TechnologyIndonesia.id – Selama ini, Yogyakarta dikenal sebagai Kota Pelajar, sementara Bali identik dengan kampus bertaraf internasional. Namun, peta pendidikan tinggi di Indonesia kini mulai bergeser. Data terbaru menunjukkan bahwa Sumatera Utara (Sumut) justru mencatatkan prestasi mengejutkan.Â
LLDIKTI Wilayah I yang membawahi perguruan tinggi swasta (PTS) di Sumut mencatat bahwa wilayah ini memiliki jumlah institusi perguruan tinggi (IPT) berpredikat Unggul terbanyak di luar Pulau Jawa, melampaui Yogyakarta maupun Bali.
Fakta itu disampaikan Kepala LLDIKTI Wilayah I Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Prof. Saiful Anwar Matondang dalam pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) LLDIKTI Wilayah I Tahun 2026 di Hotel Sinabung Hills, Berastagi, Kamis (9/4/2026).Â
Ia menyampaikan bahwa 12 IPT di bawah LLDIKTI Wilayah I kini berstatus Akreditasi Unggul, melampaui LLDIKTI Yogyakarta dengan 11 PT Unggul dan Bali dengan 9 PT Unggul.
Pada 2023, belum ada satu pun program studi di Sumatera Utara yang berstatus unggul. Namun dalam waktu singkat, jumlahnya melonjak drastis.
“Update terakhir sudah ada 109 program studi yang Unggul dan 12 institusi perguruan tinggi yang Unggul. Jadi bertambah 11. Dan yang luar biasa, kita melampaui Jogja dan Bali, jadi mari kuliah dekat rumah saja!,” ujar Prof. Saiful dengan nada bangga.
Efek Ganda: Dari Kampus ke Ekonomi Lokal
Dampak dari bertambahnya kampus Unggul di Sumut tidak hanya dirasakan di dunia akademik. Ketika mahasiswa dari luar provinsi memilih kuliah di Sumatera Utara, efek bergandanya langsung dirasakan masyarakat sekitar kampus.
“Ini suatu kesyukuran karena multiayer effect-nya kepada masyarakat, kepada UMKM, laundry, rumah makan, tempat kos. Tidak lagi ke Jogja, tapi ke kita,” katanya.
Prof. Saiful pun menyerukan agenda bersama yang lebih ambisius yaitu menjadikan Sumut sebagai tujuan utama pendidikan tinggi, bukan sekadar alternatif dari Jawa.
“Tidak ada lagi masyarakat Sumatera Utara yang harus kuliah di Jawa. Harusnya kuliah di kita saja. Itu target kita bersama-sama,” tegas Prof. Dadan Ramdan, Rektor Universitas Medan Area mengamini seruan tersebut.
Tantangan Kultural untuk Kuliah di Luar Kota
Di balik capaian gemilang itu, Prof. Saiful tidak menutup mata terhadap pekerjaan rumah yang masih besar. Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi Sumatera Utara saat ini baru menyentuh 32,5 persen dari lulusan SMA tahun 2025, tertinggal dari Aceh yang mencapai 40 persen dan masih di bawah rata-rata nasional.
Penyebabnya bukan semata kapasitas kampus, melainkan pola pilihan keluarga kelas menengah atas Sumut yang secara kultural masih mengarahkan anak mereka ke Jawa, Malaysia, bahkan Singapura. Prof Saiful mengakui hal tersebut juga terjadi dalam keluarganya.
“Orang Sumatera Utara kelas menengah ke atas itu tidak mau anaknya kuliah di Medan. Anaknya kuliah ke Jawa, ke Bandung, ke Jakarta, ke Jogja, Surabaya. Termasuk saya — dua anak saya tidak kuliah di Medan. Yang paling besar di Malaysia dulu S1-nya, yang kedua di Jogja,” ungkapnya, disambut tawa peserta.
Ia menyampaikan kondisi itu langsung ke kementerian sebagai realita yang perlu direspons dengan kebijakan, bukan diabaikan. Solusinya satu: kualitas kampus Sumatera Utara harus terus didorong hingga menjadi pilihan pertama, bukan pilihan terakhir.
Kampus Swasta Menjangkau Hingga Pelosok Kabupaten
Prof. Saiful menyoroti keunggulan strategis PTS Sumatera Utara yang menjangkau hingga ke kabupaten-kabupaten terpencil. PTN mayoritas terkonsentrasi di Medan, sementera PTS tersebar hingga Nias Selatan dan Mandailing Natal.
“Kalau PTN dia semuanya hampir di Medan. Tapi kita ada di Nias Selatan, ada di Mandailing Natal. Jadi anak-anak bangsa yang di kabupaten kota itu bisa mengenyam pendidikan karena kita ada di kabupaten,” jelasnya.
Kondisi ini selaras dengan makna inklusif dalam tema Rakerwil tahun ini yaitu “Pendidikan Tinggi Inklusif, Adaptif, dan Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045.” Inklusif bukan hanya soal keterjangkauan biaya, tetapi soal keterjangkauan jarak — dari desa hingga kota, seluruh anak bangsa harus bisa masuk perguruan tinggi.
Rakerwil LLDIKTI Wilayah I 2026 pada 9–10 April 2026, dengan puncak acara berupa Penyerahan Anugerah LLDIKTI Wilayah I Tahun 2025.
Kampus Unggul di Sumut Lampaui Yogyakarta dan Bali, LLDIKTI I Ajak Masyarakat Kuliah Dekat Rumah
