TechnologyIndonesia.id – Upaya melindungi produksi pisang dunia dari ancaman hama dan penyakit semakin diperkuat melalui kolaborasi riset internasional. Para peneliti dan mitra global berkumpul dalam Pertemuan Tahunan Kedua Program Riset Pemuliaan Pisang bertajuk “Collection, Characterization and Pre-breeding Wild Bananas”, sebuah program riset kolaboratif yang dirancang berjalan selama lima tahun.
Pertemuan ini menegaskan komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan salah satu komoditas pangan terpenting di dunia. Pisang bukan sekadar buah konsumsi, tetapi menjadi makanan pokok bagi jutaan masyarakat, termasuk di Indonesia dan sejumlah negara di Afrika, serta berperan vital dalam ketahanan pangan dan penghidupan masyarakat pedesaan.
Namun, produksi pisang sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ratih Asmana Ningrum, mengatakan ancaman terbesar antara lain penyakit layu Panama yang disebabkan jamur tular tanah Fusarium oxysporum f. sp. cubense, serta penyakit Banana Bunchy Top (BBTV) yang disebabkan virus Banana bunchy top yang disebarkan oleh serangga.
Patogen tular tanah Fusarium ini sangat sulit dikendalikan dan dapat bertahan lama di dalam tanah. Sehingga, metode pengendalian konvensional tidak lagi memadai. Sedangkan penyebaran virus oleh serangga juga sukar dikendalikan.
“Karena itu, pemuliaan varietas pisang yang tahan hama dan penyakit menjadi solusi paling berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Ratih.
Tantangan Pemuliaan Pisang
Pemuliaan pisang memiliki tantangan biologis tersendiri. Sebagian besar pisang konsumsi bersifat steril dan poliploid, sehingga membatasi metode pemuliaan konvensional. Kondisi ini menuntut pendekatan inovatif dengan mengombinasikan bioteknologi modern dan pemanfaatan sumber daya genetik pisang liar.
“Dan kita, di Indonesia, diberkahi keragaman pisang liar yang sangat tinggi. Pisang liar tersebut diduga menjadi nenek moyang dari pisang budi daya,” ujarnya.
Ratih menjelaskan, inti dari proyek ini adalah mengoleksi pisang liar, serta mempelajari sifat-sifat ketahananan dan sifat-sifat lain yang penting untuk budi daya pisang.
“Selanjutnya, menggunakan plasma nutfah pisang liar yang telah diketahui sifat-sifatnya untuk membentuk genotipe unggul tahan Fusarium dan BBTV, selain sebagai dasar pengembangan varietas unggul lain dengan sifat target lainnya,” urai Ratih.
Genotipe-genotipe unggul dari proyek ini akan menjadi induk persilangan dalam merekayasa varietas pisang yang sesuai kebutuhan. Genotipe unggul dapat dimanfaatkan oleh partner dalam kerja sama ini. Misalnya, International Institute for Tropical Agriculture (IITA) yang mengelola penyebaran ke petani dan breeder di Afrika, serta BRIN bersama kementerian terkait untuk penyebaran ke negara Asia Tenggara.
“Dalam penelitian tersebut, digunakan berbagai teknik dari konvensional seperti penyerbukan, juga teknik-teknik modern seperti hibridisasi somatik, gene editing, juga teknik-teknik analisis modern genomik-genotyping, phenotyping, transkriptomik, metabolomik, dan intregrasi teknik tersebut,” jelasnya.
Dukungan Global dan Jejaring Kolaborasi
Kegiatan riset ini dipimpin oleh BRIN yang berperan aktif melalui para periset ahli di bidang teknologi omics dan pemuliaan pisang. BRIN berkomitmen penuh dengan menyediakan berbagai dukungan melalui pendanaan, fasilitas laboratorium, dan lahan, serta skema mobilitas periset melalui pembiayaan periset tamu dan beasiswa pascasarjana.
Riset ini juga didukung Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) – Kementerian Keuangan RI dan lembaga donor internasional Gates Foundation yang memiliki misi kemanusiaan untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil di Afrika Timur, Asia, dan wilayah rentan lainnya.
Kolaborasi ini melibatkan berbagai institusi akademik dan riset terkemuka, antara lain University of Queensland (Australia), Wageningen University Research (The Netherlands), Meise Botanic Gardens and the Alliance of Bioversity International & CIAT (Belgium), Institute of Experimental Botany (Czech Republic), IITA – Afrika, dan mitra pendukung lain.
Di dalam negeri, IPB University dan Universitas Padjdjaran menjadi mitra kolaborasi utama. Kolaborasi juga melibatkan industri/swasta untuk membentuk jejaring akademia, industri, dan pemerintah, sehingga menjadi platform untuk inovasi ilmiah dan solusi pertanian yang aplikatif.
Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan program ini menjadi model bagaimana kemitraan global dapat mengatasi masalah global.
“Di tingkat nasional, kami bangga memiliki BRIN sebagai mitra inti dalam proyek ini. BRIN menyatukan para peneliti dengan keahlian luas dalam biologi, genetika, dan pemuliaan pisang, serta pengetahuan mendalam tentang keanekaragaman pisang liar Indonesia,” kata Arif.
Ia menambahkan, Indonesia diakui sebagai salah satu pusat asal dan keanekaragaman pisang. Spesies pisang liar di Indonesia dengan total 16 subspesies, mewakili cadangan genetik yang tak ternilai harganya yang dapat memberikan sifat resistensi dan potensi adaptasi untuk program pemuliaan di masa depan. “Sumber daya genetik ini adalah fondasi dari upaya ilmiah kita,” tambahnya.
Pusat Kolaborasi Global “BIND Center”
Pertemuan Tahunan kedua ini juga meresmikan Banana Innovation, Network, Database (BIND) Center sebagai pusat kolaborasi global dalam riset dan pengembangan pisang. Inovasi melalui ekplorasi, karakterisasi, dan pra-pemuliaan pisang liar serta kolaborasi dalam jejaring global.
BIND diharapkan menghasilkan luaran yang terintegrasi dalam sebuah database (INA-BAN) agar menjadi dasar kebijakan pemuliaan pisang lebih lanjut, sehingga memberikan dampak nyata.
Program ini tidak hanya berfokus pada kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga perlindungan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani kecil di berbagai belahan dunia.
“Melalui BIND Center, kami berharap dapat menciptakan program abadi yang berlanjut melampaui masa proyek ini. Program ini akan mendukung strategi pemuliaan jangka panjang, memperkuat kemitraan internasional, dan memosisikan Indonesia sebagai kontributor utama penelitian pisang global,” tandas Arif. (Ilustrasi: ChatGPT)
