PUMMA, Alat Deteksi Tsunami Murah dan Real Time untuk Perkuat InaTEWS

TechnologyIndonesia.id – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang Maluku Utara baru-baru ini kembali mengingatkan tingginya aktivitas seismik di wilayah timur Indonesia. Peristiwa ini tak hanya memicu kekhawatiran, tetapi juga menegaskan pentingnya sistem peringatan dini tsunami yang cepat dan akurat.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Semeidi Husrin menjelaskan bahwa gempa tersebut dipicu oleh sesar naik dan berpotensi menimbulkan tsunami. Mengacu pada rilis resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gelombang tsunami memang sempat terdeteksi di beberapa lokasi, meskipun ketinggiannya relatif kecil, kurang dari satu meter.

Namun, sejarah mencatat bahwa wilayah yang sama pernah mengalami tsunami besar pada abad ke-19 dengan ketinggian mencapai 15 meter. Fakta ini menjadi pengingat bahwa potensi bencana besar tetap ada dan tidak bisa diabaikan.

Untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami nasional (InaTEWS) yang dimiliki BMKG, BRIN bersama mitra nasional dan internasional mengembangkan alat bernama PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut).

Berbeda dengan sistem konvensional yang mengandalkan pemodelan gempa, PUMMA langsung mencatat dinamika muka air laut secara real time.

“Jadi gempanya dicatat, kemudian tsunaminya dimodelkan. Sementara PUMMA ini langsung mencatat tsunaminya. Jadi tanpa pemodelan, dia secara real time langsung mencatat tsunaminya,” jelas Semeidi dikutip dari laman brin.go.id pada Selasa (7/4/2026).

Alat ini dinilai sangat cocok untuk kondisi geografis Indonesia, terutama di bagian timur yang terdiri dari banyak pulau kecil yang berperan sebagai “natural offshore bouys“. PUMMA dapat dipasang di pesisir yang dekat dengan sumber bencana.

Untuk kasus Maluku Utara, alat ini bisa dipasang di dua pulau kecil terdekat dari episenter, yakni Pulau Maju dan Pulau Batang Dua. “Alat ini bisa dipasang di dua pulau kecil ini sehingga dia bisa membantu lebih cepat untuk deteksi dini tsunaminya,” tambahnya.

PUMMA bukan teknologi baru tanpa uji coba. Alat ini telah beroperasi selama lebih dari enam tahun di Selat Sunda, tepatnya di Pulau Rakata yang merupakan bagian dari kompleks Gunung Api Anak Krakatau.

Di lokasi tersebut, PUMMA menjadi satu-satunya sistem yang mampu memantau dan memberikan peringatan dini terhadap volcano-tsunami, yakni tsunami yang dipicu aktivitas gunung api.

Selain dukungan penuh dari BMKG, keberadaan PUMMA atau Inexpensive Device for Sea Level measurement (IDSL) di Krakatau juga didukung oleh BAKTI Kominfo, PT Telkomsel, BNPB, UNILA, Balawista, IATSI, Kemenhub, PVMBG, KKP dan Pemerintah Daerah setempat, serta dari mitra internasional, Joint Research Centre – the European Commision.

Ancaman Tsunami Non-Gempa

Salah satu pelajaran penting dari bencana di Indonesia adalah bahwa tsunami tidak selalu dipicu oleh gempa bumi. Peristiwa tsunami Palu 2018 dan Selat Sunda 2018 menunjukkan bahwa longsor bawah laut dan aktivitas vulkanik juga bisa menjadi pemicu utama.

“Aktivitas gunung api, longsor bawah air tidak bisa dideteksi oleh sensor gempa bumi, hanya sensor tertentu seperti sensor muka air yang dipasang dengan tepat yang bisa mendeteksi tsunami lebih dini,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa ribuan nyawa melayang saat tsunami Palu dan Selat Sunda karena sistem InaTEWS BMKG tidak didesain untuk kejadian non-gempa. Karena itu, BRIN mengintensifkan implementasi PUMMA untuk memperkuat sistem peringatan dini existing.

Tantangan terbesar lainnya adalah penyampaian peringatan di lokasi terdampak (hilir). Meskipun BMKG mengirimkan peringatan dalam 5 menit, sirine di daerah rawan yang terdampak belum tentu bisa menyala tepat waktu mengingat waktu emas (golden time) evakuasi tsunami hanya sekitar 30 menit atau bahkan kurang. 

“Ini menjadi tantangan terbesar kita ke depan karena karakteristik tsunami di Indonesia adalah tsunami jarak dekat. Jika kejadian gempa bumi, maka tsunami bisa sampai di pesisir dalam 30 menit atau kurang dari satu jam,” pungkas Semeidi.

Ia menekankan perlunya penguatan sistem multisensor, perbaikan tata ruang kawasan pesisir, pemanfaatan vegetasi pantai seperti mangrove dan cemara laut sebagai sistem pelindung hijau (greenbelt) serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat untuk mengurangi risiko bencana gelombang tsunami. (Sumber: brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author