TechnologyIndonesia.id – Ancaman terhadap kawasan pesisir Pantai Utara Jawa (Pantura) semakin nyata. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan sejumlah wilayah di Pantura mengalami penurunan tanah dengan tingkat yang bervariasi, bersamaan dengan kenaikan muka laut yang mencapai 4,3 milimeter per tahun.
Fenomena ini terjadi di berbagai daerah pesisir, mulai dari Jakarta, Bekasi, Indramayu, Cirebon, Subang, Pemalang, Pekalongan, hingga Demak. Kombinasi antara penurunan permukaan tanah dan naiknya muka laut dinilai berpotensi meningkatkan risiko genangan dan banjir rob di masa depan.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Agung Syetiawan, menjelaskan bahwa fenomena penurunan tanah dapat dipantau melalui berbagai teknologi geospasial modern. Teknologi tersebut meliputi Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR), Global Navigation Satellite System (GNSS), pengamatan terestris, hingga pemodelan geospasial berbasis multidata.
Menurut Agung, data GNSS yang diperoleh dari Indonesia Continuously Operating Reference Station (InaCORS) menunjukkan pola deformasi vertikal yang cenderung tidak linear di sebagian besar wilayah Pantura. Data tersebut kemudian digunakan untuk memvalidasi hasil pengamatan satelit Synthetic Aperture Radar (SAR).
“Data pengamatan GNSS memperlihatkan pola deformasi vertikal yang cenderung tidak linear di sebagian besar wilayah Pantura. Data tersebut digunakan sebagai validasi terhadap hasil pengamatan satelit SAR,” kata Agung, dalam BRIGHTS Seri #2, Selasa (26/5/2026).
Agung mengungkapkan bahwa eksploitasi air tanah masih menjadi faktor dominan yang memicu penurunan permukaan tanah di kawasan pesisir utara Jawa. Tingginya kebutuhan air bersih untuk masyarakat serta aktivitas ekonomi seperti budidaya udang vaname menyebabkan tekanan besar terhadap cadangan air tanah.
Selain itu, penurunan tanah memperparah dampak kenaikan muka laut di wilayah pesisir utara Jawa. Berdasarkan hasil analisis data altimetri, tren kenaikan muka laut berada pada kisaran 2,4 mm hingga 4,3 mm per tahun.
Ancaman Genangan Permanen
Berdasarkan pemodelan sederhana menggunakan pendekatan bath up model, sejumlah wilayah pesisir Pantura diperkirakan berpotensi mengalami genangan permanen apabila tidak segera dilakukan langkah mitigasi yang efektif.
Kawasan Muara Gembong dan beberapa wilayah pesisir Jakarta, Tangerang, dan Bekasi (Jatabek) disebut telah mengalami perluasan area genangan akibat kombinasi penurunan tanah dan kenaikan muka laut.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur mitigasi seperti giant sea wall perlu mempertimbangkan hasil kajian geospasial secara komprehensif agar wilayah prioritas penanganan dapat ditentukan secara tepat.
Ia juga menekankan pentingnya kebijakan berbasis data geospasial dalam mendukung pembangunan pesisir berkelanjutan, termasuk pengendalian sumur bor, rehabilitasi mangrove, dan evaluasi pembangunan tanggul laut.
“Save water, save life, air bersih yang kita hemat hari ini adalah nafas kehidupan untuk generasi masa depan,” tegasnya.
Agung mengungkapkan adanya keterbatasan dalam sistem pengamatan subsidence, salah satunya disebabkan lokasi stasiun pengamatan yang tidak selalu berada tepat pada area dengan laju penurunan tinggi.
Untuk mengatasi hal tersebut, BRIN bersama Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung melakukan pengamatan episodik melalui pemasangan pilar benchmark permanen pada sejumlah titik hotspot penurunan tanah yang dipantau secara berkala setiap tahun.
Kepala PRGI BRIN, Rokhis Khomarudin, mengatakan isu penurunan tanah dan degradasi ekosistem pesisir merupakan persoalan multidisiplin yang membutuhkan dukungan riset geospasial dan penginderaan jauh secara berkelanjutan.
“Pemanfaatan teknologi GIS dan remote sensing menjadi sangat penting untuk mendukung pemantauan, analisis, serta penyusunan strategi mitigasi yang berbasis data ilmiah,” ujarnya. (Sumber: brin.go.id)
Pantura Jawa Alami Penurunan Tanah, Muka Laut Naik Hingga 4,3 Milimeter per Tahun
