Dari Limbah Cangkang Udang Jadi Salep Gel Penyembuh Luka

TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menghadirkan inovasi di bidang kesehatan melalui pengembangan salep gel berbasis nano kitosan bernama Chitogel. Produk ini dirancang sebagai solusi modern untuk mempercepat proses penyembuhan luka.

Produk ini dikembangkan Perekayasa Ahli Utama BRIN, Etik Mardliyati bersama tim dari Pusat Riset Sistem Nanoteknologi, Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM).

Pengembangan Chitogel tidak terjadi secara instan. Sejak 2010, Etik telah meneliti pemanfaatan kitosan, khususnya dalam sistem penghantaran obat (drug delivery system). Namun, ia menyadari bahwa implementasi teknologi tersebut membutuhkan waktu panjang.

Berangkat dari hal tersebut muncul sebuah gagasan untuk mengembangkan produk yang lebih sederhana dan aplikatif, yakni untuk perawatan luka.

“Secara teori, kitosan sangat bagus, apalagi jika dibuat dalam bentuk nano. Dia bisa membentuk lapisan pelindung pada luka,” ujar Etik dalam pameran lab Indonesia 2026, Rabu (15/04/2026) di ICE BSD.

Etik menjelaskan bahwa konsep penyembuhan luka telah bergeser dari metode lama yang mengeringkan luka menjadi pendekatan moist wound healing, yaitu menjaga kelembaban luka agar proses regenerasi jaringan berlangsung lebih optimal tanpa terpapar bakteri.

“Kitosan nano ini bekerja dengan melapisi permukaan luka, menjaga kelembaban sekaligus melindungi dari bakteri. Jadi proses penyembuhan bisa lebih cepat dan efektif” jelas Etik.

Etik menjelaskan bahwa Chitogel merupakan gel modern yang diformulasikan dari kitosan yang berasal dari limbah cangkang udang. Bahan tersebut diolah melalui proses kimia hingga menjadi kitosan yang memiliki berbagai manfaat, terutama dalam bidang medis, termasuk penyembuhan luka.

Saat ini, penelitian Chitogel sudah sampai pada tahap pembuktian di laboratorium. Etik menargetkan dalam beberapa bulan ke depan dapat memperoleh data ilmiah yang lebih spesifik terkait efektivitasnya, yakni dengan pengujian wound scratch, yaitu pengujian pada sel kulit (fibroblas) yang dibiakkan di laboratorium untuk melihat kecepatan penutupan luka.

Dalam pengembangan selanjutnya, Etik berharap inovasi ini dapat meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT), yang telah dilengkapi dengan data ilmiah yang kuat, serta menarik minat industri untuk proses hilirisasi.

“Penelitian awal sudah kami lakukan tahun lalu, dan tahun ini kami fokus pada penguatan data ilmiahnya,” pungkas Etik. (Sumber: brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author