Era Digitalisasi Pengaruhi Lonjakan Kosakata Bahasa Indonesia

Jakarta, Technology-Indonesia.com – Pengembangan jumlah kosakata menjadi alat ukur dari majunya sebuah bahasa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terakhir yang diluncurkan pada 2018, terdapat lebih dari 200 ribu kosakata. Hal ini tidak lepas dari perkembangan era digitalisasi dan masifnya penggunaan media sosial.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fairul Zabadi melihat adanya lonjakan penambahan kosakata di era digital.

“Dilihat dari capaian sejak 1970-2000 itu hanya sekitar 5000-an kosakata dalam KBBI. Sementara sejak tahun 2000 hingga 2018, yang terakhir KBBI edisi kelima terbit itu sudah lebih dari 200 ribuan kosakata,” sebut Fairul usai menerima penghargaan Periset Berprestasi BRIN pada Minggu (7/5/2023).

Pria yang terlibat aktif dalam tim penyusun KBBI dan Glosarium di Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kemendikbud itu, menyebut adanya lonjakan jumlah kosakata itu menjadi pertanda yang cukup baik. Namun demikian, jumlah kosakata menurut Fairul, tidak hanya berhenti menjadi tumpukan buku dalam kamus.

Menurutnya, pembinaan bahasa harus dilakukan. Saat ini, masih banyak pelajar, masyarakat, dan pejabat yang belum menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang benar. “Misalnya, masih banyaknya memakai istilah asing, padahal dalam kosakata kita sudah ada,” bebernya.

Jika hal ini terus dibiarkan, Fairul khawatir bahasa Indonesia akan menjadi tamu di negeri sendiri. Hal itu yang mendorong Fairul menjadi salah satu periset yang fokus dalam melakukan riset pembinaan bahasa. Kelompok riset itu menjadi salah satu yang ada di Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas.

“Tentu ini tugas besar bagi kita semua, begitu juga menjadi tugas periset BRIN untuk melakukan kajian-kajian yang bermanfaat dalam rangka melindungi, mengembangkan, dan memberikan pembinaan agar bahasa dan sastra bisa tumbuh dan berkembang menjadi identitas bangsa,” papar pria yang sudah menekuni bidang pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia sejak 1993.

Lebih jauh, Fairul menyebutkan pihaknya melakukan kajian terkait penggunaan istilah asing dalam percakapan sehari-hari. Padahal, jika alasannya penggunaan bahasa asing dapat memberikan nilai tambah ekonomi terhadap negara. Ini juga tidak bisa dibuktikan, karena belum ada penelitian nilai ekonomi suatu negara menjadi tinggi karena penggunaan bahasa asing.

“Kita ambil contoh Korea dan Jepang, meski masyarakatnya tidak menggunakan bahasa Inggris sehari-hari, tapi mereka tetap menjadi bangsa yang maju,” ungkap pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Balai Bahasa Sumatera Utara itu.

Fenomena lain yang menarik perhatiannya tentang pembelajaran bahasa ialah, saat dirinya mendalami hasil PISA (Programme for International Student Assessment) yang dalam kurun 10 tahun ini Indonesia berada di urutan lima dari belakang. Padahal, pemerintah melalui Kemendikbud menggencarkan gerakan literasi naisonal sejak 2015-2018.

“Hal ini tentu menarik untuk dikaji lebih dalam kenapa bisa terjadi? Apakah strategi pembelajarannya yang salah, atau kompetensi guru yang rendah, atau jumlah bacaannya yang kurang. Kita harus melihat secara menyeluruh,” ucapnya.

Menurut Fairul, masih banyak riset-riset bahasa dan sastra yang sangat menarik untuk dikaji lebih jauh. Dalam beberapa artikel yang pernah ditulis olehnya, Fairul menyampaikan gagasan pentingnya riset yang dilakukan mengenai bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ASEAN.

Hal itu dapat membuktikan kesiapan bahasa dan negara-negara Asean untuk menerima. “Ini perlu dilakukan sehingga gak bisa asal klaim,” ucapnya.

