WIKIN, Platform Digital Interaktif untuk Tingkatkan Literasi Nuklir Masyarakat

Loading

TechnologyIndonesia.id – Upaya meningkatkan literasi publik mengenai teknologi nuklir terus dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Salah satu langkah terbarunya hadir melalui pengembangan prototipe platform digital interaktif bernama Website Komunitas Nuklir Interaktif Indonesia (WIKIN) yang digagas oleh Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) BRIN.

Platform ini dirancang bukan sekadar sebagai pusat informasi, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi yang memungkinkan masyarakat berpartisipasi aktif dalam diskusi dan pengembangan pengetahuan terkait teknologi nuklir.

Kehadiran WIKIN diharapkan dapat menjadi jembatan antara komunitas ilmiah, pemerintah, dan masyarakat umum dalam membangun pemahaman yang lebih baik mengenai pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia.

Pengembangan WIKIN menjadi semakin relevan di tengah kebutuhan masyarakat akan akses informasi yang cepat, akurat, dan mudah dipahami. Selama ini, isu-isu terkait nuklir sering kali dipandang kompleks dan hanya dipahami oleh kalangan tertentu. Akibatnya, ruang dialog publik mengenai teknologi ini masih relatif terbatas.

Dosen Poltek Nuklir BRIN sekaligus pengembang utama WIKIN, Halim Hamadi menyatakan bahwa meskipun saat ini masih dalam tahap prototipe, platform ini memiliki misi besar sebagai jembatan komunikasi sains yang inklusif.

“WIKIN dirancang untuk mendobrak batasan informasi. Fokus kami pada tahap prototipe ini adalah memastikan sistem yang tangguh dan mudah diakses, sehingga ke depannya masyarakat dapat terlibat secara substantif dalam diskursus teknologi nuklir,” ungkap Halim dilansir dari laman brin.go.id pada Rabu (10/6/2025).

Pengembangan prototipe ini didasari urgensi kebutuhan akan kanal komunikasi dua arah. Selama ini, diseminasi informasi terkait nuklir di Indonesia dinilai masih bersifat searah dan didominasi aspek regulatif, sehingga partisipasi aktif masyarakat cenderung terbatas.

Menurut Halim, selama ini diseminasi informasi mengenai teknologi nuklir di Indonesia masih cenderung berjalan satu arah dan lebih banyak berfokus pada aspek regulasi. Kondisi tersebut membuat partisipasi publik belum berkembang secara optimal.

Melalui WIKIN, BRIN berupaya mengubah pola komunikasi tersebut menjadi lebih interaktif. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat berdiskusi, bertukar pandangan, dan berkolaborasi dengan para peneliti maupun pemangku kepentingan lainnya.

Konsep ini menjadi penting karena perkembangan teknologi modern membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari proses pembangunan ilmu pengetahuan. Dengan komunikasi yang lebih terbuka, kepercayaan publik terhadap riset dan inovasi juga dapat meningkat.

Pendekatan yang Berpusat pada Pengguna

Dalam pengembangannya, WIKIN menggunakan kerangka kerja laravel dan menerapkan pendekatan user-centered design atau desain yang berpusat pada pengguna. Pendekatan ini memastikan bahwa kebutuhan dan kenyamanan pengguna menjadi prioritas utama sejak tahap perancangan.

Selain itu, platform dirancang secara modular sehingga memungkinkan pengembangan fitur baru secara lebih fleksibel di masa mendatang. Struktur ini memberikan ruang bagi WIKIN untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan pengguna dan perkembangan teknologi digital.

Pada fase prototipe, sejumlah fitur utama telah diintegrasikan. Salah satunya adalah Pusat Informasi dan Narasi Ilmiah, yang berfungsi sebagai kanal penyebaran berita, artikel, dan informasi literasi nuklir yang telah diverifikasi.

Fitur lainnya yaitu Forum Diskusi Interaktif sebagai ruang kolaborasi antara peneliti, pemangku kepentingan, dan masyarakat umum. WIKIN juga dilengkapi Modul Manajemen Komunitas untuk fasilitasi pembentukan jejaring penggiat teknologi nuklir. Tersedia juga Portal Pengabdian Masyarakat sebagai integrasi kegiatan berbasis teknologi nuklir untuk kepentingan publik.

Berdasarkan parameter pengujian teknis, prototype WIKIN menunjukkan hasil yang impresif. Pengujian fungsional melalui metode black-box testing pada 27 fitur utama mencatatkan tingkat keberhasilan 100 persen.

Selain itu, evaluasi pengalaman pengguna menggunakan metode System Usability Scale (SUS) menghasilkan nilai rata-rata 74,8. Skor tersebut menempatkan WIKIN dalam kategori “Baik” (Good).

Hal ini yang mengindikasikan bahwa sistem memiliki tingkat aksesibilitas yang tinggi dan dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat tanpa hambatan latar belakang pendidikan maupun rentang usia.

Raih Pengakuan di Tingkat Nasional

Meski masih berada pada tahap prototipe, WIKIN telah menunjukkan potensi yang menjanjikan. Platform ini bahkan pernah mengikuti Kompetisi Mahasiswa Informatika Politeknik Nasional (KMIPN) dan berhasil masuk dalam nominasi Best System.

Halim menerangkan bahwa rencana strategis selanjutnya mencakup eskalasi fitur, mulai dari integrasi layanan webinar, pengembangan aplikasi berbasis mobile, hingga penerapan elemen gamifikasi untuk menjangkau generasi muda.

Untuk menjaga integritas data, penguatan sistem moderasi konten akan menjadi prioritas sebelum platform ini diluncurkan secara penuh ke publik.

“Melalui pengembangan prototipe ini, BRIN berharap WIKIN dapat menjadi tolok ukur (benchmark) baru bagi platform komunikasi sains yang transparan dan berkelanjutan di Indonesia,” pungkas Halim. (Sumber: brin.go.id)

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *