Kenaikan Muka Laut Berpotensi Perkuat Ombak Bono di Pesisir Timur Riau, Ini Temuan BRIN

TechnologyIndonesia.id – Fenomena gelombang pasang Bono yang selama ini menjadi daya tarik wisata dan olahraga ekstrem di Provinsi Riau ternyata menyimpan ancaman yang semakin serius.

Penelitian terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa kenaikan muka laut akibat perubahan iklim berpotensi memperkuat gelombang Bono di masa depan dan meningkatkan risiko kerusakan lingkungan pesisir.

Temuan tersebut dipaparkan Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN, Ulung Jantama Wisha, dalam forum Oceanology Talk Series #5 bertajuk Coastal Environmental Dynamics From Sea Level Rise to Coral Transformation yang berlangsung pada Rabu (3/6/2026).

Menurut Ulung, gelombang pasang merupakan fenomena alam yang tidak dapat dihindari. Namun, intensitasnya terus meningkat dari waktu ke waktu sehingga membutuhkan kajian ilmiah yang lebih mendalam untuk mendukung penyusunan kebijakan adaptasi perubahan iklim di kawasan pesisir.

Selat Malaka Jadi Laboratorium Alam Perubahan Iklim

Dalam penelitiannya, Ulung memilih Selat Malaka sebagai fokus kajian karena kawasan ini merupakan jalur strategis yang menghubungkan Samudra Hindia, Laut Cina Selatan, dan sejumlah laut pedalaman Indonesia.

Posisi geografis tersebut membuat Selat Malaka sangat sensitif terhadap perubahan muka laut dan dinamika pasang surut. Ketika permukaan laut terus meningkat, sistem muara sungai menjadi semakin tidak stabil dan memicu berbagai dampak lingkungan.

Dampaknya tidak berhenti pada perubahan tinggi pasang surut semata, melainkan merembet ke transportasi sedimen, intrusi air asin, abrasi, hingga banjir pesisir (rob).

Di kawasan timur Sumatra, perubahan tersebut menjadi sangat krusial karena terdapat dua sungai yang memiliki fenomena gelombang pasang ekstrem, yaitu Sungai Kampar dan Sungai Rokan.

Gelombang pasang (atau yang dikenal sebagai ombak Bono) muncul ketika massa air laut yang bergerak ke hulu bertabrakan dengan aliran sungai. Tabrakan ini menciptakan lonjakan hidrolik yang dapat menjalar hingga sekitar 60 kilometer ke daratan.

“Gelombang pasang ini sangat merusak,” ujar Ulung sambil menunjukkan dokumentasi fenomena Bono di Sungai Kampar.

Ia menambahkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki sedikitnya lima lokasi dengan fenomena gelombang pasang serupa. Namun, penelitian mendalam mengenai karakteristiknya masih sangat terbatas.

Celah Pengetahuan yang Terabaikan

Selama ini, pembahasan mengenai kenaikan muka laut lebih banyak berfokus pada ancaman tenggelamnya wilayah pesisir. Namun, Ulung menilai ada aspek kritis yang belum banyak dipahami: bagaimana kenaikan muka laut mengubah pasang surut dan memengaruhi pembentukan gelombang pasang di muara sungai.

Dalam risetnya, Ulung membangun model hidrodinamika yang mencakup Selat Malaka hingga muara Sungai Kampar dan Rokan. Model tersebut mengintegrasikan data pasang surut jangka panjang, debit sungai, angin, karakteristik sedimen, hingga proyeksi iklim masa depan.

Tujuan pemodelan hidrodinamika ini untuk memprediksi perubahan kondisi pasang surut dari masa kini menuju tahun 2050 dan 2100. Hasilnya menunjukkan pola yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan data pengukuran jangka panjang, Ulung menemukan bahwa bagian selatan Selat Malaka yang dekat dengan garis khatulistiwa mengalami kenaikan muka laut lebih tinggi dibandingkan wilayah utara.

Laju kenaikan yang tercatat mencapai sekitar 0,45 sentimeter per tahun, dan tren tersebut menurun seiring bergerak ke arah utara.

Temuan ini penting karena kawasan khatulistiwa merupakan lokasi muara-muara dangkal yang sangat sensitif terhadap perubahan pasang surut.

Analisis harmonik yang dilakukan tim peneliti menunjukkan bahwa amplitudo berbagai komponen pasang surut terus meningkat, sementara fasenya justru menurun. Kenaikan amplitudo berarti energi pasang surut menjadi semakin besar.

“Di daerah khatulistiwa, tren peningkatan amplitudo jauh lebih kuat,” kata Ulung. Dampak nyatanya dapat berupa peningkatan abrasi pantai, banjir, dan perubahan pola aliran di sungai.

Ombak Bono Berpotensi Semakin Kuat

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah kenaikan muka laut tidak mengubah tipe gelombang Bono yang terjadi di Sungai Kampar. Namun demikian, kekuatan gelombang tersebut diperkirakan akan meningkat seiring bertambahnya energi pasang surut.

Artinya, Ombak Bono yang selama ini dikenal sebagai ikon wisata selancar sungai dan olahraga ekstrem di Riau berpotensi menjadi lebih besar dan lebih kuat pada masa mendatang.

Ulung memaparkan bagaimana kenaikan muka laut global ini berpotensi mengubah karakter pasang surut, memperkuat gelombang pasang, mempercepat erosi, dan pada akhirnya mengancam kehidupan masyarakat di sepanjang muara sungai.

“Kenaikan permukaan laut tidak hanya menyebabkan banjir dan penyusutan garis pantai, tetapi juga mengubah proses hidrodinamika di muara sungai,” jelas Ulung.

Kebijakan Pembangunan Pesisir

Penelitian Ulung memperlihatkan bahwa ancaman perubahan iklim di wilayah pesisir tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata seperti tenggelamnya pulau kecil.

Di Selat Malaka dan pesisir timur Sumatra, ancaman itu muncul melalui perubahan yang lebih kompleks: pasang surut yang semakin tinggi, ombak Bono yang kian kuat, sedimentasi yang tidak menentu, serta erosi yang menggerus tepian sungai sedikit demi sedikit.

Temuan ini menjadi peringatan keras bahwa adaptasi perubahan iklim tidak cukup hanya dilakukan dengan membangun tanggul atau merelokasi kawasan pesisir.

Pemahaman terhadap dinamika muara dan sistem pasang surut harus diintegrasikan ke dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan wilayah pesisir masa depan. (Sumber: brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author