BRIN Targetkan Pembangunan Infrastruktur Riset KST Soekarno Rampung Tahun Ini

Cibinong, Technology-Indonesia.com – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan, selama dua tahun terakhir, BRIN fokus membangun infrastruktur riset di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, yang berlokasi di Cibinong. Pembangunan kawasan ini menggunakan pembiayaan setidaknya dari 12 Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

“Kawasan ini sudah kita bangun sejak 2019, dan kalau sampai tahun ini, Insyaallah ini memang sudah yang terakhir,” kata Handoko, di Gedung Genomik, KST Soekarno, Cibinong, Rabu (5/7/2023).

Dia menerangkan, hingga akhir tahun ini, pembangunan infrastruktur riset akan menghabiskan dana sekitar Rp 5 triliun. Untuk 2024, lanjut dia, tidak dilanjutkan untuk pembangunan infrastruktur riset.

“Di 2024 kita akan ‘liburkan’ dulu untuk infrastruktur, karena kebijakan Pak Presiden tidak boleh ada yang carry over, padahal, kan, kita biasanya multi-years (dengan SBSN),” bebernya.

Namun, dia mengusulkan tambahan pembangunan laboratorium infectious, yang keperluannya mendesak, kendati pembiayaan dari SBSN tidak cukup hanya satu tahun.

Dijelaskannya, KST Soekarno dipusatkan untuk riset hayati, yang merupakan riset dasar, seperti melihat sistem molekul, struktur protein, struktur sel, dan sebagainya. Kemudian diaplikasikan untuk untuk pertanian – termasuk perikanan darat dan peternakan, dan kesehatan.

Fasilitas riset KST Soekarno, sebut Handoko, terbuka untuk semua pihak, termasuk industri. Itu sebabnya, dari luasan lahan 190 hektare di kawasan ini, 30 hektare merupakan kawasan komersial.

“Kita menyediakan juga fasilitasi untuk tenant industri berbasis Research and Development (RnD). Dan itu sudah beberapa, ada yang memproduksi reagen, enzim, vaksin, dan sebagainya,” urai dia.

Handoko mengatakan, untuk pertama kalinya di Indonesia dalam satu kawasan, menjadi tempat untuk mengembangkan vaksin. “Termasuk ada uji animal Biosafety Level-3 (BSL-3) untuk mencit, serta animal BSL-3 untuk macaca. Dan itu sama sekali tidak murah. Itu kami kerjasamakan dengan industri farmasi kita,” tuturnya.

Mengenai layanan kesehatan berbasis genomik, lanjutnya, saat ini sedang direvitalisasi. Revitalisasi yang dimaksud, ucap dia, karena kayanan sifatnya komersial, maka dimitrakan dengan mitra pelaku usaha. Hal ini bertujuan menumbuhkan ekonomi baru berbasis riset.

“Jadi ilmunya, knowledge-nya dari para periset kami, peralatan bisa memakai yang ada di sini, tetapi jasa layanannya itu sendiri kita mitrakan dengan pelaku usaha. Supaya kita bisa mengelola dengan governance yang lebih baik, yang bisa sesuai dengan regulasi keuangan negara misalnya, dan juga di sisi lain menumbuhkan ekonomi baru berbasis riset. Itu akan segera kita lansir,” pungkasnya.

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author