Di samping itu, Fairul juga melakukan kajian-kajian kolaborasi baik dengan peneliti di BRIN maupun Universitas. Salah satunya melakukan kajian kearifan lokal di Kalimantan, yang menjadi garda terdepan perbatasan. Hal ini diangkat karena rumor dari sisi budaya menjadi problem serius yang dihadapi di wilayah perbatasan. Caranya dengan mengangkat kembali nilai lokal.

“Riset kami tentang bela negara di sana, hasil riset merekomendasikan nilai-nilai lokal yang berada di daerah perbatasan kalimantan, memiliki nilai bela negara yang kuat, dan masyarakat sudah paham. Jadi kalau itu dibiarkan rasa nilai budaya akan hilang,” ulasnya.

Pertahankan Identitas Bangsa

Masyarakat kita masih beranggapan riset mengenai bahasa dan sastra sesuatu yang tidak menarik dan sering diabaikan. Namun tidak demikian bagi Peneliti Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) BRIN, Fairul Zabadi.

Menurutnya, ketika kita masuk lebih dalam mempelajari bahasa dan sastra, maka timbul kesadaran bahwa wujud negara kita ada karena bahasa. Salah satunya melalui butir ketiga sumpah pemuda, yang mengikrarkan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

“Bisa dibayangkan jika butir itu tidak ada, bayangkan jika bahasa pemersatu bangsa itu tidak ada, belum tentu kemerdekaan dapat terwujud. Maka atas dasar itu pula, saya ingin menggali lebih jauh bagaimana bahasa dan sastra itu bisa berperan dan berdampak luas,” jelasnya.

Diakui Fairul, jika diukur secara finansial, bahasa dan sastra tidak memiliki dampak secara langsung. Namun bahasa dan sastra, lanjutnya, sangat penting sebagai pengingkat persatuan dan kesatuan. Jika itu diwujudkan maka hal ini berguna untuk mengembangkan nilai-nilai dan identitas bangsa.

“Jujur selaku periset bahasa dan sastra, saya ingin menggaungkan riset bahasa dan sastra yang selama ini dipandang kurang bermanfaat. Kami ingin membuktikan riset bahasa dan sastra ini memiliki nilai tinggi karena tidak hanya berkaitan dengan masa lampu, tapi juga berkaitan dengan mempertahankan bangsa kita di masa depan,” ungkapnya.

Fairul mengaku merasa senang saat ini, para periset bahasa dan sastra telah memiliki rumah baru di Badan Riset dan Inovasi Nasional. Dia menyebutkan, BRIN merupakan rumah yang tepat, agar riset bahasa dan sastra bisa menampakan dirinya ke depan. Sehingga hasil riset bahasa dan sastra bisa bermanfaat untuk masa depan.

Seiring dengan kebijakan pemerintah yang menggabungkan lembaga riset di bawah BRIN, terdapat 215 peneliti bahasa dan sastra di Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kemendikbud bermigrasi ke BRIN pada tahun 2022.

“Sebagai kelompok riset baru, yang belum memiliki rumah di BRIN, kami berjuang bagaimana agar wajah bahasa dan sastra dengan riset yang penting dilakukan karena berkaitan dengan keakuan negara dan bangsa kita yang diikat oleh bahasa,” ungkapnya.

Maka, dirinya berharap agar BRIN, khususnya Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas memiliki peta jalan bahasa dan sastra. Sehingga hasilnya benar-benar mumpuni dan dapat dimanfaatkan. Maka kerja sama dengan kementerian/lembaga lain juga sangat penting.

“Saya bayangkan kementerian/lembaga yang akan mengusulkan riset tersebut. Lalu kita coba melakukan riset, hasilnya akan kembali kepada pengguna. Kita di BRIN, hanya melakukan riset dan menyampaikan rekomendasinya. Penerapannya, bergantung kementerian lain yang berkompeten, maka sangat penting menjalin kerja sama dan kolaborasi,” pungkasnya. (Sumber brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author