TechnologyIndonesia.id – Tujuh pelajar Indonesia berhasil meraih medali emas pada ajang Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition atau IPITEx 2026 di Bangkok, Thailand. Prestasi ini diraih melalui inovasi SoilPIN, alat portabel pemantau kesehatan tanah berbasis kecerdasan buatan.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengapresiasi capaian tersebut sebagai bukti talenta muda Indonesia mampu melahirkan solusi digital yang menjawab kebutuhan sektor pertanian.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kemkomdigi, Edwin Hidayat Abdullah menyampaikan bahwa inovasi ini menunjukkan bahwa anak muda Indonesia mampu membaca persoalan nyata dan menjawabnya dengan teknologi.
“SoilPIN adalah contoh bagaimana digitalisasi bisa memberi manfaat langsung bagi petani dan lingkungan,” ujar Dirjen Edwin di Jakarta Pusat, Rabu (13/01/2026).
Menurut Dirjen Edwin, inovasi ini menjawab kebutuhan nyata sektor pertanian. “Teknologi sederhana dan portabel membuka akses informasi tanah bagi petani kecil dan wilayah dengan layanan agronomi terbatas,” ungkapnya.
SoilPIN membantu petani mengetahui kondisi tanah secara cepat, langsung di lahan, dan berbasis aplikasi ponsel.
Dengan bentuk pin portabel, alat ini mengukur delapan parameter tanah seperti pH, kelembaban, suhu, salinitas, serta unsur hara N, P, dan K. Data terkirim ke aplikasi dan dianalisis oleh teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Perwakilan tim SoilPIN, Armand Muhammad Abdullah menyatakan pengguna menerima informasi kondisi tanah dan rekomendasi tindakan perbaikan lahan.
“Petani sering mengambil keputusan tanpa data tanah yang akurat. SoilPIN memberi jawaban cepat di lapangan. Itu yang kami kejar,” jelasnya.
Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Ditjen Ekosistem Digital Kemkomdigi, Sonny Sudaryana menyatakan ide SoilPIN tengah dihubungkan dengan kebutuhan publik melalui Garuda Spark Innovation Hub.
“Garuda Spark kami rancang agar inovasi tidak berhenti di lomba. Kami bantu agar solusi seperti SoilPIN bisa dipakai petani, diuji di lapangan, dan berkembang menjadi produk yang bermanfaat luas,” ujarnya.
Ia menambahkan pengembangan ekosistem menjadi kunci agar teknologi memberi dampak nyata. “Kami ingin inovasi dipakai masyarakat. Ketika petani bisa menghemat biaya, meningkatkan hasil, dan menjaga tanahnya, di situlah teknologi bekerja untuk publik,” katanya.
Sebelum tampil di Bangkok, SoilPIN diuji coba di Bandung dan Jakarta. Inovasi ini juga telah memperoleh perlindungan hak cipta dari Kementerian Hukum RI.
Capaian ini menunjukkan solusi publik bisa lahir dari talenta muda. Dengan ekosistem yang tepat, teknologi sederhana berbasis AI dapat menjawab persoalan pangan dan lingkungan secara nyata.
Pelajar Indonesia Raih Medali Emas IPITEx 2026 Lewat SoilPIN untuk Pantau Kesehatan Tanah
