Kepala Bappenas: Daya Saing Daerah Perkuat Fondasi Pembangunan Nasional

TechnologyIndonesia.id – Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) merupakan instrumen strategis untuk memperkuat fondasi pembangunan nasional. Sejatinya, daya saing nasional bertumpu pada daya saing daerah, hingga ke level desa dan individu.

Pesan ini ditegaskan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy dalam Peluncuran Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 di Gedung BJ Habibie, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta Pusat, Selasa (24/2/2026).

“Indeks daya saing bukan sekadar angka atau peringkat, melainkan cerminan kapasitas kolektif bangsa, mulai dari pimpinan tertinggi hingga masyarakat paling bawah, dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat,” tegasnya.

Rachmat Pambudy menggarisbawahi bahwa daya saing nasional tidak berdiri sendiri. Ia dibangun dari daya saing provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa. Bahkan pada akhirnya, daya saing ditentukan oleh kualitas individu-individu di dalamnya.

Belajar dari pengalaman masa lalu, ia mencontohkan ketika sektor pertanian kalah bersaing, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya petaninya, melainkan seluruh ekosistem pembinaannya, mulai dari penyuluh, peneliti, hingga pengambil kebijakan. Prinsip serupa berlaku dalam konteks pembangunan nasional saat ini.

Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran lima persen belum cukup untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, pertumbuhan ekonomi harus lebih tinggi sekaligus berkualitas.

Pertumbuhan tersebut, menurutnya, harus berjalan seiring dengan pemerataan, penciptaan lapangan kerja, serta pengurangan kemiskinan. Ia menyoroti adanya daerah dengan pertumbuhan tinggi namun disertai ketimpangan yang besar. “Kondisi yang tidak boleh dibiarkan,” tegasnya.

Dalam konteks ini, peran riset dan inovasi menjadi krusial untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat pemerataan.

Produktivitas dan Inovasi Jadi Kunci Daya Saing

Kepala Bappenas menegaskan bahwa produktivitas merupakan inti dari daya saing. Ia menyoroti Total Factor Productivity (TFP) Indonesia yang masih memiliki ruang besar untuk ditingkatkan, terutama melalui penguatan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur, serta inovasi.

Data menunjukkan adanya korelasi kuat antara Indeks Inovasi Daerah (IID) dengan IDSD. Provinsi dengan tingkat inovasi tinggi cenderung memiliki daya saing lebih kuat. Sebaliknya, sejumlah provinsi di kawasan timur Indonesia masih berada pada kategori rendah, sehingga memerlukan intervensi kebijakan yang lebih presisi dan berbasis bukti.

Ia mendorong agar IDSD dirancang berbasis kinerja dan terintegrasi dalam proses perencanaan serta penganggaran nasional, sehingga tidak berhenti sebagai dokumen evaluatif semata.

Tiga Arah Strategis untuk BRIN

Dalam penguatan sistem ilmu pengetahuan dan teknologi nasional, Rachmat Pambudy memberikan tiga arahan strategis kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Pertama, mengarahkan riset pada outcome dan dampak sosial-ekonomi yang terukur. Kedua, menyelaraskan agenda riset dengan prioritas pembangunan nasional, termasuk industrialisasi dan perencanaan pembangunan. Ketiga, memperkuat hilirisasi dan intermediasi teknologi agar hasil riset diadopsi oleh industri, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Ia menegaskan bahwa penelitian dan inovasi tidak boleh berhenti di laboratorium atau publikasi ilmiah. Dampaknya harus terasa di lapangan dan meningkatkan produktivitas masyarakat secara nyata.

Konsep people-centered development dan prinsip no one left behind menjadi penekanan penting. Inovasi teknologi harus diratakan hingga ke wilayah terluar, bukan hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Kawasan Indonesia Timur disebut memiliki potensi besar di sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan mineral. Dengan dukungan riset dan inovasi yang tepat, wilayah ini dapat menjadi motor pertumbuhan baru yang lebih inklusif.

IDSD sebagai Alat Navigasi Pembangunan

Rachmat Pambudy juga menyoroti urgensi riset di bidang kebencanaan, pangan, energi, dan air sebagai isu strategis yang langsung bersentuhan dengan ketahanan nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Ia menyambut baik pemanfaatan IDSD sebagai alat navigasi pembangunan. Menurutnya, IDSD bukan sekadar peringkat, melainkan instrumen untuk mengidentifikasi posisi, potensi, dan titik lemah daerah dalam mendorong investasi, hilirisasi, serta peningkatan produktivitas.

Dengan waktu menuju Indonesia Emas 2045 yang tersisa sekitar dua dekade, ia berharap BRIN dapat menjadi pengungkit kuat bagi pertumbuhan yang berkualitas, pemerataan yang lebih baik, serta penciptaan lapangan kerja yang masif.

“Penelitian dan inovasi itu penting. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana hasilnya benar-benar meningkatkan produktivitas masyarakat,” pungkasnya. (Sumber: brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author