BPPT Dukung Pembangunan Jembatan Bentang Panjang

JAKARTA – Dalam pembangunan nasional, transportasi menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan. Konsep pemerataan pembangunan tidak akan berhasil tanpa dukungan transportasi yang memadai.

Pemerintah saat ini tengah menggalakkan percepatan pembangunan infrastruktur transportasi untuk meningkatkan konektivitas antar daerah. Pembangunan jembatan bentang panjang menjadi prasarana transportasi darat yang penting dalam menjaga pemerataan ekonomi bangsa, memperlancar angkutan logistik dan membuka daerah-daerah terisolir.

Kepala Balai Besar Teknologi Aerodinamika Aeroelastika dan Aeroakustika (BBTA3-BPPT) Fariduzzaman mengatakan Jembatan bentang panjang merupakan jembatan khusus yang cukup mahal dan berteknologi tinggi. “Pada umumnya, tidak dapat dibangun sebagai bentangan dengan dek (lantai jembatan) berpenumpu sederhana di kedua ujung jembatan,” kata Fariduzzaman saat dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (25/4/2016).

Dek jembatan bentang panjang, lanjut Fariduzzaman, harus digantung pada penyangga vertikal (cable-stayed bridge), bentangan kabel (suspension bridge) atau struktur yang melengkung di atasnya (arch-bridge). Sekalipun dari struktur beton atau baja yang keras dan besar, struktur ini akan fleksible. Karenanya jembatan bentang panjang juga sering disebut sebagai jembatan fleksibel.

Fariduzzaman memaparkan, ketika bekerja dengan jembatan bentang panjang para perencana harus mempertimbangkan tidak hanya faktor beban seismik, juga faktor beban angin, yakni aerodinamika dan aeroelastika. “Faktor aerodinamika tampak sebagai gaya-gaya angkat, gaya dorong/hambat dan momen puntir. Faktor aeroelastika timbul dalam bentuk ketakstabilan struktur (flutter) dan getaran struktur pada kecepatan angin tertentu (induksi resonansi),” paparnya.

Jumlah jembatan khusus di Indonesia menurutnya tidak banyak, sekitar 100 jembatan. Tapi yang baru dicermati dengan seksama di dalam negeri baru 17 jembatan. “Sekarang sedikit mulai beralih pengujiannya ke dalam negeri. Standar desain jembatan mulai kita bangun. Dengan desain standar, maka pengujian berulang tidak perlu dilakukan karena sudah sama,” ungkap Fariduzzaman.

Menurut Fariduzzaman, BPPT siap mendukung pemerintah dalam pembangunan jembatan khusus. Sebagian jembatan bentang panjang di Indonesia telah melalui uji aerodinamika di BBTA3 atau TATIGA-BPPT dan tersebar di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah Jembatan Suramadu di Jawa Timur dan Jembatan Merah Putih di Ambon Maluku yang baru-baru ini diresmikan Presiden Jokowi.

Fariduzzaman berharap pemerintah mensubsidi pertumbuhan industri dalam negeri dengan membangun selengkap mungkin pusat-pusat atau laboratorium riset, laboratorium pengujian dan laboratorium sertifikasi produk di dalam negeri. “Jika tidak ada fasilitas pengujian di dalam negeri, maka para perencana jembatan akan berbondong-bondong pergi ke luar negeri untuk menguji desain jembatan khusus yang akan dibangun,” kata Fariduzzaman.

Selain BBTA3-BPPT, unit lain yang berkontribusi dalam kontruksi Jembatan Bentang Panjang adalah Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur (B2TKS) dan Pusat Teknologi Sistem dan Prasarana Transportasi (PTSPT). PTSPT-BPPT fokus melakukan kajian masalah teknologi sistem dan prasarana transportasi.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala B2TKS-BPPT Sudarmadi mengatakan B2TKS merupakan satu unit di BBPT yang bergerak di bidang pelayanan teknologi kekuatan struktur. Potensi B2TKS-BPPT pada tahap perencanaan (desain) jembatan bentang panjang adalah menganalisa desain struktur jembatan dan perencanaan penanggulangan korosi pada struktur jembatan.

Pada tahap pelaksanaan pembangunan jembatan, B2TKS-BPPT bisa menguji karakterisasi material dan penilaian kesesuaian dengan spesifikasi, pengujian material baja, uji tak merusak (NDT) pada struktur baja dan beton, pengujian kekuatan beton, pengujian kekuatan komponen sistem struktur jembatan, vibration test, dan lain-lain. Sementara dalam tahap operasional, B2TKS-BPPT dapat melakukan inspeksi kondisi cacat/kerusakan yang terjadi dan monitoring struktur jembatan.

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author