Bahan Baku Impor Hambat Prduk Berbasis Iptek

 

Kementerian Riset dan Teknologi harus menjadi pemimpin dan motor penggerak gerakan penelitian dan pengembangan nasional untuk penciptaan produk-produk berbasis iptek.

Sayangnya menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta saat ini industri berbasis iptek di Indonesia masih bergantung pada produk impor untuk penggunaan bahan bakunya. Karenanya Menristek sangat mendukung upaya untuk menghasilkan produk yang menggunakan bahan dasar dari negeri sendiri.

“Kita berupaya terus meningkatkan industri  dengan bahan baku dari Indonesia. Karena kalau kita bisa menggunakan bahan dari dalam negeri bisa menghemat devisa,” kata Gusti Muhammad Hatta pada pelantikan dan pengambilan sumpah pejabat Eselon II, III dan IV Kementerian Riset da Teknologi, di Jakarta, Selasa (24/1).

Menristek mengimbau kepada seluruh jajarannya agar semaksimal mungkin berusaha untuk mewujudkan kemandirian iptek. Kemandirian iptek tersebut bisa terwujud dengan meningkatkan muatan lokal yang pada akhirnya akan meningkatkan produk buatan Indonesia.

Gusti Muhammad Hatta menyebut beberapa industri strategis di Indonesia sudah melakukan kemandirian ipteknya adalah PT LEN yang mengembangkan alat komunikasi untuk TNI. Kementerian Riset dan Teknologi yang meruapakan pembina teknis pengembangan teknologi membantu PT LEN dalam hal sistem integrasi teknologi.

Menurut Deputi Menteri Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek Kementerian Riset dan Teknologi Teguh Rahardjo PT LEN juga bekerjasama dengan Kemeneterian Perhubungan untuk mengembangan alat sinyal kereta api.

“Untuk alat sinyal kereta api ini sudah diujicobakan di Purwokerto. Terpenting alat ini memiliki kandungan teknologinya 60 persen. Ke depannya akan kita dorong agar kandungan lokalnya mencapai 80 persen. Selanjutnya akan dibuat Automotive Train Protection untuk perlindungan kereta secara otomatis,” jelas Teguh.

Upaya Kemenristek untuk meningkatkan kemandirian iptek juga dilakukan di bidang farmasi dengan mengembangkan vaksin TB, Hepatitis B. “Vaksin tersebut merupakan hasil pengembangan selama 2011. Umumnya untuk mengembangkan vaksin membutuhan sekitar 12 tahun, pemerintah hanya membiayai selama 5-6 tahun, selebihnya kita mengharapkan industri yang akan mengembangkannya,” kata Teguh.

Melalui Sistem Inovasi Nasional (SINas) dan Sistem Inovasi Daerah (SIDa) Kemensristek melakukan kordinasi terhadap para pengembang iptek baik LPNK, Litbang pemerintah dan perguruan tinggi untuk penciptaan nilai. Agar  produk berbasis iptek dapat memberikan nilai tambah atau kemanfaatan secara riil bagi masyarakat.

Salah satu daerah yang telah merasakan manfaat kemandirian iptek adalah Pekalongan. Daerah ini telah berhasil menghemat sebanyak Rp14 miliar dari penggunaan open source di lingkungan pemerintahannya.  

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author