Perkuat Riset Maritim, BRIN Bakal Bangun Tiga Kapal Riset Lewat Skema KPBU dan PHLN

TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menyiapkan langkah strategis memperkuat riset maritim nasional dengan membangun tiga kapal riset baru melalui skema pembiayaan inovatif. Proyek ini dilakukan melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) serta Pinjaman/Hibah Luar Negeri (PHLN).

Direktur Pengelola Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto menyampaikan bahwa pembangunan satu kapal riset samudera baru dilakukan melalui skema KPBU, sedangkan dua kapal riset (satu kapal riset samudera, dan satu kapal riset pesisir) dikelola melalui skema PHLN.

“Proyek ini merupakan inisiatif strategis bagi kita untuk memperkuat riset ilmiah kelautan nasional melalui pembangunan, pengelolaan, dan pengoperasian alamat kapal riset secara terpadu,” terang Nugroho dalam Market Sounding Proyek KPBU Kapal Riset Nasional BRIN di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Proyek ini mencakup pengoperasian dua kapal riset yang sedang dalam proses pengadaan dari skema PHLN untuk pinjaman luar negeri, serta pembangunan satu unit kapal baru dengan skema KPBU, dengan melengkapi dan menerapkan fleet management unit untuk optimalisasi pengelolaan kapal riset.

Dalam proyek ini, BRIN bertindak sebagai Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK). Skema KPBU yang digunakan adalah DBOFMT (Design, Build, Finance, Operate, Maintain, Transfer) untuk kapal baru, serta skema Finance, Operate, Maintain (FOM) untuk dua kapal PHLN.

“Secara total, proyek ini akan mengelola tiga kapal riset dengan target 900 hari layar per tahun, masing-masing 300 hari layar per kapal,” ucapnya.

Kapal riset samudera yang akan dibangun melalui KPBU dirancang sebagai kapal multi-purpose berstandar internasional dengan kemampuan jelajah hingga 6.000 mil laut dan endurance sekitar 45 hari. Kapal sepanjang ±75 meter ini akan mampu mengakomodasi 25 peneliti dan 12 awak kapal.

Kapal dilengkapi sistem propulsi senyap (silent propulsion) guna meminimalkan gangguan terhadap biota laut, serta berbagai instrumen riset terpasang (mounted) dan portabel seperti multi-beam echo sounder, gravimeter, CTD, ADCP, serta remote tele-operating vehicle (ROV).

Peralatan portabel dirancang agar dapat dipindahkan antar kapal guna mencegah duplikasi investasi dan meningkatkan efisiensi pengadaan.

Saat ini proyek berada pada tahap market sounding. Tahap berikutnya meliputi; Market consultation (Kuartal II 2026), Prakualifikasi (pertengahan 2026), Request for Proposal (Kuartal III 2026), Target financial close pada Kuartal II 2027.

Melalui proyek ini, Nugroho menegaskan BRIN ingin membangun armada riset maritim yang kuat sebagai fondasi science-based policy, mempercepat eksplorasi sumber daya laut secara berkelanjutan, serta memperkuat posisi Indonesia dalam riset kelautan di tingkat regional dan global.

“Kami mengundang masukan dari seluruh pemangku kepentingan agar proyek ini semakin matang dan mampu menjadi terobosan pendanaan riset kelautan nasional,” tutupnya. (Sumber: brin.go.id, ilustrasi: ChatGPT)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author