Ketua Program Mapiptek Edy Kuscahyanto menyayangkan kurangnya peminat mahasiswa dalam penulisan ilmiah populer. Padahal menulis ilmiah populer memiliki manfaat yang tidak sedikit bagi mahasiswa. Menulis ilmiah dengan bahasa yang gampang dicerna memudahkan dalam menuangkan gagasan untuk membuat laporan penelitian juga bisa menjadi sumber pendapatan.
Hal itu diutarakan Edy di sela pelatihan hari terakhir sesaat sebelum mengumumkan peserta terbaik di Depok, Rabu, (9/2). “Sayang sekali, karena hanya sedikit yang mengemballikan tugas. Padahal kami sudah berusaha untuk merangsang peserta menulis dengan memberikan kenang-kenangan bagi penulis terbaik,”ujarnya.
Terbukti dari 37 peserta pelatihan hanya 13 yang menyerahkan tugas menulis. Secara umum Edy Kuscahyanto menilai mahasiswa sudah mencoba menulis secara populer tema yang diberikan. Meski demikian ada beberapa tulisan yang terlalu jauh mengupas tema yang ditentukan. “Ada juga mahasiswa yang menggali ide orisinal mereka, bahkan ada yang mencoba menawarkan solusinya. Ada lima tulisan yang kami anggap terbaik,” katanya .
Kelima penulis terbaik yaitu Diana Ayu Nindita, (MIPA), Fitria Nur Syamsiah (FISIP), Asef Purwanti (MIPA), Faldo Maldini (MIPA), Dian Nur Insani (MIPA). Masing-masing mahasiswa tersebut mendapat bingkisan berupa MP3. Peserta lainnya yang menyerahkan tugas juga mendapatkan kenangan menarik dari Danone Aqua.
Pelatihan penulisan di Universitas Indonesia merupakan pelatihan rangakaian pertama dari delapan perguruan tinggi yang menjadi tempat pelatihan penulisan ilmiah populer. Pelatihan yang berlangsung dari 8 dan 9 F ebruari2011 ini diikuti sekitar 37 mahasiswa dari Fakultas Matematikan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Teknik, Fakultas Kesehatan Masyarakat serta Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik.
Hari pertama pelatihan, peserta diberikan pengetahuan mengenai penulisan karya ilmiah oleh Iwan Samariansyah dari Mapiptek yang juga redaktur harian Jurnal Nasional. Pelatihan hari pertama diakhiri dengan latihan menulis dengan tema air dan lingkungan. Hari kedua, diisi dengan penyuntingan serta pengenalan media yang menghadirkan Irwan Julianto dari Kompas yang membeberkan mekanisme tulisan-tulisan layak muat di sebuah media. (afn)