Peneliti BRIN Mengurai Banjir Jakarta, Tawarkan Solusi Berbasis Riset Limnologi dan Iklim

TechnologyIndonesia.id – Banjir masih menjadi persoalan klasik yang terus berulang di Jakarta dan kawasan sekitarnya. Setiap musim hujan tiba, genangan hingga banjir berskala besar kerap melumpuhkan aktivitas warga, merusak infrastruktur, dan menimbulkan kerugian sosial ekonomi yang tidak kecil.

Di balik persoalan yang tampak di permukaan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa banjir Jakarta bukan semata-mata akibat curah hujan tinggi.

Dalam kegiatan Media Lounge Discussion (MELODI) bertema “Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset” yang digelar pada Rabu (4/2/2025), peneliti BRIN memaparkan bahwa banjir Jakarta merupakan hasil interaksi kompleks berbagai faktor, mulai dari dinamika iklim, karakteristik hidrologi wilayah, hingga tata kelola sumber daya air yang belum optimal

Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santoso, menjelaskan bahwa persoalan banjir di Jakarta bersifat multidimensi dan saling berkaitan satu sama lain. Berdasarkan riset terkini, terdapat setidaknya tiga pemicu utama yang memperparah risiko banjir di ibu kota.

Pertama, Jakarta mengalami penurunan permukaan tanah (land subsidence) dengan laju yang bervariasi, antara 1 hingga 15 sentimeter per tahun. Kedua, curah hujan ekstrem dengan intensitas melampaui kapasitas sistem drainase.

“Ketiga, kondisi fisik infrastruktur drainase dan sungai yang tidak berfungsi maksimal karena tersumbat sampah dan pendangkalan. Kondisi ini secara drastis menurunkan kapasitas alir saluran atau sungai,” jelas Budi.

Sistem hidrologi Jakarta saat ini menghadapi tekanan yang sangat berat akibat persoalan multidimensi yang saling berkelindan. Sebagian besar sungai dan kanal di ibu kota mengalami pengurangan kapasitas alir yang serius akibat tumpukan sampah dan sedimen hasil erosi dari wilayah hulu.

Pendangkalan ini telah menurunkan daya tampung saluran secara signifikan. Material sedimen yang terus menumpuk di hilir mempersempit penampang sungai, sehingga bahkan debit air yang relatif kecil pun berpotensi menimbulkan luapan ke wilayah sekitar sungai.

Budi menegaskan bahwa penanganan banjir Jakarta memerlukan strategi terpadu yang dapat diklasifikasikan menjadi upaya jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, terdapat beberapa prioritas yang mendesak.

Pertama, penerapan sistem polder di seluruh wilayah dengan tingkat bahaya banjir tinggi. Kedua, optimalisasi sistem peringatan dini terintegrasi yang diolah dan dianalisis menggunakan metode terkini termasuk penggunaan algoritma artificial intellegence (AI). Ketiga, pembangunan infrastruktur yang dapat menahan debit banjir di wilayah hulu.

Menurut Budi, ada beberapa riset terkini yang dapat diterapkan untuk mengurai banjir Jabodetabek. Misalnya, penggunaan teknologi Synthetic Aperture Radar atau SAR dalam versi 2D dan 3D yang dikombinasikan dengan analisis multi-track InSAR. Teknologi ini memungkinkan kita memahami fenomena penurunan tanah dan memetakan potensi banjir.

Selanjutnya, penerapan kecerdasan buatan untuk memprediksi kenaikan muka air di Bendungan Katulampa. Model berbasis data satelit ini mampu memberikan waktu peringatan dini yang lebih panjang dan akurat kepada warga Jakarta, sehingga waktu evakuasi bisa diperpanjang.

Terakhir, penelitian tentang dinamika penurunan tanah yang divisualisasikan secara digital membantu pengambil kebijakan dalam mengevaluasi perencanaan tata ruang secara lebih komprehensif.

“Solusi yang ditawarkan memang tidak mudah untuk dilaksanakan tetapi bukan berarti tidak mungkin. Yang dibutuhkan adalah komitmen politik lintas wilayah administrasi yang kuat, koordinasi antar-lembaga yang solid, dan partisipasi aktif masyarakat,” tandasnya.

Perubahan Iklim Perparah Risiko Banjir

Dari sisi iklim, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan, menegaskan bahwa perubahan iklim berkontribusi besar terhadap meningkatnya frekuensi kejadian cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat di Jakarta.

Ia mencontohkan curah hujan ekstrem di Jakarta yang terjadi pada awal tahun 2020, tepatnya pada 31 Desember 2019 – 01 Januari 2020). Saat itu, curah hujan harian di Stasiun Pengamatan Halim Perdana Kusuma, Jakarta tercatat sebesar 377 mm.

Menurutnya tidaklah mudah memprediksi terjadinya curah hujan ekstrem yang menyebabkan Jakarta dan kawasan sekitarnya lumpuh total pada saat itu. “Hal ini disebabkan selain minimnya pengetahuan kita tentang gelombang atmosfer yang terjadi saat itu, juga keterbatasan kita dalam mendapatkan data beresolusi tinggi,” jelas Eddy.

Selain itu, prediksi hanya dapat dilakukan bilamana data yang diolah bersifat teratur (stasioner), sementara data curah hujan dan parameter pendukungnya umumnya bersifat tidak stationer. Karena itu data tersebut harus “dipaksa” untuk menjadi stasioner.

Karena itu, BRIN kini mulai beralih dari metode konvensional seperti ARIMA ke pendekatan Machine Learning, Deep Learning, AI, Big Data dan lainnya. BRIN juga pernah memprediksi anomali curah hujan menggunakan teknik Hybrid ARIMA-LSTM yang akurasinya relatif lebih baik dan jangkauan waktu prediksi yang relatif lebih jauh.

Khusus Jakarta dan sekitarnya, Eddy menyebutkan perlunya mentransformasi data-data baik berbasis satelit, re-analisis, ataupun dari BMKG yang kaya dengan data in-situ. Data-data tersebut bisa dikemas dalam bentuk sistem peringatan dini yang tepat waktu, tepat sasaran, dengan presisi prediksi yang tinggi dan bisa diterapkan untuk satu kawasan yang relatif kecil (localized).

Curah hujan ekstrem umumnya dibangkitkan oleh kumpulan awan-awan besar (giant clouds), seperti awan Cb atau SCCs dengan ketinggian hingga mencapai 15-16 km dpl. Karena itu, kehadiran data radar BMKG mutlak diperlukan. Untuk menghasilkan prediksi dengan nilai presisi tinggi dibutuhkan multi parameter, multi lapisan, dan multi teknik.

Lebih lanjut, Eddy menerangkan tidak ada yang tahu pasti Musim Hujan (MH) 2026 ini akan segera berakhir. Namun, ia memprediksi MH 2026 akan berakhir di akhir Februari atau awal Maret 2026. Ini terjadi diduga akibat dua pengontrol Monsun Asia dan IOD sudah mulai bergerak ke fase normal (neutral).

BRIN berkomitmen untuk fokus ke riset dan inovasi bagaimana membuat sistem peringatan dini yang utuh, runut, terpadu, dan menyeluruh berdasarkan hasil analisis yang tajam dan mendalam.

“Diskusi ilmiah seperti inilah yang kita perlukan, agar dampak hujan esktrem dapat diredam seminimal mungkin melalui diskusi ilmiah dengan berbagai pakar baik yang ada di dalam ataupun di luar negeri,” pungkasnya.

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author