TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem riset nasional dengan mengukuhkan lima profesor riset baru yang memiliki kepakaran strategis. Pengukuhan profesor riset digelar melalui sidang terbuka orasi ilmiah di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, pada Selasa (25/11/2025).
Lima profesor riset baru yang dikukuh yaitu Ika Kartika dengan kepakaran logam dan paduan, Murni Handayani (nanomaterial fungsional), Maria Holly Herawati (penyakit menular), Fitrah Ernawati (makanan dan zat gizi mikro), dan Tri Muji Susantoro (aplikasi penginderaan jauh untuk eksplorasi energi dan sumber daya mineral).
Kepala BRIN Arif Satria dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas capaian para peneliti yang dikukuhkan menjadi profesor riset. Arif menegaskan bahwa pemerintah menaruh perhatian besar pada riset di sektor energi, kesehatan, dan industri manufaktur seperti elektronik, sepatu, serta garmen yang memiliki kontribusi besar terhadap ketenagakerjaan nasional.
“Presiden mengingatkan agar Indonesia tidak bergantung pada industri maupun investor asing, termasuk di bidang kesehatan dan persenjataan,” ucap Arif.
Menurutnya, tantangan kesehatan ke depan semakin kompleks, terutama meningkatnya potensi penyakit berbasis zoonosis. Pendekatan one health dinilai penting untuk memperkuat kolaborasi antara kedokteran manusia dan kedokteran hewan. Arif juga menyoroti dampak perubahan iklim terhadap kualitas zat gizi mikro yang berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat.
Arif juga menekankan pentingnya riset di bidang material science, terutama penguasaan metalurgi dan pengembangan biomaterial berbasis biodiversitas Indonesia. Berbagai inovasi dari rumput laut, limbah sawit, hingga kayu disebut berpotensi menjadi alternatif bahan industri yang lebih berkelanjutan dan mendukung regenerasi sumber daya alam.
Menurutnya, riset masa depan harus berorientasi pada kemanfaatan dan lahirnya solusi-solusi baru. Ia menyebut tiga kunci persaingan global, imajinasi, kreativitas, dan kemampuan belajar, sebagai kompetensi yang wajib dimiliki para periset.
“Usia tidak menentukan kemudaan, orientasi terhadap masa depanlah yang menunjukkan kedewasaan dan produktivitas para periset,” ujarnya.
Arif berharap para profesor riset tetap menjadi pembelajar yang tangguh. Menurutnya yang membuat seseorang bisa survive bukan gelar tetapi mentalitas sebagai seorang pembelajar. “Saya harapkan profesor riset tetap humble, tetap rendah hati, dan tetap sebagai pembelajar sejati,” pungkasnya.
Arif Satria Tegaskan Prioritas Riset Nasional dalam Pengukuhan Lima Profesor Riset BRIN
