Peneliti BRIN Kembangkan Pelapis Kemasan Kertas dari Minyak Nabati

TechnologyIndonesia.id – Penggunaan kemasan makanan berbahan kertas semakin populer, terutama untuk makanan dan minuman siap saji yang dibawa pulang. Selain praktis dan ringan, harga kemasan kertas dinilai relatif terjangkau.

Agar kertas tidak bocor saat bersentuhan dengan air atau minyak, biasanya diperlukan lapisan pelindung tambahan. Selama ini, lapisan tersebut didominasi oleh bahan plastik seperti polyethylene.

Akibatnya, kemasan kertas menjadi sulit didaur ulang atau dikomposkan secara sempurna. Selain itu, komponen-komponen plastik, seperti plasticizer-nya, dapat bermigrasi ke dalam makanan/minuman dan dapat memicu berbagai efek negatif bagi kesehatan.

Melihat persoalan tersebut, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Zatil Afrah Athaillah menilai perlunya bahan pelapis kertas yang lebih aman dan ramah lingkungan.

“Lapisan ini berfungsi mencegah migrasi air dan minyak dari makanan, supaya tidak bocor atau merembes. Tapi karena bahannya plastik, ada persoalan keberlanjutan dan juga keamanan pangan,” kata Zatil dikutip dari laman brin.go.id pada Rabu (21/1/2026).

Berangkat dari tiga alasan utama, yakni kepraktisan, keberlanjutan, dan keamanan pangan, Zatil mengembangkan metode pelapisan kertas menggunakan bahan lemak nabati. Penelitian ini mulai dikerjakan sejak awal 2025.

Uji Minyak Nabati sebagai Pelapis Kertas

Dalam risetnya, Zatil menguji berbagai jenis minyak nabati, seperti minyak walnut, kemiri, kedelai, dan linseed. Minyak-minyak ini dipilih karena memiliki karakteristik yang memungkinkan terbentuknya lapisan pelindung di permukaan kertas.

Minyak-minyak lain seperti minyak sawit dan zaitun juga sempat diuji, tetapi hasilnya belum memenuhi kriteria karena masih tembus air dan minyak.

Serangkaian pengujian dilakukan pada berbagai jenis minyak nabati. Uji paling dasar dilakukan dengan meneteskan air dan minyak di permukaan kertas. Selanjutnya diamati selama 60 menit, apakah terjadi rembesan ke bagian bawah.

Jika kertas tidak menunjukkan perubahan tampilan dan tidak tembus air maupun minyak hingga batas waktu tersebut, maka pelapisan dinilai berhasil.

Pengamatan juga dilakukan menggunakan mikroskop 3D untuk melihat bentuk tetesan air dari sisi samping kertas dan sudut kontaknya dapat diukur. Pada kertas tanpa pelapis, tetesan air cenderung melebar. Sebaliknya, pada kertas yang telah dilapisi minyak nabati, tetesan air tampak lebih membulat.

Pengujian lain meliputi uji kekuatan dan kelenturan kertas menggunakan texture analyzer, uji gugus fungsi pada kertas dengan fourier transform infrared (FTIR), uji kristalinitas menggunakan x-ray diffraction (XRD), uji kekentalan minyak, serta analisis komposisi asam lemak.

Morfologi kertas juga diamati menggunakan berbagai teknik mikroskopi, termasuk scanning electron microscopy (SEM).

“Dari sisi sifat mekanik, kertas berlapis minyak nabati menunjukkan kekuatan dan kelenturan yang mirip, bahkan dalam beberapa kasus lebih baik, dibandingkan kertas tanpa pelapis,” tambah Zatil.

Sudah Dipatenkan dan Siap Dikembangkan

Saat ini, hasil riset masih berupa lembaran kertas yang telah dilapisi, belum dibentuk menjadi produk kemasan seperti gelas atau wadah makanan.

Meski demikian, metode ini telah didaftarkan dan memperoleh paten pada 2025 melalui skema pendanaan Rumah Program Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) BRIN.

Ke depan, Zatil berharap riset ini dapat dilanjutkan dengan pengujian sensori untuk mengetahui apakah lapisan tersebut memengaruhi rasa atau aroma minuman, seperti kopi atau teh.

Ia juga tertarik mengembangkan bahan pelapis dari epicuticular lipid yang berasal dari lapisan luar daun atau kulit buah, yang selama ini dianggap limbah.

“Daun atau kulit buah sebenarnya mengandung lipid alami. Kalau bisa dimanfaatkan sebagai bahan pelapis, itu akan sangat menarik karena berasal dari limbah,” ujarnya.

Inovasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pengembangan kemasan makanan berbasis kertas yang lebih aman dan berkelanjutan. (Sumber: brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author