Sampo Kulit Pisang Karya Inovasi Mahasiswa UNY

Kulit pisang yang selama ini dibuang atau menjadi pakan ternak, ternyata bisa dimanfaatkan menjadi bahan pembuat sampo.

Sampo berbahan kulit pisang itu merupakan inovasi dari tiga mahasiswa Prodi Kimia FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta yaitu Wijayanti, Danish Oktaviana, dan Annisa Sholihahwati.

“Kulit pisang (Musa paradisiaca) mengandung 14,28 persen kalium yang dapat dikembangkan untuk pembuatan sampo alami,” kata ketua tim Wijayanti di Yogyakarta, Senin (30/12).

Menurutnya, bahan dasar yang dipakai adalah kulit pisang raja dan pisang kepok karena cukup mudah diperoleh. Untuk penelitian tahap  pertama, mereka menggunakan dua kilogram kulit pisang raja dalam kondisi basah.

Prosedur pertama yang dilakukan adalah memilih kulit pisang yang baik dan belum berjamur. Setelah dibersihkan, kulit pisang dijemur di bawah sinar matahari langsung agar kering sempurna. Berat kulit pisang yang sudah kering sekitar 700 gram.

Selanjutnya, kulit pisang dibakar hingga menjadi bara dan segera dimasukkan ke dalam ember berisi dua liter air. Rendaman tersebut dibiarkan selama tujuh hari.

Setelah tujuh hari, warna cairan berubah menjadi cokelat kehitaman. Selanjutnya lakukan penyaringan. Filtrat yang dihasilkan diberi arang aktif yang mampu menyerap warna cokelat sehingga cairan lebih jernih.

“Setelah dibiarkan selama dua hari, warna cairan menjadi kekuningan yang terasa licin yang dapat digunakan sebagai sampo. Dari pengujian diketahui bahwa pH sampo adalah 11,5 yang berarti sampo tersebut basa,” katanya.

Penelitian tahap kedua menurut Wijayanti adalah pembuatan sampo dari kulit pisang kepok. Prosedur dan jumlah bahan yang digunakan sama dengan pembuatan sampo dari kulit pisang raja. Namun, pada penelitian kedua tidak menggunakan arang aktif karena cairan yang dihasilkan tidak terlalu berwarna cokelat dan tidak terlalu keruh.

Tingkat keasaman dari sampo kulit pisang kepok itu adalah 11 (bersifat basa). Setelah kedua jenis sampo selesai diuji secara kimiawi, selanjutnya pengujian organoleptik dan penerimaan masyarakat.

“Uji organoleptik merupakan uji berdasarkan indera manusia. Parameter yang diuji adalah warna dan bau. Dari hasil pengujian, warna kedua jenis sampo cenderung kuning kecokelatan sedangkan untuk uji bau dinyatakan tidak berbau,” katanya.

Uji penerimaan masyarakat menggunakan 9 panelis yang diminta mencoba kedua produk sampo tersebut. Kemudian, panelis diminta mengisi angket yang menyatakan tangapan mereka. Hasilnya, 6 orang dari 9 orang panelis lebih meninati sampo dari kulit pisang raja. Warna sampo ini adalah kekuningan dengan pH 11,5. sumber fmipa.uny.ac.id/ humasristek

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author