Jakarta, Technology-Indonesia.com – Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan buah kelapa tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi sebagai sumber energi terbarukan. Saat ini, Jepang sedang menjajaki peluang pengembangan kelapa menjadi bahan bakar pesawat jet. Untuk itu, salah satu pengusaha Jepang berencana mengandeng Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma) Badan Litbang Pertanian untuk pengembangan jet fuel.
Indonesia merupakan negara penghasil kelapa dengan luasan areal terbesar di dunia. Diperkirakan sekitar 3,5 juta hektare kelapa tersebar pada hampir semua daerah di Indonesia dan 98% dari total areal tersebut dikelola oleh petani. Sampai saat ini kopra dan kelapa butiran menjadi produk utama yang dihasilkan pada skala petani. Berbagai produk pangan bernilai ekonomi dapat dihasilkan sebagai olahan buah kelapa.
Perkembangan Iptek memungkinkan buah kelapa tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi sebagai sumber energi terbarukan. Melalui proses transesterifikasi minyak yang diekstraksi dari daging buah kelapa diolah menjadi ester metil asam lemak, yang menjadi salah satu bahan bakar ramah lingkungan dengan sebutan biodiesel.
Salah satu investor dari Jepang menjajaki peluang pengembangan kelapa untuk dijadikan jet fuel, bahan bakar untuk pesawat jet. Untuk itu, mereka akan mengandeng Balit Palma-Balitbangtan sebagai mitra yang rencananya dilakukan di Provinsi Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
Hal tersebut disampaikan Mr. Gen saat berdiskusi langsung di ruang rapat kelapa (23/12/2019) dengan Kepala Seksi Pelayanan Teknik Jeanette Kumaunang, Kepala Seksi Jasa Penelitian Engelbert Manaroinsong, dan Koordinator Program dan Evaluasi Steivie Karouw.
Mr. Gen memaparkan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi terbarukan yang telah sukses mereka lakukan di Jepang. Minyak kelapa dengan kandungan utamanya asam laurat (C12) dilirik untuk dikembangkan menjadi jet fuel. Seluruh bagian buah kelapa akan digunakan menjadi sumber energi, jelas Mr. Gen.
Ia tertarik menanam kelapa tipe Genjah di lokasi pengembangan, karena keunggulannya yang lambat bertambah tinggi dan lebih cepat berbuah. Untuk menjamin ketersediaan benih, maka nantinya akan dilakukan perbanyakan benih secara massal dengan teknik kultur jaringan melalui kolaborasi bersama salah satu universitas terkemuka di Jepang.

Selanjutnya untuk penanaman kelapa, Mr. Gen berharap para peneliti Balit Palma akan berperan sebagai pendamping lapangan dengan menerapkan teknologi budidaya yang telah direkomendasikan. Hal yang menarik karena nantinya unit ekstraksi akan dioperasikan oleh petani. Sesuatu yang selama ini belum menjadi bagian pada rantai pemasaran kelapa, karena sampai saat ini petani berperan sebagai penyedia bahan baku. Melalui pola ini, petani dapat menikmati nilai tambah dari proses pengolahan.
Sebagai tindak lanjut, Mr. Gen akan melakukan kunjungan kembali ke Balit Palma untuk mematangkan rencana ini. Sebelumnya pada Sabtu (21/12/2019), Mr Gen telah berdiskusi bersama Kepala Balit Palma Ismail Maskromo. Terobosan ini menjadi sesuatu yang sangat menjanjikan untuk menjamin ketersediaan energi dunia masa depan seiring menurunnya cadangan energi minyak mineral dari fosil. (sumber: Balitpalma)
