TechnologyIndonesia.id – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mendorong penerapan technology forecasting atau peramalan teknologi sebagai fondasi utama dalam pengambilan keputusan strategis riset kedirgantaraan nasional.
Langkah ini dinilai krusial mengingat sektor kedirgantaraan merupakan bidang yang berbiaya tinggi, kompleks, dan berorientasi jangka panjang, sehingga kesalahan kebijakan dapat menimbulkan dampak yang signifikan.
Arahan tersebut disampaikan Arif saat melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Jacob Salatun di Rumpin serta Kawasan Sains R. Sunaryo di Tarogong, Kabupaten Bogor, Kamis (22/1/2026).
“Kita membutuhkan peta jalan kedirgantaraan, peta jalan satelit, peta jalan roket, serta peta jalan penerbangan hingga 2030. Kita perlu merencanakan secara jelas apa yang akan dilakukan dan memperkenalkan berbagai terobosan baru,” ujar Arif dikutip dari laman brin.go.id.
Membaca Arah Masa Depan Antariksa
Menurut Arif, technology forecasting menjadi instrumen penting untuk membaca arah pengembangan keantariksaan di masa depan. Dengan pendekatan tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi global, tetapi juga mampu menjaga daya saing dan mengambil peran strategis dalam ekosistem antariksa dunia.
Selain perencanaan teknologi, Arif menilai keberhasilan riset kedirgantaraan sangat ditentukan oleh kekuatan ekosistem pendukung. Operasional yang andal, sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, serta dukungan kelembagaan yang solid menjadi fondasi agar riset dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Peralatan riset juga perlu didukung oleh periset dan pengelola yang andal agar berdampak optimal. Untuk itu, di tengah keterbatasan anggaran, pengelolaan prioritas menjadi kunci, terlebih sebagian peralatan telah memasuki masa akhir usia pakai.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian berinovasi dan budaya diskusi sebagai jantung riset. “Jika kita kuat dalam imajinasi dan kreativitas, kita akan mampu menciptakan terobosan,” ujarnya.
Penyusunan Peta Jalan Riset
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN, Robertus Heru Triharjanto mengajak para periset untuk lebih peka dalam membaca tren teknologi lima hingga sepuluh tahun ke depan.
“Kita harus memikirkan masa depan agar tidak sekadar menjadi pengikut negara-negara pencipta teknologi, tetapi juga bisa menjadi inisiator,” tuturnya.
Menurutnya, pengembangan teknologi kunci untuk mengurangi ketergantungan impor harus diiringi dengan cara pandang jangka panjang dan kolaboratif. Penyusunan peta jalan riset menjadi langkah penting agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan bangsa sekaligus berkontribusi bagi komunitas global.
“Kita perlu mengantisipasi apa yang diperlukan bangsa kita dan komunitas global dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, supaya kita bisa menjadi salah satu pemain,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Kepala BRIN meninjau sejumlah fasilitas riset, termasuk Laboratorium Aerodinamika, Laboratorium DO-160, Hanggar Pesawat di KST Jacob Salatun, serta Laboratorium Propelan, Komposit, dan Hardware in the Loop (HWIL) di Kawasan Sains R. Sunaryo.
Arif menilai kawasan-kawasan riset tersebut memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan melalui perbaikan fasilitas, penguatan tata kelola, serta penguatan riset yang relevan dengan kebutuhan nasional.
Upaya tersebut diyakini akan memperkuat ekosistem kedirgantaraan nasional sekaligus mendorong lahirnya inovasi strategis yang berkontribusi bagi kemajuan Indonesia di bidang antariksa. (Sumber: brin.go.id)
Technology Forecasting Perkuat Arah Riset Kedirgantaraan Nasional
