Cianjur, Technology-Indonesia.com – Krisan merupakan salah satu tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sangat populer di Indonesia sejak sepuluh tahun terakhir. Permintaan bunga krisan di Indonesia setiap tahun cenderung meningkat. Krisan dibudidayakan untuk menghasilkan bunga potong, tanaman pot, ataupun tanaman taman.
Bunga krisan sangat beragam dalam bentuk, ukuran, maupun warnanya. Krisan yang bernilai komersial kebanyakan berasal dari golongan “all year round” (AYR Chrysanthemum). Dengan memanipulasi panjang hari, tanaman krisan dapat berbunga sepanjang waktu dalam setahun
Sejak tahun 2002, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) telah melepas 107 varietas krisan dengan berbagai tipe dan warna yang unik dan menarik. Beberapa varietas ini pun mempunyai keunggulan diantaranya tahan hama dan penyakit. VUB krisan hingga kini telah beredar di pasaran dan menjadi alternatif pilihan bagi produsen bunga.
Varietas unggul krisan tersebut antara lain Puspita Nusantara, Pasopati, Swarna Kencana, Kineta, Arundaya Agrihorti, Jayanti Agrihorti, Pinka Pinky, Arosoka Pelangi, Solinda Pelangi, Socakawani Agrihorti, Dwina Kencana, Aninditha Agrihorti, Sabiya Agrihorti, Aiko Agrihorti, dan lain-lain.
Peneliti Balithi, Prof. Dr. Budi Marwoto mengatakan dari 107 varietas krisan yang dilepas Balitbangtan, 82 varietas terserap di pasar dan tersebar di 45 kabupaten/kota dari 25 provinsi di Indonesia. Bunga krisan yang terserap pasar di Indonesia totalnya mencapai 500 juta tangkai/tahun.
“Kita berani mengklaim 30% dari 500 juta tangkai tersebut dipasok dari krisan Balitbangtan. Jadi 1/3 dari 500 juta tangkai itu adalah 150 juta tangkai. Jika dikalikan harga sekitar Rp 2.000/tangkai, nilainya sekitar Rp 316 miliar pertahun,” ungkap Budi saat menanti kehadiran Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam Ekspose Inovasi Tanaman Hias di Balithi, Cianjur, pada Kamis (12/11/2020).
Menurut Budi, salah satu varietas krisan yang dilepas Balitbangtan yaitu Puspita Nusantara sudah diekpor ke Jepang, Kuwait, Hongkong, Korea, China dan Eropa. Nilai ekspor tanaman hias Indonesia sudah mencapai US$ 14 juta, sepertiganya disumbang oleh krisan.

Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry mengungkapkan Balithi berdiri tahun 1994 dan pertama kali merilis varietas tanaman hias pada tahun 2000. Pada 2018, Balithi ditetapkan menjadi Pusat Unggulan Iptek (PUI) Pemuliaan Tanaman Hias oleh Kementerian Riset dan Teknologi.
Selama 10 tahun terakhir, Balitbangtan melalui Balithi sudah merilis kurang lebih 268 varietas unggul baru tanaman hias. Pada 2010, Balithi berhasil meraih rekor MURI sebagai institusi pelepas varietas terbanyak dalam kurun satu tahun sebanyak 25 varietas
Menurut Fadjry, dari 268 VUB tanaman hias tersebut yang paling berkembang adalah krisan. “Kita sudah merilis lebih dari 100 varietas unggul baru krisan dan 82 varietas sudah berkembang di seluruh Indonesia,” tambahnya.
Produk unggulan Balithi ini, lanjutnya, mampu memberikan economic benefit dan social impact yang cukup besar. Varietas unggul krisan Balithi mampu menggantikan sekitar 35 persen dari total varietas yang beredar di pasar dalam negeri. Disamping itu, Balithi melalui Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) sudah mengedarkan benih sumber krisan sebanyak 7 jutaan benih yakni 30 persen dari jumlah benih yang beredar.
Perlu diketahui, inovasi teknologi pendukung pengembangan krisan Balithi memberikan dampak kenaikan produksi 18 hingga 20% dari produksi krisan nasional. Apabila dirupiahkan, secara keseluruhan inovasi teknologi Balithi (varietas, benih, dan teknologi produksi), maka dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, Balithi telah memberikan kontribusi pada industri florikultura Indonesia sebesar Rp 311,6 miliar, dengan nilai RoI (Return of Investment) 2,30.
Kegiatan Ekspose Inovasi Tanaman Hias merupakan wahana pertemuan antar stakeholder tanaman hias dalam rangka akselerasi inovasi florikultura untuk kesejahteraan dan urban farming yang modern, mandiri, dan berdaya saing. Fadjry berharap dengan acara ini produk-produk yang dihasilkan Balitbangtan semakin dikenal dan sampai kepada petani, pengusaha termasuk pemerintah daerah sehingga bisa bermanfaat untuk kemajuan pertanian Indonesia.
