Bukan Sekadar Pulang Kampung, BRIN Ungkap Makna Sosial dan Budaya Mudik Lebaran

TechnologyIndonesia.id – Tradisi mudik setiap menjelang Hari Raya Idulfitri sudah menjadi fenomena tahunan di Indonesia. Menjelang Lebaran, jutaan orang melakukan perjalanan dari kota tempat mereka bekerja menuju kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga. Dari sudut pandang ilmu sosial, mudik ternyata memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar pulang kampung.

Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aulia Hadi mengatakan tidak ada catatan pasti kapan tradisi mudik mulai muncul di Indonesia. Meski demikian, sejumlah pakar memperkirakan praktik pulang ke kampung halaman sudah ada sejak masa kerajaan di Nusantara.

“Tidak ada data spesifik yang menjelaskan sejak kapan mudik dimulai. Tetapi sejumlah pakar menyebut fenomena pulang ke kampung halaman ini sudah ada sejak zaman kerajaan di Nusantara,” jelas Aulia, Senin (16/3/2026).

Menguat Sejak Era Urbanisasi

Tradisi mudik semakin menguat pada masa Indonesia modern, terutama sejak era 1970-an ketika industrialisasi dan urbanisasi meningkat pesat. Pada periode tersebut, banyak masyarakat dari daerah berpindah ke kota-kota besar untuk bekerja, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, hingga Medan dan Makassar.

Perpindahan penduduk tersebut melahirkan pola mobilitas baru yaitu bekerja di kota besar, tetapi tetap mempertahankan hubungan kuat dengan kampung halaman. Ketika momen penting tiba, seperti Lebaran, para perantau kembali pulang untuk berkumpul bersama keluarga.

“Pada era industrialisasi tahun 1970-an, urbanisasi meningkat dan banyak kota menjadi pusat industri. Dari situ tradisi mudik semakin kuat,” ujar Aulia.

Fenomena perjalanan massal seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Negara dengan populasi besar dan wilayah luas juga memiliki tradisi mobilitas serupa pada momen tertentu.

Di Tiongkok, mobilitas besar terjadi saat perayaan Tahun Baru Imlek yang dikenal sebagai Chunyun, yang bahkan disebut sebagai salah satu pergerakan manusia terbesar di dunia. Sementara di India mobilitas besar sering terjadi saat festival Diwali, sedangkan di Amerika Serikat saat perayaan Thanksgiving dan Natal.

Kesamaan dari berbagai fenomena tersebut adalah adanya mobilitas pekerja yang meninggalkan daerah asal untuk bekerja di kota lain. Ketika hari besar tiba, mereka kembali ke rumah untuk berkumpul bersama keluarga.

Budaya Komunal yang Kuat

Di Indonesia, mudik memiliki makna sosial yang sangat kuat. Salah satu makna utama tradisi ini adalah menjaga hubungan kekeluargaan.

Menurut Aulia, masyarakat Indonesia memiliki budaya komunal yang kuat, yakni budaya yang menekankan pentingnya hubungan sosial dan kekeluargaan. Dalam budaya ini, hubungan keluarga besar tetap dijaga, meskipun anggota keluarga tinggal di tempat berbeda.

“Makna sosial terbesar mudik adalah menjaga relasi keluarga dan ikatan kekerabatan, terutama dengan orang tua dan keluarga besar,” ujarnya.

Momen Lebaran menjadi waktu yang dianggap paling tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Bahkan, diaspora Indonesia di luar negeri sering menyesuaikan jadwal liburnya agar dapat pulang pada momen tersebut.

Selain mempererat hubungan keluarga, mudik juga menjadi momen nostalgia. Para perantau dapat kembali mengunjungi rumah lama, bertemu teman masa kecil, serta melihat perubahan di daerah asal.

Bagi banyak orang, perjalanan ini juga menjadi ruang refleksi. Mereka bisa melihat perbedaan pengalaman hidup di kota besar dengan kondisi di kampung halaman.

“Ketika pulang, kita melihat perubahan daerah asal sekaligus berefleksi, apa yang berubah, apa yang tetap, serta apa yang bisa kita kontribusikan untuk daerah tersebut,” kata Aulia.

Selain itu, mudik juga menjadi sarana berbagi pengalaman dan cerita. Para perantau sering menceritakan kehidupan di kota besar atau bahkan di luar negeri kepada keluarga dan kerabat di kampung. Pertukaran cerita tersebut dapat memunculkan imajinasi dan mimpi baru bagi generasi muda di daerah.

Fenomena mudik juga membawa dampak ekonomi yang cukup besar bagi daerah asal. Para perantau biasanya membawa oleh-oleh, memberikan uang kepada kerabat, atau mengadakan acara keluarga.

Menurut Aulia, tradisi memberi uang atau hadiah kepada keluarga dan kerabat juga menjadi bagian dari dinamika sosial mudik. Aktivitas tersebut menciptakan perputaran uang yang cukup besar di masyarakat.

“Secara tidak langsung mudik juga menggerakkan ekonomi, karena para perantau biasanya membawa uang, oleh-oleh, dan berbagi dengan keluarga di kampung halaman,” jelasnya.

Faktor Religiositas

Selain budaya komunal, faktor religiositas juga memperkuat tradisi mudik di Indonesia. Mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam menjadikan Idulfitri sebagai momen penting untuk berkumpul bersama keluarga.

Momen Lebaran menandai kemenangan setelah sebulan beribadah Ramadan. Lebaran menjadi kombinasi unik yang merepresentasikan religiositas atau spiritualitas (puasa, zakat, sedekah, dan sholat Id) dengan tradisi kultural (mudik, berbagi amplop, serta ketupat dan opor) yang menguatkan kekerabatan.

Di beberapa negara Barat, perayaan hari besar keagamaan sering kali lebih dimaknai sebagai tradisi keluarga dibandingkan praktik keagamaan yang kuat. Misalnya di Belanda, perayaan Natal tetap dirayakan sebagai momen berkumpul bersama keluarga, meskipun tidak selalu berkaitan dengan praktik religius yang kuat. Berbeda dengan banyak negara di Asia, termasuk Indonesia, di mana unsur religiositas masih menjadi bagian penting yang menyertai tradisi berkumpul tersebut.

Di era teknologi digital, orang sebenarnya dapat berkomunikasi dengan keluarga melalui video call atau media sosial. Namun menurut Aulia, teknologi tidak bisa sepenuhnya menggantikan interaksi langsung.

Sebagai makhluk sosial, manusia tetap membutuhkan pertemuan fisik. Interaksi seperti berjabat tangan, memeluk orang tua, atau mencium tangan memiliki makna emosional yang tidak dapat digantikan oleh komunikasi virtual.

“Pertemuan fisik tetap tidak bisa digantikan teknologi. Ada bahasa tubuh, pelukan, atau mencium tangan orang tua yang memberikan energi emosional tersendiri,” ujarnya.

Aulia mengingatkan para pemudik agar mempersiapkan perjalanan dengan baik, terutama menjaga kesehatan dan keselamatan selama perjalanan. “Mudik itu tujuannya untuk bertemu keluarga dan mempererat hubungan, jadi yang paling penting adalah tetap berhati-hati selama perjalanan, agar bisa sampai tujuan dengan selamat,” pungkasnya. (Sumber: brin.go.id, Ilustrasi: ChatGPT)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author