Metode Biokonjugasi Bisa Kurangi Ongkos Produksi Vaksin Glikokonjugat

Jakarta, Technology-Indonesia.com – Metode Protein Glycan Coupling Technology (PGCT) atau biokonjugasi dapat menjadi alternatif pembuatan vaksin glikokonjugat dengan ongkos produksi yang lebih murah dibandingkan dengan metode tradisional yang masih digunakan hingga saat ini, yaitu konjugasi secara kimiawi.

Peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetik (PR Rekgen) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Kartika Sari Dewi mengatakan vaksin glikokonjugat sendiri merupakan tipe vaksin yang dibuat dengan cara mengkonjugasikan suatu glikan baik berupa kapsul polisakarida ataupun O-antigen secara kovalen dengan suatu molekul protein carrier.

“Vaksin ini dapat dikategorikan sebagai vaksin yang sangat aman dengan efikasi yang tinggi dan secara umum diaplikasikan untuk pencegahan infeksi bakteri invasif atau memiliki resistensi antibiotik,” tutur Kartika saat menjadi pembicara pada Friday Scientific Sharing Seminar (FS3) Series 14 pada Jumat (17/2/2023).

Kartika menambahkan hingga saat ini terdapat empat jenis vaksin glikokonjugat yang telah berlisensi, yakni untuk pencegahan infeksi bakteri Haemophilus influenzae type B, Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae dan Salmonella typhi.

Secara tradisional, bahan baku polisakarida masih diisolasi langsung dari patogen asli yang dilanjutkan dengan aktivasi secara kimiawi sebelum dikonjugasikan dengan protein carrier.

Dengan cara ini, waktu produksi menjadi lebih pendek dan tahapan purifikasi menjadi jauh lebih sedikit sehingga dapat menurunkan ongkos produksi dalam mendapatkan vaksin dengan harga ekonomis.

Selain itu, kelebihan dari metode ini adalah dapat menggunakan faktor virulensi dari patogen yang sama dengan sumber glikan sebagai protein carrier, sehingga dapat menghasilkan double-hit protection dalam satu kali injeksi.

Berdasarkan penelitian sebelumnya diketahui jika faktor virulensi yang digunakan lestari pada setiap serotipe, maka dapat dihasilkan suatu serotype-independent vaccines yang tentunya dapat menguntungkan.

Dosen dari Fakultas Pertanian, Universitas Jember Hardian Susilo Addy mengatakan penyakit tumbuhan pada tanaman padi yang umum dikenal dengan tiga nama yaitu Bacterial Leaf Blight (BLB), Hawar Daun Bakteri (HDB), dan Kresek.

“Penyakit ini merupakan salah satu penyakit padi utama yang tersebar di berbagai ekosistem padi di negara-negara penghasil padi, termasuk di Indonesia. Penyakit disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv oryzae,” ujarnya.

Hardian menambahkan rekayasa penggunaan varietas padi menjadi alternatif dalam mengendalikan penyakit pada tanaman ini. Hal ini mengingat penyakit ini sudah berkembang sehigga upaya penanganan secara konvensional menjadi lebih sulit.

“Kerusakan dari penyakit ini terhadap tanaman lebih dari 50%, namun ini tergantung pada stadia tanaman dan fase tanaman antara vegetatif dan generatif,” pungkasnya. (sumber brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author