Distribusi Benih Unggulan BATAN Butuh Mitra

Sejak lama BATAN telah mengembangkan dan memanfaatkan tenaga nuklir untuk bidang pertanian dan dan perikanan dalam upaya memperkuat ketahanan pangan. Benih padi varietas unggul dengan teknologi mutasi radiasi adalah salah satu contohnya.

Dengan hasil benih padi unggulan itu BATAN sedikitnya menyumbangkan 10 persen sebagai penyedia benih nasional. Benih padi unggulan yang dihasilkan BATAN oleh petani pemakainya diakui sebagai benih yang lebih murah harganya dibanding benih padi lainnya namun cepat hasil panenananya, Selain itu juga tahan lama dan rasanya berasnya enak.

Hingga saat ini varietas unggul padi hasil teknologi mutasi radiasi berjumlah 20 varietas. Berdasarkan data BPS tahun 2011 tingkat produktivitas varietas hasil mutasi radiasi menghasilkan tujuh ton per hektar. Bandingkan dengan rata-rata produksi besar nasional sebesar 5,01 ton per hektare.

Deputi Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir BATAN, Dr Ferhat Aziz pada jumpa pers Nuklir Untuk Pangan mengatakan keberhasilan BATAN menghasil benih unggulan melalui teknologi iradiasi membuktikan bahwa nuklir di Indonesia dimanfaatkan untuk menghasilkan non energi.

“Nuklir untuk pangan ini disambut baik oleh masyarakat. Tanpa disadari orang Indonesia sebenarnya sangat dekat dengan hasil teknologi nuklir seperti yang terlihat dari cabe bubuk yang terdapat dalam mi. Meski iptek nuklir yang sudah dirasakan dalam cabe bubuk kering hasil penelitian BATAN namun sebenarnya orang Indonesia belum mau menyadarinya,” kata Ferhat.

Ferhat menambahkan benih padi yang disukai petani adalah jenis Mira I karena dinilai bisa tahan saat cuaca panas dan bisa tahan terhadap serangan serangga serta bisa mempendek masa tanam. Keberhasil BATAN juga diakui oleh Badan Tenaga Atom Internasiona (IAEA) dalam pengawetan makanan dengan menggunakan teknologi nuklir. Sehingga badan internasional itu mengharapkan Indonesia mau membantu negara Myanmar dan Kamboja untuk belajar mengenai teknologi nuklir untuk ketahanan pangan.

Meski demikian keunggulan benih itu belum bisa dirasakan oleh semua petani karena kesulitan para para petani untuk mendapatkan varietas unggulan BATAN tersebut. Menurut Ketua Umum Kelompok Kontak Tani dan Nelayan Andalan, Winarno Tohir, saat ini benih unggulan BATAN baru ditanam di 3 juta hektar. “Banyak petani yang sudah mendengar tentang keunggulan varietas dari BATAN ini tetap mereka tidak tahu dimana bisa mendapatkan benih itu,” kata Winarno.

Winarno melanjutkan petani menyukai Mira I karena verietasnya itu bisa menyesuaikan dengan kondisi tanah. Jika saja bisa mendapatkannya dengan mudah maka NTT ke depannya bisa mengejar ketertinggalannya dalam pertanian.

Untuk ketersediaan benih dalam jumlah banyak menurut Ferhat membutuhkan kerjasama dengan berbagai pihak. Saat ini sebenarnya benih unggulan BATAN sudah ditanam di 24 provinsi namun untuk bisa memenuhi kebutuhan petani masih perlu dukungan.   
  

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author