BRIN dan Arkeolog Dunia Identifikasi Tipologi Fisik Situs Liang Bua

Jakarta, Technology-Indonesia.com – Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan para peneliti dan arkeolog dunia untuk membahas dan mengidentifikasi tipologi fisik situs Liang Bua.

Mereka adalah Kira Westaway selaku peneliti dari Macquarie University Australia; Yousuke Kaifu dari National Museum of Nature and Science, Tokyo, Jepang; Jatmiko dari BRIN, dan I Made Agus Julianto selaku Dosen Universitas Udayana. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian acara “Commemoration of the 20th Anniversary of Homo Floresiensis Discovery” hari ke-2, Selasa (3/10/2023).

Kira menjelaskan urutan stratigrafi dan kaitannya dengan evolusi yang terjadi menjadi hal sangat penting. Karena di gua Liang Bua, proses sedimentasi dan pengendapan lapisan tanah sangat kompleks. Penjelasannya, satu gua dengan kondisi kering dihuni oleh manusia sebagai rumahnya mereka.

Karena itu menjadi pertimbangan berbagai aspek. Di antaranya, aspek giogenik deposit yaitu deposit yang disebabkan oleh endapan mineral lain di dalam gua. Sedangkan aspek Biogenik Deposit dibawa oleh agen biologi adalah hewan atau predator. Lalu, aspek antropogenik deposit yaitu diendapkan oleh hasil aktivitas manusia.

Konteks rinci Homo Floresiensis adalah salah satu alasan utama mengapa bukti-bukti tersebut sangat meyakinkan. “Bagaimana mereka hidup di dalam gua dan dipengaruhi oleh lingkungan di luar gua yang membantu kita memahami spesies tersebut. Waktu benar-benar mengubah segalanya!” ujar Kira. 

Menurutnya, penanggalan baru mengungkapkan bahwa batas antara Homo Floresiensis dan Homo Sapiens lebih dekat dari yang diperkirakan. Apakah kedatangan manusia modern ke wilayah tersebut lebih signifikan dari yang diperkirakan sebelumnya.

Atau apakah terjadi keruntuhan vegetasi yang signifikan pada suhu 60 ka di awal kepunahannya. “Penemuan Homo Floresiensis mempunyai dampak yang sangat besar terhadap arkeologi dunia, namun juga mengubah kehidupan setiap orang yang menyentuhnya,” ungkapnya.

Sementara menurut Yousuke, apa yang terjadi di Liang Bua sangat detail menjelaskan komparasi atau perbandingan antara hominite atau hominin yang ada di Afrika maupun yang ada di asia, seperti di Indonesia. Indonesia memiliki 3 teori yang menjelaskan pandangan homo erectus arkait, tipik, dan progresif. 

Homo Floresiensis berasal dari Flores. Secara teori homo harbilis sebagai pembandingnya, juga homo erectus yang bisa dibandingkan menyinggung kemungkinan patologi atau penyakit kelainan.

Homo Floresiensis mungkin berevolusi dari Homo Erectus Asia awal yang diwakili oleh kumpulan fosil sangiran atau Trinil, bersama dengan Homo Iuzonensis. Ini pentingnya lingkungan pulau terpencil terhadap evolusi manusia,” terka Yousuke. 

Sedangkan Jatmiko menguraikan karakteristik tipologi artefak litik pada situs-situs di Cengkuang Soa yang memperlihatkan variasi bentuk yang lebih kompleks berupa alat-alat massif dan serpih dari kala pleistosen bahwa-tengah. Sedangkan di situs Liang Bua umumnya berupa alat-alat serpih dan batu inti dari kala akhior pleistosen yang umurnya relatif lebih muda. 

Temuan artefak litik di kawasan Cekungan Soa merefleksikan adanya kehadiran manusia awal di wilayah indonesia bagian timur, khususnya di Flores dan diduga merupakan produk dari manusia purba homo erectus. Kehadiran manusia purba di Flores (Cengkungan Soa) telah dibuktikan melalui penemuan fosil manusia matamenge yang mempunyai kemiripan dengan hobbit dari Liang Bua, dalam hal ini homo floresiensis.

Selanjutnya, I Made Agus menambahkan terkait kehadiran 12 kerang laut yang dimodifikasi secara budaya di Liang Bua. Ini adalah bukti kuat dari budaya material simbolik yang menunjukkan bahwa masyarakat di daerah tersebut tidak hanya mengeksploitasi moluska untuk makanan tetapi juga memasukkan bahan tersebut ke dalam sistem sosial mereka.

Hal itu sebagai representasi teknologi sosial dan taksa laut. ”Ada sejumlah 1.4 % moluska NISP di lokasi, namun gua tersebut terletak 40 km dari pantai utara atau selatan dan 100 km dari pantai barat,” tutupnya. (Sumber brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author