Rejang Lebong, Technology-Indonesia.com – Serangan hama lalat buah baru-baru ini di Provinsi Bengkulu membuat petani jeruk keprok Rimau Gerga Lebong atau lebih dikenal dengan jeruk RGL merugi sekitar 20%.
Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu, Yudi Sastro dalam pertemuan audiensi dengan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong (19/02/2020) mengatakan lalat buah merupakan ancaman yang sangat serius terhadap pengembangan jeruk RGL di Provinsi Bengkulu. “Diperlukan usaha yang lebih keras untuk mengatasi kendala tersebut,” tuturnya.
Dua tahun terakhir ini BPTP Bengkulu menerapkan beberapa inovasi teknologi unggulan Badan Litbang Pertanian. “Penerapan inovasi tersebut perlu dilakukan secara massal di kawasan pengembangan sehingga berdampak positif dalam pengendalian hama tersebut,” terangnya.
Kejadian luar biasa tersebut juga mendorong BPTP Bengkulu untuk bersinergi menanggulangi masalah tersebut dengan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro).
Sebagaimana diketahui, Jeruk RGL menjadi ikon buah lokal khas Bengkulu. Tampilan warna yang cantik tidak kalah jika harus disandingkan dengan buah impor. Selain itu ukuran buah yang besar dan dengan rasa yang manis segar menjadikan jeruk ini sangat potensial untuk dikembangkan.
Keunggulan lain dari jeruk varietas RGL adalah dapat berbuah sepanjang tahun dengan panen puncak pada Mei, Juni, Juli atau pun Oktober, November, Desember.
Dalam audiensi tersebut, Kepala Seksi Pelayanan Teknis Balitjestro, Anang Triwiratno bersama tim memaparkan langkah-langkah pengendalian hama lalat buah. “Langkah-langkah pengendalian lalat buah antara lain dengan mengurangi sumber perbanyakan serangganya karena lalat buah meletakkan telur pada buah yang siap panen,” katanya.
Anang menambahkan, buah jeruk yang jatuh sudah pasti terkena serangan lalat buah karena siklus hidupnya. “Mari kita sosialisasikan kepada petugas dan petani untuk bergerak bersama menanggulangi serangan hama tersebut dengan mengubur buah yang jatuh dan menggunakan insektida kontak,” kata Anang.
Menyambut baik kegiatan tersebut, Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong siap mendukung kegiatan pengembangan jeruk RGL itu. “Program dinas terkait pengembangan jeruk RGL juga akan disinergikan dengan BPTP Bengkulu dan Balitjestro,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong.
Saat ini pengembangan jeruk RGL di Kabupaten Rejang Lebong telah mencapai 500 hektare (ha) dengan 300 ha diantaranya sudah berbuah dengan produktivitas 70 kg/pohon.
Salah satu petani jeruk RGL di Desa PAL VII, mengaku kualitas jeruk mereka masih kurang baik karena banyak terserang lalat buah. “Petani masih sangat membutuhkan pendampingan teknologi, petani belum semuanya paham bahwa pengendalian hama dan penyakit itu harus dilakukan terpadu dan menyeluruh,” katanya.
Peningkatan produktivitas dan kualitas jeruk RGL bukan hanya mimpi. Sinergi dan kekompakan semua pihak sangat diperlukan untuk mendukung pengembangan kawasan jeruk di Kabupaten Rejang Lebong.