Abrasi Pantai Ancam Tambak Udang, BRIN Kembangkan Teknologi Pemantauan Kualitas Air Berbasis IoT

Technology-Indonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Pancasakti (UPS) Tegal mengembangkan teknologi pemantauan kualitas air berbasis Internet of Things (IoT) guna memperkuat budidaya udang di kawasan pesisir yang rentan abrasi. Inovasi ini diharapkan mampu membantu petambak menjaga produktivitas sekaligus menghadapi perubahan lingkungan yang semakin dinamis akibat abrasi pantai.

Teknologi tersebut memungkinkan kondisi tambak dipantau secara real-time melalui sistem digital sehingga petambak dapat mengambil keputusan lebih cepat dan akurat ketika terjadi perubahan kualitas air yang berpotensi mengganggu pertumbuhan udang.

Pengembangan sistem ini menjadi penting mengingat kawasan pesisir timur Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, terus menghadapi ancaman abrasi pantai yang memengaruhi keberlanjutan usaha budidaya udang. Perubahan garis pantai, intrusi air laut, hingga fluktuasi suhu membuat kualitas air tambak semakin sulit dikendalikan.

Padahal, kualitas air merupakan faktor utama dalam menentukan pertumbuhan dan kesehatan udang, khususnya udang vaname yang menjadi komoditas unggulan budidaya perikanan nasional.

Data penelitian menunjukkan wilayah pesisir timur Brebes sepanjang 15 kilometer telah kehilangan sekitar 812 hektare lahan akibat abrasi pada periode 1963 hingga 1990.

Meskipun program rehabilitasi mangrove yang dilakukan sejak 2004 hingga 2024 berhasil memulihkan ratusan hektare kawasan pesisir, ancaman perubahan lingkungan masih menjadi tantangan bagi para petambak dalam menjaga produktivitas usaha budidaya.

Inovasi tersebut merupakan hasil penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Thalassas: An International Journal of Marine Sciences pada tahun 2026. Penelitian dilaksanakan di kawasan tambak udang pesisir timur Brebes selama periode Mei hingga Oktober 2025.

Peneliti Kelompok Riset Teknologi Perencanaan dan Pengelolaan Kawasan Pesisir, Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN, Alin Fithor, menjelaskan bahwa sistem yang dikembangkan memanfaatkan mikrokontroler ESP32, sensor suhu DS18B20, sensor pH, jaringan komunikasi LoRa, dan perangkat Arduino Weather Station.

“Perangkat-perangkat tersebut bekerja secara otomatis mengukur kondisi air tambak dan mengirimkan data ke sistem pemantauan digital sehingga dapat diakses secara langsung oleh pengguna melalui platform berbasis IoT,” jelas Alin pada Selasa, (26/5/2026).

Menurutnya, budidaya udang di kawasan pesisir yang mengalami abrasi memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi dibandingkan tambak pada kondisi normal. Intrusi air laut, perubahan suhu, serta kondisi tambak yang tidak stabil dapat memengaruhi kualitas air dan meningkatkan risiko gangguan terhadap kesehatan udang.

“Karena itu, sistem pemantauan secara real-time menjadi penting untuk mendukung pengelolaan tambak yang lebih efektif dan berbasis data,” ujarnya.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kualitas air tambak selama masa pengamatan berada dalam kondisi optimal bagi pertumbuhan udang vaname. Nilai pH air tercatat berkisar antara 7,96 hingga 8,31, sedangkan suhu air berada pada rentang 29,25 hingga 29,87 derajat Celsius. Angka tersebut masih berada dalam kisaran optimal untuk mendukung pertumbuhan, metabolisme, dan kesehatan udang. 

Selain memberikan data kualitas air secara akurat, sistem IoT juga mampu berfungsi sebagai alat deteksi dini terhadap perubahan lingkungan yang berpotensi mengganggu produktivitas tambak, seperti penurunan kualitas air, perubahan suhu ekstrem, maupun dampak abrasi pesisir.

“Dibandingkan metode pemantauan manual yang masih banyak digunakan petambak tradisional, sistem ini memungkinkan pemantauan dilakukan secara berkelanjutan sehingga respons terhadap perubahan kondisi lingkungan dapat dilakukan lebih cepat,” kata Alin.

Penerapan teknologi digital tersebut sejalan dengan konsep Smart Aquaculture atau akuakultur cerdas yang memanfaatkan teknologi dan data untuk meningkatkan efisiensi budidaya. Sistem ini juga mendukung konsep Eco-Coastal Farming atau budidaya pesisir berkelanjutan karena membantu petambak menjaga keseimbangan antara produktivitas usaha dan kelestarian lingkungan.

Dengan pemantauan yang dilakukan secara terus-menerus, risiko kematian udang dapat ditekan, produktivitas meningkat, dan keberlanjutan ekosistem pesisir tetap terjaga.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Indonesia mulai mengikuti tren global dalam pengembangan akuakultur berbasis teknologi. Negara-negara seperti Norwegia, India, dan Vietnam telah lebih dahulu menerapkan sistem pemantauan kualitas air berbasis IoT untuk mendukung industri perikanan modern.

“Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat ketahanan sektor perikanan terhadap perubahan lingkungan,” Alin menambahkan.

Sebagai tindak lanjut, tim peneliti merekomendasikan pengembangan aplikasi notifikasi pada telepon genggam petambak agar sistem dapat memberikan peringatan dini secara otomatis ketika kualitas air mengalami perubahan signifikan.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat transformasi budidaya tambak menuju sistem perikanan yang lebih modern, produktif, dan berkelanjutan. (Sumber: brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author