BRIN Kembangkan Nanosilika dari Limbah Sawit untuk Superkapasitor Fleksibel

TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong inovasi berbasis sumber daya lokal sekaligus solusi terhadap persoalan lingkungan. Salah satu terobosan terbaru datang dari pemanfaatan limbah abu boiler industri kelapa sawit menjadi nanosilika untuk mendukung pengembangan teknologi penyimpanan energi elektronik fleksibel.

Selama ini, limbah abu boiler dari industri kelapa sawit masih menjadi persoalan lingkungan yang belum tertangani optimal. Jumlahnya mencapai jutaan ton setiap tahun, tetapi pemanfaatannya masih sangat terbatas sehingga bernilai ekonomi rendah.

Padahal, limbah tersebut menyimpan potensi besar. Abu boiler kelapa sawit diketahui mengandung silika (SiO₂) sebesar 50–65 persen yang dapat diolah menjadi nanosilika, material berukuran sangat kecil sekitar 8–10 nanometer dengan karakteristik unggul. Nanosilika banyak  digunakan dalam berbagai bidang, dari kosmetik, biomedis, konstruksi, hingga elektronik dan energi.

Peneliti Pusat Riset Elektronika (PRE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Rike Yudianti, menjelaskan bahwa nanosilika memiliki banyak kelebihan, mulai dari luas permukaan yang besar, struktur pori yang dapat disesuaikan, hingga kemudahan modifikasi kimiawi

“Pada bidang energi, PRE BRIN sedang mengembangkan sistem penyimpanan energi yang fleksibel (dapat ditekuk). Hal ini untuk memenuhi perkembangan perangkat elektronik yang wearable, yang mengikuti dinamika gerakan tubuh manusia,” jelas Rike pada Rabu (6/5/2026).

Pengembangan Superkapasitor Fleksibel

Nanosilika hasil olahan limbah sawit ini kini dimanfaatkan BRIN untuk pengembangan superkapasitor fleksibel. Teknologi ini dirancang sebagai solusi penyimpanan energi bagi perangkat elektronik masa depan yang semakin ringkas, fleksibel, dan dapat dikenakan langsung di tubuh.

Superkapasitor sendiri perangkat penyimpanan energi yang mampu mengisi daya dengan cepat dan memiliki umur pakai panjang. Namun, tantangan terbesar dalam pengembangan versi fleksibel terletak pada penggunaan elektrolit cair.

“Cukup sulit jika superkapasitor yang fleksibel masih menggunakan elektrolit cair karena berisiko bocor, mudah menguap, dan stabilitas elektrokimia yang rendah saat ditekuk terutama pada suhu tinggi dan penggunaan yang panjang,” ujarnya.

Karena itu, pengembangan elektrolit padat untuk superkapasitor fleksibel  menjadi menarik dan menantang untuk  mendukung perkembangan device elektronik masa depan.

Pada pengembangan elektrolit padat, nanosilika berperan penting dalam memperbaiki kontak elektrolit dan elektroda, sekaligus menambah disosiasi molekul di dalam sistem elektrolit dan transfer ion, karena nanosilika mengandung gugus silanol (–Si–OH).

Tantangan elektrolit padat pada superkapasitor fleksibel, tidak hanya pada elektrolit padatnya sendiri, tapi juga pada antarmuka elektrolit dan elektroda. “Hal ini cukup menarik untuk dieksplor. Saat ini kami sudah dapat menjaga stabilitas elektrokimianya saat sistem ini bekerja,” ungkapnya. 

Pengembangan elektrolit padat ini bekerja sama dengan salah satu  perguruan tinggi swasta di Indonesia dan perguruan tinggi di Jepang. Selain mengembangkan elektrolit padat, PRE BRIN juga merancang strategi perakitan perangkat agar performanya tetap baik meskipun digunakan dalam kondisi fleksibel.

“Pendekatan ini berpotensi mendukung pengembangan teknologi penyimpanan energi masa depan, terutama untuk perangkat elektronik fleksibel dan wearable,” pungkas Rike. (Sumber: brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author