KIPA dan LIPI Kaji Teknologi Biofuel untuk ASEAN

alt
 
Jakarta, Technology-Indonesia.com –  Korea Selatan dan Indonesia merupakan negara yang menaruh perhatian lebih pada pengembangan teknologi biofuel. Kedua negara ini menjalin kerja sama pengembangan teknologi biofuel untuk menghasilkan energi baru terbarukan berkelanjutan. 
 
Untuk mengkaji perkembangan kebijakan biofuel dan tren Intelectual Property (IP) terkait teknologi biofuel, lembaga riset kedua negara yaitu The Korean Invention Promotion Association (KIPA) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar The 2nd Seminar of Biofuel and IP Policy Consultation pada Selasa (27/2/2018) di Jakarta.
 
Plt Kepala LIPI, Bambang Subiyanto mengungkapkan seminar kedua ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia, Korea Selatan, dan ASEAN akan pentingnya energi terbarukan, khususnya biofuel. Melalui diskusi para ahli diharapkan bisa memprediksikan bagaimana perkembangan IP dan masa depan teknologi biofuel untuk pemenuhan kebutuhan energi masyarakat.
 
“Harapan kami, dalam seminar ini diperoleh tukar informasi teknologi untuk penguatan biofuel ini serta terbangun suatu industri untuk biofuel di ASEAN. Dalam diskusi dan seminar ilmiah ini akan banyak masukan-masukan dan tukar informasi mengenai industri biofuel ini seperti apa,” terang Bambang. 
 
Seminar yang berlangsung selama 3 hari ini merupakan program lanjutan antara 10 negara anggota ASEAN dan Republic of Korea (ROK). Para ahli di bidang properti intelektual, teknologi hijau, energi terbarukan, dan komersialisasi teknologi akan mempresentasikan dan membahas isu-isu penting yang berkaitan dengan status terkini dari kebijakan biofuel dan kemajuannya. 
 
Seminar ini akan membahas beberapa perkembangan isu terkini antara lain terkait perkembangan kebutuhan masyarakat pada teknologi biofuel dan tantangan di masa depan, konsultasi dan saling berbagi ilmu pengetahuan terkait pengelolaan IP. 
 
Menurut Bambang, LIPI telah melakukan berbagai kegiatan penelitian biofuel skala pilot dan belum ekonomis. Ia menekankan bahwa penelitian dan pengembangan yang dilakukan LIPI tidak boleh berbenturan dengan kepentingan pangan. Karena itu, LIPI mengembangkan biofuel dari algae, tandan kosong dan batang kelapa sawit, maupun  POME (palm oil mill effluent). 
 
Direktor Bioenergi, Ditjen EBTKE Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Andriah Feby Misna mengatakan pemerintah telah memiliki kebijakan untuk meningkatkan penerapan dari renewable energi. Targetnya, bisa meningkatkan pemanfaatan renewable energi 23% pada tahun 2025 dan untuk biofuel ditargetkan bisa diproduksi 13,8 juta kilo liter pada 2025. 
 
“Kegiatan penelitian ini pastinya mendorong upaya-upaya untuk bisa menemukan teknologi yang lebih efisien dan ekonomis dalam memproduksi biofuel yang saat ini masih di anggap mahal daripada energi fosil atau BBM,” terangnya.
 
Menurut Feby, biofuel dibagi menjadi biodiesel untuk pengganti solar dan bioetanol untuk pengganti bensin. Penggunaan biodiesel dari kelapa sawit sudah dilakukan sejak tahun 2006. Pada tahun 2006 hingga 2013, Indonesia sudah menerapkan B2,5 hingga B7,5. Artinya blending atau pencampuran 2,5% biodiesel di dalam solar.  Selanjutnya pada 2013-2015 diterapkan B10, dan mulai April 2015 sudah diterapkan B15 untuk biodiesel. Bahkan pada 2016, Indonesia sudah mulai penerapan B20. 
 
“Jadi untuk biodiesel ini Indonesia termasuk advance dibandingkan negara-negara lain karena pencampuran sudah mencapai B20. Kalau di luar mungkin hanya B5 sampai B10. Kita harapkan mandatori ini terus dilanjutkan. Pada tahun 2020 kita akan mewajibkan 30%,” terang Feby.
 
Untuk bioetanol, Feby mengakui, saat ini perkembangannya tidak seperti biodiesel. Namun pemerintah punya komitmen untuk menghidupkan bioetanol ke depannya nanti.
 
Penyelenggaraan seminar ini diharapkan kolaborasi kedua negara mampu menumbuhkan kepedulian pada energi baru dan terbarukan. Hal ini akan menjadi fondasi kuat untuk mendorong kerja sama antar negara anggota ASEAN, Republik Korea dan pelaku bisnis terkait. Hasil seminar ini diharapkan memberikan tambahan ilmu pengetahuan bagi setiap negara yang mengikuti serta membuat gagasan terkait penggunaan teknologi biofuel saat ini dan masa depan.
 
Topik yang akan dibahas dalam seminar diantaranya visi komunitas ASEAN 2025, masa depan Paris Agreement tentang Perubahan Iklim dan ASEAN, tren kebijakan dan industri bio-energi, strategi komersialisasi teknologi biofuel, tantangan teknologi biofuel dan IP, tantangan dalam produksi biofuel, dan lain-lain. Dalam kegiatan ini juga akan digelar Lokakarya Metodologi Pengembangan dan Model Bisnis untuk Komersialisasi Teknologi Biofuel.
Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author