Smart Card untuk Program Subsidi Langsung Non-Tunai

Sebanyak 150 warga di Jakarta menerima kartu pintar sebagai bentuk subsidi non tunai untuk berbelanja kebutuhan pokok (sembako). Peluncuran pilot project ini merupakan uji coba subsidi langsung non tunai.

Untuk mendukung program tersebut, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerjasama dengan Multimedia Development Corporatian (MDeC) meluncurkan kartu pintar (smart card) untuk Program Peduli Keluarga. Kerjasama ini bertujuan mendorong inovasi teknologi untuk program subsidi langsung non-tunai dalam rangka pemanfaatan e-KTP multifungsi.

“Penerima bantuan mendapat kuota bulanan untuk membeli barang di supermaket yang sudah ditetapkan. Diharapkan tidak ada lagi bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) yang selama ini masih banyak salah sasaran,” kata Unggul Deputi Kepala BPPT  Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material (TIEM), dalam acara peluncuran kartu pintar tersebut, di Jakarta, (6/12).

Pilot project ini, akan menjadi model pengembangan e-KTP generasi kedua. Kemajuan penerapan e-ID pada kartu MyKad Malaysia, menjadi inspirasi dalam merancang pengembangan e-KTP generasi kedua. “Saat ini e-KTP lebih fokus pada fungsi identitas,” ujarnya.

Program Peduli Keluarga ini menurut Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) BPPT, Hammam Riza merupakan bagian dari pemberian subsidi bagi keluarga miskin dengan cara transaksi non tunai. Penerima kartu pintar adalah warga miskin di Kelurahan Kalibata, Kelurahan Rawajati, dan Kelurahan Manggarai. Kurang lebih 150 keluarga mendapatkan subsidi pangan sebesar Rp 150.000,-

Sumber dana program ini berasal dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Dialog selama jangka waktu satu tahun. Program tersebut dikombinasikan dengan inovasi teknologi kartu cerdas antara BPPT dengan MDeC, Malaysia. “Kita mengharapkan pilot program ini menjadi cikal bakal untuk mengembangkan e-KTP multifungsi,” urainya.

Penerima bantuan dapat melakukan transaksi pembelian barang kebutuhan pokok di Giant Kalibata dan Giant Manggarai. Fokus awal dari pilot project ini adalah Proof of Concept dari system, best practice, dan pemanfaatan NIK Nasional hasil dari penerapan e-KTP kepada publik sedini mungkin.

Program ini masih menggunakan kartu subsidi tersendiri dengan data NIK Nasional yang tunggal, tercetak di kartu tersebut. Ke depan, akan dilakukan penyempurnaan sistem, misalnya menggunakan kartu e-KTP sebagai kartu identitas sekaligus sebagai kartu kepesertaan program, teknologi card reader e-KTP, dan segala aspek untuk melokalisasi dan adaptasi sistem dan teknologi untuk pemanfaatan di Indonesia.

Chief Operating Officer MDec, Ng Wan Peng menjelaskan, Malaysia sudah sejak tahun 1997 menggunakan MyKad yang awalnya hanya diperuntukkan untuk delapan aplikasi seperti untuk identitas tunggal, izin mengemudi, kesehatan dan imigrasi. “MyKad diberikan mulai usia 12 tahun ke atas. Saat ini sudah ada 60 aplikasi pada MyKad,” tuturnya. Sumber Humas BPPT

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author