan limbah, hingga integrasi keamanan siber dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurutnya, diperlukan sinergi antara BRIN, BAPETEN, pemerintah, dan industri agar hasil riset dapat diterjemahkan menjadi regulasi serta dukungan kebijakan yang kuat.

PeLUIt-40 merupakan hasil pengembangan panjang sejak kajian aplikasi panas industri pada 1990-an, kemudian riset Reaktor Gas Temperatur Tinggi (RGTT), Reaktor Daya Eksperimental (RDE) pada 2014, hingga berkembang menjadi desain PeLUIt-40 pada 2021.

“PeLUIt-40 atau teknologi HTGR ini adalah masa depan nuklir Indonesia. Ia cerdas secara sistem, aman secara fisik, dan hijau secara dampak,” tandas Syaiful. (Sumber: brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author