Bogor, Technology-Indonesia.com – Munculnya penyakit zoonosis yang belum pernah dilaporkan sebelumnya (emerging disease) maupun yang muncul kembali setelah lama tidak dilaporkan (re-emerging disease) di Indonesia perlu ditangani secara bijaksana sehingga kedepan bisa diantisipasi melalui langkah-langkah pengendalian. Kesiapsiagaan menghadapi pengenalan epidemi penyakit hewan sangat penting agar laporan awal dan penanganan dini dapat dilakukan.
Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) Badan Litbang Pertanian, Indi Dharmayanti menyampaikan hal tersebut dalam pembukaan Workshop on Emerging and Re-emerging Zoonotic Diseases in Indonesia di IPB International Convention Center, Bogor pada Senin (5/11/2018). Workshop digelar untuk menyambut peringatan 110 tahun BB Litvet.
Workshop ini digelar BB Litvet sebagai upaya peningkatan dan pemahaman penyakit yang bersifat zoonosis emerging dan re-emerging serta upaya penanganan dan pencegahannya khususnya bagi dunia veteriner di Indonesia.
“Workshop ini merupakan momen strategis karena hasil penelitian BB Litvet yang terkait emerging dan re-emerging zoonotic diseases di Indonesia dapat diinformasikan secara luas, terutama kepada semua pemangku kepentingan,” tuturnya.
Indi menerangkan sepanjang sejarahnya yang panjang, BB Litvet telah berperan aktif dalam pembangunan nasional khususnya pembangunan peternakan bidang veteriner. Peran aktif BB Litvet umumnya dalam bentuk pemberantasan, pengendalian dan pengawasan penyakit hewan; penyediaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) veteriner; konservasi dan optimalisasi sumberdaya alam lokal; serta penyediaan data epidemiologi penyakit hewan termasuk emerging dan re-emerging disease.
Di berbagai belahan dunia, lanjutnya, emerging dan re-emerging disease merupakan penyakit penting yang sedang dicari solusi, penanganan dan pengendaliannya. Emerging Disease merupakan infeksi yang baru muncul dalam sebuah populasi dan meningkat secara cepat dalam sebuah wilayah geografis. Re-emerging disease adalah infeksi yang muncul kembali setelah terjadi penurunan yang signifikan atau infeksi yang pernah ada sebelumnya dan sekarang muncul kembali dengan peningkatan yang cepat. Sementara penyakit zoonosis merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan kemanusia
Indi mengungkapkan, BB Litvet telah menghasilkan berbagai teknologi veteriner yang meliputi teknologi vaksin, metode dan teknologi diagnosa penyakit, obat herbal, antigen dan lain-lain. Teknologi vaksin untuk penyakit-penyakit hewan strategis telah dihasilkan dan dikerjasamakan dengan pihak swasta (perusahaan) untuk diproduksi dalam skala besar dalam bentuk lisensi dan rahasia dagang agar bisa dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Contohnya, vaksin Avian Influenza (Flu Burung) untuk unggas, vaksin penyakit Tetelo (Newcastle Disease) untuk unggas, Vaksin Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) untuk mencegah penyakit keguguran pada sapi, vaksin VTEC untuk menekan angka kematian anak sapi, dan vaksin ETEC untuk menekan angka kematian anak babi dan beberapa teknologi lainnya yang sudah siap untuk dikerjasamakan dengan pihak swasta. “Teknologi veteriner yang dihasilkan tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya sasaran strategis pembangunan pertanian khususnya bidang peternakan,” tutur Indi.
Selain menghasilkan produk teknologi veteriner, secara simultan dari hasil penelitian diperoleh informasi penyakit-penyakit penting terutama yang bersifat zoonosis baik emerging disease maupun re-emerging disease. Menurut Indi, informasi penyakit tersebut penting untuk diketahui pihak-pihak terkait untuk ikut serta dalam pencegahan dan penanggulangannya.
BB Litvet, terang Indi, memiliki sumber daya manusia yang sangat kompeten di bidangnya melalui jenjang pendidikan dan pelatihan baik di dalam dan di luar negeri. BB Litvet juga memiliki peralatan yang lengkap dan fasilitas laboratorium seperti laboratorium bioteknologi, laboratorium BSL3 zoonosis, dan laboratorium BSL3 moduler yang tidak semua institusi memilikinya dan fasilitas pendukung lainnya yang menunjang penelitian emerging dan re-emerging zoonotic diseases di Indonesia
Workshop ini dihadiri 150 peserta dari berbagai lembaga pemerintah dan universitas, serta perusahaan dan asosiasi. Workshop menampilkan narasumber kompeten seperti Indi Dharmayanti (Peneliti Virologi), Rahmat Setyo Adji (Peneliti Bakteriologi), Susan M Noor (Peneliti Bakteriologi), Indrawati Sendow (Peneliti Virologi) dan pembicara lainnya. Workshop juga menghadirkan pembicara dari luar negeri seperti Joanne Meers (School of Veterinary Science, The University of Queensland, Brisbane, Australia), Kozue Miura (Laboratory of Global Zoonotic Diseases, Department of Veterinary Medical Sciences, Graduate School of Agricultural and Life Sciences, The University of Tokyo), Kim Halpin (Australian Animal Health Laboratory, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation, Geelong Australia), dan lain-lain.
