Percepat Hilirisasi Riset, BRIN Perkuat Dana RIIM Strategis Hingga Empat Kali Lipat

TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) semakin serius mempercepat hilirisasi riset agar hasil penelitian tidak hanya berhenti di laboratorium. Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah memperkuat dana Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Strategis dengan kenaikan anggaran hingga empat kali lipat.

Kenaikan dana RIIM Strategis ini dilakukan untuk memastikan inovasi riset dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat, industri, maupun pemerintah daerah. Kepala BRIN, Arif Satria menegaskan, pendanaan yang memadai menjadi instrumen utama agar riset-riset prioritas tidak berhenti pada tahap laboratorium, tetapi berlanjut hingga siap diterapkan.

“Dana RIIM Strategis kami tingkatkan empat sampai lima kali lipat. Kalau masih kurang, akan kami dorong lagi,” kata Arif, dalam Media Lounge Discussion (MELODI), bertajuk ‘Arah Baru Riset dan Inovasi Nasional’, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (22/12/2025).

Namun demikian, Arif menekankan bahwa percepatan hilirisasi riset tidak hanya bergantung pada besaran dana. Menurutnya, dampak nyata dari riset bisa tercapai jika didukung oleh ekosistem riset yang kuat dan berjalan secara simultan.

“Kalau mau risetnya kuat dan berdampak, ekosistemnya harus lengkap. Ada lima faktor,” ujarnya.

Kelima faktor tersebut meliputi sumber daya manusia (human capital), pendanaan, infrastruktur riset, tema atau arah riset, serta ekosistem kolaborasi dan pemanfaatan hasil riset. Arif menilai, sebagian besar faktor tersebut saat ini telah dimiliki BRIN.

“Human capital kita kuat, infrastrukturnya juga sudah sangat baik. Pendanaannya sekarang kita perkuat melalui Dana RIIM Strategis,” katanya.

Selain pendanaan, penguatan tema riset juga menjadi perhatian utama. Untuk riset strategis, BRIN menerapkan pendekatan top-down agar riset yang dilakukan selaras dengan kebutuhan nasional dan agenda pembangunan pemerintah.

“Tema riset strategis harus jelas. Tidak semuanya diserahkan ke kompetisi bottom-up, karena kita juga punya target nasional yang harus dijawab,” ujar Arif.

Penguatan ekosistem kolaborasi menjadi perhatian BRIN agar hasil riset tidak berhenti di institusi riset, tetapi dapat diadopsi oleh industri, pemerintah daerah, maupun masyarakat.

“Hilirisasi itu bukan hanya soal produk, tapi bagaimana riset terhubung dengan pengguna dan mitra,” katanya.

Arif menegaskan, Dana RIIM Strategis difokuskan untuk mendukung riset dengan tingkat kesiapterapan teknologi menengah hingga tinggi, terutama yang berpotensi langsung diterapkan atau dikembangkan menjadi inovasi.

“Fokus kami pada riset yang sudah mendekati penerapan, supaya dampaknya bisa segera dirasakan,” ujarnya.

Ia mencontohkan pengembangan teknologi air siap minum (Arsinum) yang telah dimanfaatkan di wilayah terdampak bencana. Ke depan, teknologi serupa akan terus didorong agar skalanya semakin besar dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

Melalui penguatan Dana RIIM Strategis dan lima ekosistem riset tersebut, BRIN menargetkan lahirnya sedikitnya 120 inovasi siap guna dalam waktu dekat, baik dari riset internal maupun kolaborasi dengan perguruan tinggi.

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author