Pencemaran Pestisida di Cisadane Meluas 22,5 Km, Peneliti BRIN Ungkap Strategi Mitigasi Darurat

TechnologyIndonesia.id – Insiden pencemaran di Sungai Cisadane akibat dugaan tumpahan sekitar 2,5 ton pestisida menjadi alarm serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Dampak pencemaran dilaporkan meluas hingga radius 22,5 kilometer, mencakup wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, hingga Kota Tangerang Selatan.

Peneliti Ahli Utama Bidang Teknik Lingkungan dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Ignasius D.A. Sutapa menegaskan bahwa kasus ini merupakan krisis ekologis yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi.

Menurutnya, Sungai Cisadane merupakan arteri vital yang menopang kebutuhan air baku, irigasi, serta ekosistem perairan di kawasan padat penduduk dan industri.


“Selama ini, sungai tersebut memang disinyalir menghadapi persoalan pencemaran kronis dari limbah domestik, industri, dan pertanian. Namun, insiden kali ini bersifat akut karena melibatkan volume besar zat beracun yang masuk secara tiba-tiba ke badan air,” ujar Ignas dikutip dari laman brin.go.id pada Sabtu (14/02/2026).

Penyebaran Pestisida

Ignas menjelaskan, penyebaran pestisida hingga 22,5 kilometer terjadi akibat mekanisme hidrodinamika sungai. Ketika beban pencemaran dalam jumlah besar masuk secara mendadak, kapasitas alami sungai untuk melakukan dilusi dan asimilasi terlampaui. Kontaminan kemudian terbawa arus melalui proses dispersi dan difusi mengikuti debit aliran sungai.

Karakteristik kimia pestisida turut mempercepat penyebaran. Jika zat tersebut memiliki kelarutan tinggi dalam air dan relatif stabil dalam lingkungan perairan, maka konsentrasinya dapat bertahan cukup lama untuk menyebar secara homogen sepanjang koridor sungai.

“Kondisi ini memungkinkan wilayah hilir, termasuk lokasi pengambilan air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), ikut terdampak,” lanjutnya.

Dampak Ekologis

Dampak ekologis dari pencemaran ini dinilai sangat serius. Konsentrasi pestisida yang tinggi dapat menyebabkan kematian massal biota air seperti ikan, zooplankton, dan fitoplankton. Insiden ikan mati mendadak kerap menjadi indikator paling jelas adanya pencemaran toksik di perairan.

Selain toksisitas akut, Ignas menyoroti potensi bioakumulasi dan biomagnifikasi. Residu pestisida atau metabolitnya dapat terakumulasi dalam jaringan organisme air. Selanjutnya, residu pestisida berpindah ke predator tingkat lebih tinggi, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai tersebut.

Risiko ini membuat pencemaran tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek kesehatan kronis.

Kontaminasi juga dapat mencapai sedimen dasar sungai dan menjadi sumber pelepasan racun sekunder dalam jangka waktu lebih lama. Artinya, meskipun air permukaan tampak kembali jernih, ancaman toksik masih dapat tersimpan di lapisan sedimen dan terlepas kembali ke kolom air dalam kondisi tertentu.

Dari sisi kesehatan masyarakat, paparan pestisida bisa terjadi melalui kontak langsung seperti mandi dan mencuci, maupun secara tidak langsung melalui konsumsi air baku atau ikan yang telah tercemar.

Ignas menjelaskan bahwa jenis pestisida tertentu, terutama yang bersifat neurotoksik, dapat menyebabkan gejala akut seperti mual, pusing, gangguan saraf, hingga kematian tergantung dosis paparan.

“Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan risiko karsinogenik,” ungkapnya.

Mitigasi Jangka Pendek

Untuk mitigasi jangka pendek, Ignas merekomendasikan penutupan sementara intake air baku PDAM di zona terdampak dan peningkatan pemantauan kualitas air secara real-time. Selain itu, perlu adanya edukasi cepat kepada masyarakat agar tidak menggunakan air sungai untuk keperluan apa pun sampai dinyatakan aman.

Upaya netralisasi atau remediasi in-situ juga perlu dilakukan jika sumber pencemaran masih teridentifikasi.

Sebagai lembaga riset nasional, BRIN melalui Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air memiliki peran penting dalam membantu mengidentifikasi jenis dan konsentrasi pestisida dan memodelkan penyebaran kontaminan.

BRIN juga berperan memberikan rekomendasi teknologi pengolahan air baku yang efektif bagi PDAM terdampak. Selain itu, BRIN dapat mengukur dampak toksikologi pada biota lokal dan memprediksi waktu pemulihan ekosistem.

Strategi Jangka Panjang

Ignas menekankan pentingnya strategi jangka panjang, mulai dari penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran B3, pembangunan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air online, hingga diversifikasi sumber air baku untuk meningkatkan ketahanan air saat terjadi krisis.

Restorasi ekosistem sungai melalui rehabilitasi zona riparian juga menjadi langkah krusial untuk meningkatkan kapasitas alami sungai dalam menyaring polutan.

BRIN mengimbau kepada masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi pemerintah dan PDAM.

“Jangan menggunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi sampai ada pernyataan bahwa air telah aman. Hindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak selama masa krisis,” tegas Ignas.

Ia juga meminta masyarakat aktif melaporkan hal mencurigakan di sepanjang sungai kepada pihak berwenang demi mencegah kejadian serupa terulang kembali. (Sumber: brin.go.id, ilustrasi: ChatGPT)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author