Anugerah Inovasi Labdha Kretya: Apresiasi Kemenristekdikti untuk Produk Inovasi Masyarakat Umum

Jakarta, Technology-Indonesia.com – Produk inovasi tak hanya lahir dari hasil riset lembaga litbang dan perguruan tinggi, tetapi bisa lahir dari masyarakat umum. Untuk itu, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti) memberikan Anugerah Iptek dan Inovasi Nasional kategori Labdha Kretya untuk produk inovasi dari masyarakat umum atau “akar rumput”.

Anugerah Iptek dan Inovasi Labdha Kretya diberikan kepada masyarakat umum/”akar rumput” (grass-root innovation) atas prestasi pelaksanaan inovasi yang berhasil dan dapat menghasilkan nilai tambah baik dalam bentuk komersil, ekonomi maupun sosial-budaya untuk menghasilkan produk inovasi yang dapat menjadi penguat daya saing bangsa.

“Anugerah ini bertujuan mendorong peningkatan kemampuan iptek yang bukan hanya berasal dari kalangan perguruan tinggi atau lembaga litbang. Sebagaimana kita ketahui banyak sekali produk yang hadir dan lahir dari kalangan masyarakat atau akar rumput,” tutur Kepala Sub Direktorat Kemitraan Strategis dan Wahana Inovasi Kemenristekdikti, Eka Gandara di sela-sela penjurian Anugerah Iptek dan Inovasi Labdha Kretya pada Kamis (25/7/2019) di Jakarta.

Produk inovasi dari masyarakat, lanjutnya, berbeda dengan inovasi dari perguruan tinggi dan lembaga litbang karena terkait sumber daya manusia, sarana prasarana maupun metodologinya. Namun, tujuannya sama yaitu bagaimana meningkatkan nilai tambah. Karena itu, alat ukur yang digunakan agak berbeda dari alat ukur untuk menilai tingkat kesiapan teknologi produk inovasi perguruan tinggi dan lembaga litbang.

“Inovasi dari masyarakat biasanya berawal dari masalah yang ada di masyarakat, kearifan lokal, dan lain-lain, tetapi tidak menutup kemungkinan pula produk inovasi ini justru menjadi solusi bagi permasalahan bukan hanya di daerah itu sendiri tapi bisa antar provinsi bahkan permasalahan nasional. Produk inovasi masyarakat yang punya dampak lebih luas akan memiliki penilaian tinggi,” terangnya.

Menurut Eka, Berbeda dengan penyelengaraan sebelumnya, tahun ini pihaknya mewajibkan adanya kehadiran pemerintah daerah melalui Bappeda dan Balitbangda. Bagi setiap inventor yang mengikuti perlombaan ini diwajibkan mendapat surat pengantar dari Pemda. Dengan ketentuan ini diharapkan Pemda hadir di tengah-tengah masyarakat terutama dalam aktivitas pengembangan inovasi di masyarakat.

Pemerintah daerah dilibatkan sebagai pendamping inovator yang mengikuti seleksi anugerah ini. Pada tahap awal seleksi menggunakan tools Sistem Inovasi Kearifan Lokal (SOKA) yang khusus didesain untuk mengukur produk inovasi yang dikembangkan masyarakat.

Selama kurang lebih hampir 1 bulan telah terjaring 41 inovator yang berasal dari 24 kabupaten/kota dari 6 provinsi dengan 8 bidang fokus. Dalam proses penjurian ada 6 komponen aspek yang dinilai, yakni perencanaan, infrastruktur, kapasitas SDM, Sistem informasi, budaya inovasi dan hasil inovasi.

Dari hasil seleksi awal, terpilih 7 nominator yang diundang untuk melakukan presentasi di hadapan para juri dan reviewer tentang produk yang dikembangkan mulai dari pengembangan teknis, pengelolaan tim, hingga strategi pemasaran. Berdasarkan penilaian presentasi akan menghasilkan tiga kandidat pemenang Anugerah Inovasi Labdha Kretya 2019.

Para kandidat penerima anugerah harus memaparkan berbagai aspek terkait dengan indikator-indikator yang menjadi objek penilaian antara lain: profil produk, proses perencanaan-perancangan dan pengembangan produk, portofolio tim, mekanisme kerja, sarana dan prasarana yang digunakan, dan mitra-mitra yang terhubung atau terlibat. Para juri dan reviewer terdiri dari Eka Gandara, Idwan Suhardi (pakar inovator dari Universitas Indonesia), dan Bahran Andang (pakar inovasi dari indefo).

Ketujuh nominator Anugerah Labdha Kretya Tahun 2019 adalah: Pertama, Eko Handoyo & Team dengan produk inovasi “Rekayasa Mesin Serut Bambu Multifungsi 3 in 1 Sebagai Terobosan Untuk Pemenuhan Kebutuhan Industri tusuk sate dan aneka kerajinan bambu,” melalui pendampingan dari Baperlitbang Karanganyar. Kedua, I Made Sumasa dengan inovasi “Pembenihan Kepiting Bakau” melalui pendampingan dari Bappeda Litbang Provinsi Bali. Ketiga, Ihsan Hakim & Team dengan inovasi “Bending 3 Axis Man-tech” melalui pendampingan dari Bappeda Grobogan.

Keempat, Joni Hermanto dengan inovasi “Minyak Serai Wangi,” melalui pendampingan dari Balitbangda Ogan Ilir. Kelima, Komunitas Lingkar Literasi Studi Tjokro dengan inovasi “Mas Jawa T-Netra (Money Android Scanner Jawaban Masalah Tunanetra) dengan metode optical character recognition” melalui pendampingan dari Bappeda Pati. Keenam, Muhammad Sobri dengan inovasi “Bioreaktor Kapal Selam” melalui pendampingan dari Bappeda Pati Energi. Ketujuh, Yadi dengan inovasi “Roti Gaplek ‘Inagiri’” melalui pendampingan dari Bappeda Wonogiri.

Penyerahan Anugerah Iptek dan Inovasi Nasional Labdha Kretya 2019 kepada para pemenang akan diserahkan pada Malam Apresiasi Anugerah Iptek dan Inovasi pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi (Hakteknas) bersama para pemenang anugerah lainnya yakni: Budhipura, Budhipraja, Prayoga Sala, Abyudaya, Adibrata, Labdha Kretya dan Widya Kridha pada 27 Agustus 2019 di Denpasar, Bali.

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author