TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menjalin kerjasama riset bioekologi orangutan dan satwa liar lainnya.
Kepala ORHL BRIN, Andes Hamuraby Rozak menyatakan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan tugas dan fungsi ORHL, khususnya dalam riset keanekaragaman hayati dan pelestarian satwa liar.
“Dalam konteks riset orangutan dan satwa liar, kita perlu saling melengkapi kekuatan agar hasil riset yang diperoleh lebih signifikan,” katanya saat penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dilakukan di Cibinong, Jawa Barat pada Senin (14/7/2025).
Penelitian ini akan difokuskan pada kawasan hutan tropis Bentang Alam Wehea-Kelay dan ekosistem penting lainnya di Kalimantan. Riset mencakup pemetaan sebaran dan populasi orangutan, serta satwa langka dan terancam punah seperti owa dan berbagai jenis mamalia.
“Riset dilakukan menggunakan kombinasi metode kamera trap dan bioakustik. Kamera trap memberikan data visual, sementara bioakustik merekam suara satwa untuk mengidentifikasi kehadiran mereka,” jelas peneliti dari Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) BRIN sekaligus penanggung jawab kerja sama, Tri Atmoko.
Kedua metode tersebut akan digabungkan untuk memperoleh data komprehensif mengenai keanekaragaman hayati di wilayah riset. Informasi ini akan memperkuat basis data keanekaragaman hayati sebagai acuan dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan.
Tri menambahkan, riset ini diharapkan dapat menghasilkan temuan-temuan ilmiah dan rekomendasi kebijakan yang mendukung pengelolaan habitat orangutan dan satwa liar secara berkelanjutan.
“Kapasitas SDM, kredibilitas, dan jejaring PRZT BRIN sangat selaras dengan strategi YKAN dalam mendukung konservasi berbasis sains dan teknologi,” ujarnya.
Kepala PRZT BRIN, Delicia Yunita Rahma berharap agar kerja sama ini dapat terus berkembang, tidak hanya sebatas riset bioekologi, tetapi juga menjangkau aspek bioprospeksi dan pemanfaatan biodiversitas untuk menghasilkan senyawa atau produk yang bermanfaat dari interaksi satwa liar.
Sementara itu, Direktur Eksekutif dan Ketua Pengurus YKAN, Herlina Hartanto, menegaskan komitmen YKAN sebagai organisasi nirlaba berbasis ilmiah dalam mendukung upaya konservasi.
“Kami mengedepankan pendekatan nonkonfrontatif dalam pelestarian alam dan berkomitmen menjalankan kajian-kajian ilmiah demi efektivitas program konservasi di Indonesia,” ungkap Herlina.
Kerja sama ini menjadi langkah penting dalam memperkuat fondasi ilmiah pengelolaan kawasan konservasi yang tidak hanya melindungi keanekaragaman hayati, tetapi juga mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia. (Sumber: brin.go.id)
BRIN dan YKAN Jalin Kerja Sama Riset Bioekologi Orangutan dan Satwa Liar di Kalimantan
