Technology-Indonesia.com – Candi Borobudur merupakan salah satu ikon peninggalan sejarah dunia yang telah diakui UNESCO sebagai situs warisan dunia sejak 1991. Candi Borobudur yang berlokasi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini juga menjadi salah satu tempat ibadah bagi umat Buddha di Indonesia bahkan dunia.
Semua keistimewaan tersebut membuat banyak peneliti Indonesia bahkan peneliti dunia kerap meneliti tentang Candi Borobudur ini.
Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ahmad Najib Burhani mengatakan proyek digitalisasi Candi Borobudur kini telah berhasil menyelesaikan versi digital 3 Dimensi (3D) untuk Relief Karmawibhangga.
Program digitalisasi ini dilakukan sejak masih bernama LIPI melalui Pusat Penelitian Kewilayahan pada tahun 2017, sebelum berintegrasi ke dalam BRIN.
“Kegiatan tersebut dikolaborasikan dengan Art Research Center (ARC) Ritsumeikan University, Jepang, serta Balai Konservasi Borobudur – Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” jelas Najib, pada kegiatan Ekspose Digitalisasi Candi Borobudur, di BRIN Kawasan Sains Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, Senin (30/10/2023).
Najib mengatakan penelitian ini menggunakan pendekatan humaniora digital (digital humanities). “Itu melibatkan ilmuwan sosial, arkeolog, dan ilmuwan komputer untuk digitalisasi Borobudur. Harapannya adalah agar masyarakat dapat menikmati Relief Karmawibhangga yang selama ini masih tertutup kaki candi dan tidak bisa dinikmati publik,” ujarnya.
Ia berharap, proyek penelitian ini dapat terus dilanjutkan untuk menjadi data digital Candi Borobudur dan menggali peradaban di masa itu. Sehingga, candi Buddha terbesar di dunia ini dapat menjadi tempat penelitian nasional dan mancanegara.
Rekonstruksi Berbasis Pembelajaran Mendalam
Peneliti ARC Ritsumeikan University, Jepang, Satoshi Tanaka dalam paparannya mengatakan, penelitian bersama ini mengambil tema “Rekonstruksi 3D Relief Borobudur dari Foto Monokuler 2 Dimensi (2D) Berdasarkan Pembelajaran Mendalam yang Ditingkatkan dengan Tepi Lembut”.
Dalam penelitian ini, dirinya bergabung bersama peneliti lain, diantaranya Liang Li, seorang profesor dari ARC Ritsumeikan University, Jepang, Fadjar Ibnu Thufail, Kepala Pusat Riset (PR) Kewilayahan BRIN, dan Brahmantara dari Balai Konservasi Borobudur – Dhirektorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
“Kami mengusulkan metode rekonstruksi berbasis pembelajaran mendalam untuk benda cagar budaya 3D. Metode rekonstruksi yang diusulkan menggunakan foto monokuler tunggal dan memprediksi nilai kedalamannya berdasarkan foto monokuler jaringan estimasi kedalaman,” jelasnya.
Sementara sebagian besar penelitian terbaru berfokus pada pemandangan dengan tepian yang tajam (kelengkungan tinggi) dan perbedaan kedalaman yang besar, seperti pemandangan dalam dan luar ruangan.
Metode yang diusulkan dirancang untuk memanfaatkan performa pada pemandangan dengan perbedaan kedalaman kecil dan tepi lembut (kelengkungan rendah).
“Ide kuncinya adalah melibatkan tepi lunak sebagai informasi panduan dalam jaringan estimasi kedalaman. Penelitian kami menunjukkan efektivitas metode yang diusulkan dengan menerapkannya pada relief tersembunyi Candi Borobudur,” jelas dia.
Disebutkannya, informasi 3D relief hanya bisa diperkirakan dari foto monokuler lama yang ada, dengan akurasi rekonstruksi mencapai 97 persen untuk validasi data.
“Kami juga mengintegrasikan relief tersembunyi yang direkonstruksi dengan data pindaian 3D dari wilayah yang terlihat, dan mengeksekusinya hingga visualisasi tembus pandang untuk data yang terintegrasi. Visualisasi ini secara bersamaan dapat memperlihatkan wilayah candi secara kasat mata maupun bagian wilayah candi yang tidak kasat mata,” bebernya.
Profesor ARC Ritsumeikan University, Jepang, Liang Li menambahkan, adakalanya ditemukan kesulitan dalam mewujudkan tampilan dari 2D menjadi 3D. Karena ada beberapa kerusakan alam dari relief aslinya akibat telah tertutup dalam waktu yang cukup lama di bagian bawah candi.
Untuk meningkatkan akurasi estimasi kedalaman, yang menunjukkan relevansi internal antara informasi mendalam dan informasi mirip semantik, dalam penelitian ini diusulkan lapisan tepi yang ditingkatkan dalam jaringan estimasi kedalaman untuk memproses tepi lunak sebagai informasi yang telah ditingkatkan.
Karena menurutnya, tepian lembut pada relief mempunyai peranan penting dalam estimasi kedalaman benda berukir. Namun, tepian yang lembut ini membuat item batas-batasnya tidak jelas, secara otomatis mengenali/memisahkan individu item sulit untuk mengestimasi kedalamannya.
“Jadi, kami mempertimbangkan menyorot tepi lembut pada gambar bermata 2D, sehingga lembut ujung-ujungnya dapat diolah secara khusus sebagai solusi. Oleh karena itu, diperlukan metode penyorotan tepi terlebih dahulu. Kami mengadopsi detektor tepi 3D yang disebut sebagai tepi berbasis opasitas yang disorot,” jelasnya.
Metode tersebut merupakan aplikasi baru dari mekanisme pengontrol opacity yang digunakan dalam Stochastic Point-Based Rendering (SPBR), dengan hasil maksimal yang dapat dilihat secara 3D.
“Kami juga mencoba memasukkan dalam model virtual reality, sehingga dapat membawa penggunanya seperti merasakan berjalan dan melihat Candi Borobudur seperti datang ke tempat aslinya,” terangnya.
Sementara itu, Brahmantara dari Balai Konservasi Borobudur mengungkapkan, proyek ini merupakan digital aset. Kelak, jika digitalisasi ini dibuka ke masyarakat, akan memudahkan bagi siapapun untuk melihat tanpa terhambat jarak dan waktu.
Berdasarkan pengalamannya, telah banyak para peneliti dari belahan dunia lain yang tertarik untuk meneliti tentang Candi Borobudur dari berbagai aspek keilmuannya.
“Dengan adanya hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan gambaran secara utuh tentang Candi Borobudur, karena seluruh bagian dari Relief Karmawibhangga yang selama ini masih tertutup kaki candi telah dapat dilihat secara lebih lengkap melalui tampilan 3D,” tandasnya.
Kepala PR Kewilayahan BRIN Fadjar Ibnu Thufail melengkapi, para ahli IT dari Jepang dalam tim mengusulkan metode estimasi kedalaman yang ditingkatkan berbasis pembelajaran mendalam dan menerapkannya pada rekonstruksi 3D relief Borobudur.
Tim mencoba memperkenalkan lapisan panduan tepi jaringan dalam mengestimasi kedalaman untuk meningkatkan akurasi rekonstruksi rincian bantuannya.
“Apalagi untuk mengekstraksi gambar tepi dari data relief yang diperlukan. Jika gagal diekstraksi menggunakan metode konvensional, maka mereka menggunakan metode berbasis opacity, yakni metode ekstraksi tepi yang juga telah diusulkan dalam penelitian kami sebelumnya,” ujarnya.
Produksi pengetahuan dari penelitian ini telah menghasilkan big data yang sangat penting, dan penggunaan artificial intellegence (AI) sangat membantu dalam menyelesaikan detail dari penelitian ini.
Adanya 3D ini juga dapat menjaga data dan dokumen digital dari bentuk atau konstruksi Candi Borobudur yang ada saat ini, dan dapat digunakan untuk aspek-aspek tertentu sesuai kebutuhan yang dianggap penting. (Sumber brin.go.id, foto: kemdikbud.go.id)
